Postingan

Mengajarkan Anak Mengelola Uang Lebaran

Gambar
Idul Fitri selalu menjadi momen menyenangkan bagi semua orang. Setelah berpuasa selama sebulan, hari terakhir ditutup dengan gema takbir. Esoknya berkumpul di tanah lapang untuk salat berjamaah, dan berlanjut silaturahmi ke rumah saudara dan kerabat. Hangat suasana idul fitri selalu menjadi memori indah bagi setiap orang sejak kanak-kanak, hingga dewasa dan memiliki anak. Suatu hal yang hampir selalu ada di setiap momen lebaran adalah THR atau uang lebaran. Tuan rumah biasanya membagikan uang untuk anak-anak yang datang berkunjung. Aku masih ingat rasanya, dahulu tiap lebaran, aku seperti cosplay menjadi orang kaya, menerima amplop dan nominal yang banyak bagi anak sekecil itu. Meskipun ujung-ujungnya uang itu bukan aku yang memakainya. Uang lebaranku hampir seluruhnya selalu kuserahkan ke Mama. Lucunya, aku tak merasa keberatan saat itu. Aku paham meski tak terlihat mata, uang itu pasti digunakan sebaik-baiknya untuk kebutuhanku di masa depan. Beda generasi, beda pula prinsip dan ca...

Anak-anak dan Algoritma

"Mah, tadi pas sholat si A sujud freestyle loh. Mama tahu? Dia sujud trus kakinya diangkat ke atas." Umar pulang dari solat tarawih membawa cerita yang menggebu-gebu. Aku bertanya apa yang terjadi setelahnya. Katanya, si A kemudian ditegur oleh salah satu jamaah salat dan langsung pulang. Aku jadi teringat beberapa hari yang lalu sempat lewat video serupa di FYP media sosialku. Sontak aku menasehati Umar, "lagi ngetren ya 'sujud freestyle' itu? jangan ikut-ikutan ya, Mar." "Iya, Mah. Aku pernah coba tapi pas lagi nggak salat," jawabnya. "Nggak papa kalau lagi nggak solat, asal hati-hati ya," pesanku. Aku mengakui bahwa mendidik anak di era digital ini, subhanallah, tantangannya luar biasa. Konten kreator mencari cara bagaimana agar bisa viral, anak-anak yang belum cukup umur mengakses internet tanpa batas, dan formula kombinasinya adalah orangtua membiarkan anaknya mengonsumsi segala hal di luar pengawasan. Jujur, aku pun kerap terjebak ...

Review: Meraih Hidup Bahagia

Gambar
Identitas Buku Judul buku: Meraih Hidup Bahagia Judul asli (jika ada): الوسائل المفيدة للحياة السعيدة Penulis: Abdurrahman Bin Nashir As-Sa'di Penerjemah: Abdullah Haidir Penerbit: www.rajhiawqaf.com  Al-Rajhi Endowment Tahun terbit: 2002 Jumlah halaman: 49 Genre / tema: Nonfiksi Ulasan Buku ini membahas tentang tips-tips ringkas untuk hidup lebih bahagia. Penulis merangkum 21 poin penting yang perlu diketahui seorang muslim agar bisa lebih tenang menjalani hidup dan jauh dari kegelisahan. Tentunya di sini penulis memberikan dalil-dalil syar'i yang shahih dan dapat dipertanggungjawabkan. Sekitar belasan tahun lalu, saya sudah pernah menyimak pembahasan buku ini (versi bahasa Arab) melalui kajian di sekolah. Membaca ulang buku versi terjemahan menjadi upaya memurojaah dan berharap mendapat insight tambahan yang mungkin terlupa atau terlewat. Salah satu gagasan penting dalam buku ini adalah bagaimana regulasi emosi dapat memengaruhi kesehatan mental seseorang. Sikap t...

