Me-nol-kan Ekspektasi (Kembali)
Hidup dengan ekspektasi itu melelahkan. Setidaknya itu yang aku rasakan. Sesekali, ketika sedang muhasabah diri, aku mendapati bahwa sumber kelelahan yang sering datang justru berasal dari terlalu percaya dan bertumpu pada ekspektasi. Mungkin bagi sebagian orang, kecewa oleh ekspektasi yang tidak terpenuhi terdengar klise, naif, bahkan bodoh. Namun nyatanya, banyak orang yang tidak benar-benar bisa membedakan antara harapan dan ekspektasi. Batasnya tipis, samar, dan mudah sekali membuat kita nyasar. Dan di antara orang-orang itu, adalah aku. Itulah mengapa aku pernah menulis tentang “nol ekspektasi” beberapa waktu lalu. Namun hari ini, pembahasannya ingin aku persempit pada tentang ekspektasi kepada anak. Sebagai orang tua dengan anak-anak yang berbeda watak dan bakatnya, aku menyadari bahwa aku memiliki ekspektasi yang berbeda pula pada masing-masing dari mereka. Pada anak yang terlihat tekun belajar dan cepat menghafal, misalnya, aku berekspektasi ia akan meraih peringkat tinggi di k...