Postingan

Perlahan Menemukan (Kembali) Ritmeku

Setiap menjalani peran tambahan dalam hidup, hampir semua orang akan mengalami gangguan pada ritme hariannya. Contohnya orang yang semula bekerja di rumah lalu harus ke kantor. Atau seseorang yang naik pangkat atau mendapat jobdesk baru. Bisa juga ketika ikut program baru, memulai membangun kebiasaan baik, atau pindah ke lingkungan yang asing. Semua itu ujian penyesuaian. Normal dan sering terjadi.  Aku pun merasakannya sebagai seorang ibu yang baru melahirkan bayi. Meski ini anak keempatku, tetap saja ada rasa yang berbeda. Sebab hadirnya satu anggota keluarga baru selalu mengubah banyak hal. Hamil besar, melahirkan, dan pemulihan pasca operasi sesar adalah rangkaian peristiwa yang membuat jadwal harianku harus disesuaikan dengan kondisi yang ada. Satu bulan berlalu setelah melahirkan, alhamdulillah perlahan ritme hidupku mulai lebih teratur. Berikut ini adalah cara-cara yang kulakukan dalam proses OTW mengembalikan ritmeku. Bukan ke ritme lama, tapi ritme yang membuatku nyaman....

Always On

Aku membuka Threads setelah selesai menyusui anakku dan mendapati satu utas menarik. Bentuknya pertanyaan: “Kenapa kalo ibu-ibu dibangunin, ditoel dikit langsung loncat dari kasur ampe yg bangunin juga kaget? Please jangan jawab secara medis." Banyak ibu muda dan tua merespons. Dan aku terharu. Ternyata, tidak hanya aku yang selalu berada dalam mode always on. Banyak dan mungkin ibu-ibu sedunia merasakannya.  “Always on” mengingatkanku pada jargon kartu telekomunikasi yang dulu sempat aku gunakan. Sekarang, akulah yang always on itu. Sejak menjadi ibu dua belas tahun lalu, aku merasa seperti selalu terjaga. Di masa newborn, ketika tidur pun aku terbangun hanya karena mendengar rengekan anakku. Saat sedang di dapur, kamar mandi, atau ruangan lain terpisah dari anakku, aku akan langsung ke kamar begitu mendengar tangisan. Bahkan saat tidak ada tangisan. Karena bagi ibu yang punya bayi, kami punya insting bahwa sunyi lebih patut diwaspadai. Begitulah, tubuhku bergerak lebih cepat dar...

Rumah Rapi, Pikiran Ruwet

Aku pernah membaca sebuah tulisan: ketika pikiran berantakan, kita cenderung ingin membereskan rumah. Dan itu nyata terjadi padaku. Semakin banyak cabang di kepalaku, semakin kuat keinginanku melihat sekeliling rapi dan teratur. Seolah-olah, jika luar tertata, yang di dalam akan menyusul. Saat masalah batin terasa besar dan abstrak, aku merasa rumah adalah wilayah yang paling nyata. Ia bisa disentuh, dipindahkan, disusun. Ada awal dan akhir yang jelas. Berbeda dengan pikiran yang kusutnya tidak tahu dari mana, dan selesainya entah kapan. Membereskan rumah bagiku terasa seperti sulap kecil. Satu demi satu benda berpindah tempat, dan ada rasa selesai yang bisa kulihat. Sesuatu yang jarang kudapatkan saat berhadapan dengan isi kepala sendiri. Saat membersihkan rumah, rasanya seperti membuka ruang untuk pikiranku yang berdesakan. Seolah kekalutan itu dipersilakan keluar sebentar, mencari tempat duduk, lalu menunggu giliran untuk diurai. Beberes bagiku bukan sekadar rutinitas, tapi aktivita...

Perjalanan Panjang Bag.12

Gambar
Tanggal 18-25 Desember, adik iparku datang ke rumah. Ia berjaga-jaga jika aku melahirkan di rentang waktu tersebut. Lalu pada tanggal 25-29 Desember, keluargaku dari Semarang datang. Mereka sekalian mengantar adikku pulang setelah liburan. Sejujurnya, aku merasa lega. Aku bukan tipe orang yang mudah meminta tolong. Makanya sejak awal aku mempersiapkan segalanya, agar jika pun minta bantuan, aku tidak terlalu membebani. Tapi alhamdulilah bantuan datang tanpa kuminta. Orangtuaku bahkan membawa bahan masakan dari Semarang, memasakkan masakan enak untukku berhari-hari, dan mengajak anak-anakku berlibur. Aku jadi bisa beristirahat sejenak dan berfokus pada olahraga untuk memancing kontraksi.  Skenario meninggalkan anak-anak di rumah tanpa pengawasan akhirnya tidak perlu lagi kukhawatirkan. Di masa liburan--saat pesantren sedang sepi-sepinya-- alhamdulilah ada keluarga yang siap berjaga. Tentu saja, aku berharap bayiku lahir di hari-hari itu. Namun Allah memilihkan waktu yang lain, dan p...