Ringkasan: Tips Hidup Bahagia (3)

13. Pandai Bergaul Dalam berinteraksi dengan manusia, kita pasti menemui kekurangan orang lain, sebagaimana kita juga melihat kelebihannya. Dalam pergaulan, penting untuk lebih mengingat kebaikan seseorang daripada terus memusatkan perhatian pada kekurangannya. Dengan demikian, hubungan pertemanan dapat tetap terjalin dan komunikasi berjalan dengan baik. Rasulullah ﷺ bersabda: لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً، إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا خُلُقًا آخَرَ Artinya: “Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika ia tidak menyukai satu sifat darinya, maka ia akan ridha dengan sifatnya yang lain." HR. Muslim. 14. Tidak Tenggelam dalam Kesedihan Dasar kehidupan yang baik adalah hati yang tenang dan tenteram. Jika suatu saat ditimpa kesedihan, seorang muslim sebaiknya tidak larut terlalu lama dalam kegundahan, tetapi berusaha bangkit dan kembali menjalani kehidupannya dengan sabar dan berharap kepada Allah. 15. Membandingkan Kesulitan dan Kemudahan yang Didapat Jik...

Ringkasan: Tips Hidup Bahagia (2)

7. Melihat Orang yang Berada di Bawah, Bukan di Atas Ada sebuah hadis yang menjelaskan hikmah dari sikap ini. اُنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَلَّا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ “Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian (dalam urusan dunia), dan jangan melihat kepada orang yang berada di atas kalian. Hal itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepada kalian.” HR. Bukhari-Muslim  Seorang yang lebih banyak melihat ke "bawah" akan lebih mudah mensyukuri yang ia miliki dan terhindar dari rasa iri dan dengki.  8. Melupakan Penderitaan Masa Lalu yang Tidak Dapat Dihindari Manusia tidak memiliki kuasa untuk mengubah masa lalu. Karena itu, seorang muslim tidak perlu terus memusatkan pikirannya pada keburukan atau kegagalan yang telah terjadi. Yang perlu dilakukan adalah berikhtiar melakukan yang terbaik untuk masa depan, dan menyerahkan hasil akhirnya d...

Ringkasan: Tips Hidup Bahagia

Buku الوسائل المفيدة للحياة السعيدة karya Syaikh Abdur Rahman ibn Nasir al-Sa'di merupakan salah satu risalah ringkas yang membahas tentang kebahagiaan dalam kehidupan seorang hamba. Di dalamnya, penulis menyampaikan sejumlah nasihat dan tips yang sederhana namun sarat makna, yang dapat menjadi renungan bagi siapa saja yang menginginkan hati yang lebih tenang. Berikut adalah ringkasan poin 1-6 yang beliau tulis di buku.  1. Iman dan Amal Saleh Seseorang yang memiliki iman dan melakukan amal saleh akan lebih mudah mendapatkan kebahagiaan. Hal ini karena iman memberi arah dan nilai dalam hidupnya. Ketika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur dan mengisinya dengan amal saleh. Dengan begitu, kebaikan tersebut terus bertambah dan menjadi keberkahan baginya. Ketika menghadapi kesulitan, seorang mukmin bersabar. Ia tidak melakukan atau mengucapkan sesuatu kecuali yang diridhai Allah. Berbeda dengan orang yang tidak memiliki keimanan di dalam hatinya. Ketika senang, ia cenderung melakukan k...

Aku Tidak Sendirian

Gimana ya ..? Sebagai orang tua aku sering merasa beban mendidik anak itu sangat berat. Apalagi di masa kemajuan teknologi dan komunikasi seperti sekarang, ketika fitnah syahwat dan syubhat menyambar-nyambar hebat. Kadang aku lupa bahwa aku tidak memikul beban itu sendirian. Ada Allah yang menopangku. Allah yang memberikan hidayah dan taufik hingga aku bisa menjadi aku yang sekarang. Dia Maha Pengasih, Maha Memberi petunjuk kepada hamba yang Dia kehendaki. Aku sering lupa, bahwa anak bukan sepenuhnya milikku. Anak adalah milik-Nya. Hati mereka berada di antara dua jari Ar-Rahman, Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati. Jika dipikir-pikir, Allah telah menjaga anak-anak sejak mereka masih berupa embrio hingga menjadi manusia yang sempurna. Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya salah seorang di antara kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya selama empat puluh hari dalam bentuk nutfah, kemudian menjadi segumpal darah selama itu pula, kemudian menjadi segumpal daging selama itu...