Perjalanan Panjang Bag. 9

Kurang lebih dua pekan lagi HPL-ku. Aku mulai menjalankan rencana yang sudah kususun sejak jauh hari.

Pada tanggal 14 dan 15 Desember, aku masak besar. Menyiapkan cadangan lauk untuk anak-anak.

Menu yang akhirnya kubuat adalah:

1. Rendang ayam

2. Rica ceker

3. Semur ayam

4. Tongkol suwir




Kupisah dalam beberapa wadah thinwall untuk sekali makan. Tiap wadah ada 3 porsi. Total ayam yang kumasak kurang lebih 2,5 kg. 

Selain itu, aku juga menyiapkan abon, beberapa mi instan, telur, dan menu frozen. Untuk nasi beku, aku batal membuatnya. Alasannya menyebalkan: rice cooker di rumah rusak. Untuk sementara waktu, aku harus memasak nasi dengan cara manual.

Sejujurnya, jika mengingat masa itu, aku ingin menangis. Dengan kondisi perut yang sudah sangat buncit dan tubuh yang cepat lelah, hidup tanpa “kemewahan” teknologi terasa begitu menjengkelkan. Alhamdulillah, beberapa hari sebelum aku melahirkan, aku berhasil membujuk suamiku untuk memperbaiki rice cooker. Dengan sedikit paksaan, tentunya. Setidaknya, selama aku di RS nanti, anak-anak tetap bisa makan dengan nyaman.

Memasak lauk dalam jumlah besar di usia kehamilan tua rasanya sungguh “mantap”. Saat itu aku sudah mulai kesulitan berjalan. Setiap melangkah, atau membuka kaki sedikit lebih lebar, tulang pangkal pahaku terasa nyeri sekali. Kadang air mata refleks keluar, menahan rasa sakitnya. Namun bagaimana lagi? Kondisi yang tidak ideal ini harus tetap kuhadapi.

Di akhir trimester tiga ini, suamiku cukup sering pergi jauh. Beberapa kali ia harus menginap di luar kota. Aku tidak bisa terlalu banyak mengandalkannya. Jujur saja, sempat terlintas di kepalaku untuk mencari asisten rumah tangga, saking lelahnya. Namun niat itu kembali kuurungkan. Dalam kondisi fisik yang tidak karuan, aku justru membutuhkan kondisi mental yang tetap stabil. Dan caraku menjaganya adalah dengan tidak terlalu banyak berinteraksi dengan orang lain, serta tidur sebanyak mungkin.

Rumahku mungil, dan aku sangat sensitif terhadap suara apa pun --keberadaan orang lain yang bekerja di dalam rumah akan membuatku tidak enak hati dan terus terjaga. Saat ada orang asing, aku juga reflek duduk dengan posisi baik, yang mana kurang nyaman untuk kondisiku saat itu.

Jadi, aku memilih untuk mempertahankan privasiku. Tak mengapa mengerjakan semuanya, setidaknya saat anak-anak berangkat sekolah, aku masih punya ruang untuk banyak tidur dan menyepi.

Aku mencetak tutorial dan panduan keamanan untuk anak-anak: cara menggunakan mesin cuci, menjemur dan mengangkat jemuran, melipat pakaian, serta memanaskan lauk. Panduan keamanan dapur, rumah, dan penanganan ketika terluka juga sudah kubuat.








Semua itu kubahas bersama anak-anak. Kami mempraktikkan hal-hal yang perlu, lalu kutambahkan poin-poin lain yang belum sempat kutulis.

Bagi sebagian orang, apa yang kulakukan mungkin terlihat mengagumkan. Namun bagi sebagian yang lain, bisa jadi aku dianggap mempersulit diriku sendiri.

Aku pernah mendengar kisah seorang ibu yang melahirkan, meninggalkan anak-anaknya di rumah dalam keadaan tidur, lalu bertawakal penuh dengan menitipkan semuanya kepada Allah. Saat suaminya pulang keesokan paginya, anak-anak itu masih tidur dengan nyenyak. Aku kagum mendengar cerita tersebut.

Tanpa bermaksud mendiskreditkan pilihan siapa pun, aku memilih bentuk tawakalku sendiri: memaksimalkan ikhtiar. Aku bersyukur ada ilmu kebidanan dan mesin USG yang bisa memperkirakan HPL, sehingga tipe perencana sepertiku dapat menyiapkan banyak hal untuk menghadapi kemungkinan terburuk.

Dan aku tidak menyesal mempersiapkan semuanya. Detailnya, insya Allah, akan kuceritakan di bagian lain.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

15 Kata-Kata Bahasa Arab Sedih dan Artinya [+Gambar]

35 Quotes About Love dan Artinya

Review: All Creatures Great and Small by James Herriot