Perjalanan Panjang Bag.11

Gambar
Di bulan ke sembilan, anak-anak memasuki masa penilaian akhir semester. Kali ini, aku mempersiapkan ujian untuk tiga anak sekaligus. Romi, dengan pelajaran yang masih sangat sederhana, tidak menyita banyak waktu. Jihan, kelas lima, yang sudah kuterapkan belajar mandiri sejak tahun lalu, biasanya hanya datang untuk melaporkan progres belajar atau menanyakan bab yang belum ia pahami. Fokus utamaku ada pada Umar, kelas tiga, yang masih membutuhkan bimbingan dan bantuan lebih intens. Alhamdulillah, dan bisa dibilang ini agak tumben, masa belajar menjelang PAS kali ini berjalan tanpa banyak drama. Tidak ada fase ngambek atau tantrum seperti yang sering terjadi sebelumnya. Aku merasa lega, sangat terbantu, dan diam-diam berterima kasih kepada anak-anak. Masa ujian anak-anak, entah mengapa, selalu menjadi masa yang menegangkan bagiku. Tanpa pernah menekan mereka untuk meraih nilai atau peringkat tertentu, aku tahu betul bahwa mereka akan merasa bangga jika tidak perlu menjalani remedial. Maka...

Perjalanan Panjang Bag.10

Sedikit kembali ke awal. Aku baru mengingat momen ini saat melihat galeri foto di ponselku. Di bulan kedelapan kehamilan, saat kontrol ke rumah sakit, aku sempat bertanya kepada dokter, “Dok, jarak dari rumah ke sini kurang lebih 45 menit. Kira-kira nanti, kalau kontraksi datang, saya menunggu sampai durasi berapa menit sekali sebelum berangkat ke RS?” Jawaban dokter cukup mengejutkanku. Ia mengatakan bahwa kendati kondisi ketuban, plasenta, dan posisi janinku dalam keadaan sangat baik, menurut pengamatannya, SBR-ku--segmen bawah rahim, alias bekas jahitan di rahim-- terlihat tipis. Kondisi itu dinilainya berisiko jika aku harus melahirkan normal. Khawatirnya akan ada robekan dalam yang akan membawa dampak kurang baik di kehamilanku selanjutnya--jika aku hamil lagi.  Tiba-tiba ia menyarankan agar aku menjalani operasi sesar pada bulan berikutnya, sekitar tanggal 28 Desember. Namun ia juga menambahkan, jika aku mengalami kontraksi alami di antara tanggal 21–25, yang berarti sebelum ...

Perjalanan Panjang Bag. 9

Gambar
Kurang lebih dua pekan lagi HPL-ku. Aku mulai menjalankan rencana yang sudah kususun sejak jauh hari. Pada tanggal 14 dan 15 Desember, aku masak besar. Menyiapkan cadangan lauk untuk anak-anak. Menu yang akhirnya kubuat adalah: 1. Rendang ayam 2. Rica ceker 3. Semur ayam 4. Tongkol suwir Kupisah dalam beberapa wadah thinwall untuk sekali makan. Tiap wadah ada 3 porsi. Total ayam yang kumasak kurang lebih 2,5 kg.  Selain itu, aku juga menyiapkan abon, beberapa mi instan, telur, dan menu frozen. Untuk nasi beku, aku batal membuatnya. Alasannya menyebalkan: rice cooker di rumah rusak. Untuk sementara waktu, aku harus memasak nasi dengan cara manual. Sejujurnya, jika mengingat masa itu, aku ingin menangis. Dengan kondisi perut yang sudah sangat buncit dan tubuh yang cepat lelah, hidup tanpa “kemewahan” teknologi terasa begitu menjengkelkan. Alhamdulillah, beberapa hari sebelum aku melahirkan, aku berhasil membujuk suamiku untuk memperbaiki rice cooker. Dengan sedikit paksaan, tentunya....