Postingan

Perjalanan Panjang Bag.12

Gambar
Tanggal 18-25 Desember, adik iparku datang ke rumah. Ia berjaga-jaga jika aku melahirkan di rentang waktu tersebut. Lalu pada tanggal 25-29 Desember, keluargaku dari Semarang datang. Mereka sekalian mengantar adikku pulang setelah liburan. Sejujurnya, aku merasa lega. Aku bukan tipe orang yang mudah meminta tolong. Makanya sejak awal aku mempersiapkan segalanya, agar jika pun minta bantuan, aku tidak terlalu membebani. Tapi alhamdulilah bantuan datang tanpa kuminta. Orangtuaku bahkan membawa bahan masakan dari Semarang, memasakkan masakan enak untukku berhari-hari, dan mengajak anak-anakku berlibur. Aku jadi bisa beristirahat sejenak dan berfokus pada olahraga untuk memancing kontraksi.  Skenario meninggalkan anak-anak di rumah tanpa pengawasan akhirnya tidak perlu lagi kukhawatirkan. Di masa liburan--saat pesantren sedang sepi-sepinya-- alhamdulilah ada keluarga yang siap berjaga. Tentu saja, aku berharap bayiku lahir di hari-hari itu. Namun Allah memilihkan waktu yang lain, dan p...

Perjalanan Panjang Bag.11

Gambar
Di bulan ke sembilan, anak-anak memasuki masa penilaian akhir semester. Kali ini, aku mempersiapkan ujian untuk tiga anak sekaligus. Romi, dengan pelajaran yang masih sangat sederhana, tidak menyita banyak waktu. Jihan, kelas lima, yang sudah kuterapkan belajar mandiri sejak tahun lalu, biasanya hanya datang untuk melaporkan progres belajar atau menanyakan bab yang belum ia pahami. Fokus utamaku ada pada Umar, kelas tiga, yang masih membutuhkan bimbingan dan bantuan lebih intens. Alhamdulillah, dan bisa dibilang ini agak tumben, masa belajar menjelang PAS kali ini berjalan tanpa banyak drama. Tidak ada fase ngambek atau tantrum seperti yang sering terjadi sebelumnya. Aku merasa lega, sangat terbantu, dan diam-diam berterima kasih kepada anak-anak. Masa ujian anak-anak, entah mengapa, selalu menjadi masa yang menegangkan bagiku. Tanpa pernah menekan mereka untuk meraih nilai atau peringkat tertentu, aku tahu betul bahwa mereka akan merasa bangga jika tidak perlu menjalani remedial. Maka...

Perjalanan Panjang Bag.10

Sedikit kembali ke awal. Aku baru mengingat momen ini saat melihat galeri foto di ponselku. Di bulan kedelapan kehamilan, saat kontrol ke rumah sakit, aku sempat bertanya kepada dokter, “Dok, jarak dari rumah ke sini kurang lebih 45 menit. Kira-kira nanti, kalau kontraksi datang, saya menunggu sampai durasi berapa menit sekali sebelum berangkat ke RS?” Jawaban dokter cukup mengejutkanku. Ia mengatakan bahwa kendati kondisi ketuban, plasenta, dan posisi janinku dalam keadaan sangat baik, menurut pengamatannya, SBR-ku--segmen bawah rahim, alias bekas jahitan di rahim-- terlihat tipis. Kondisi itu dinilainya berisiko jika aku harus melahirkan normal. Khawatirnya akan ada robekan dalam yang akan membawa dampak kurang baik di kehamilanku selanjutnya--jika aku hamil lagi.  Tiba-tiba ia menyarankan agar aku menjalani operasi sesar pada bulan berikutnya, sekitar tanggal 28 Desember. Namun ia juga menambahkan, jika aku mengalami kontraksi alami di antara tanggal 21–25, yang berarti sebelum ...

Perjalanan Panjang Bag. 9

Gambar
Kurang lebih dua pekan lagi HPL-ku. Aku mulai menjalankan rencana yang sudah kususun sejak jauh hari. Pada tanggal 14 dan 15 Desember, aku masak besar. Menyiapkan cadangan lauk untuk anak-anak. Menu yang akhirnya kubuat adalah: 1. Rendang ayam 2. Rica ceker 3. Semur ayam 4. Tongkol suwir Kupisah dalam beberapa wadah thinwall untuk sekali makan. Tiap wadah ada 3 porsi. Total ayam yang kumasak kurang lebih 2,5 kg.  Selain itu, aku juga menyiapkan abon, beberapa mi instan, telur, dan menu frozen. Untuk nasi beku, aku batal membuatnya. Alasannya menyebalkan: rice cooker di rumah rusak. Untuk sementara waktu, aku harus memasak nasi dengan cara manual. Sejujurnya, jika mengingat masa itu, aku ingin menangis. Dengan kondisi perut yang sudah sangat buncit dan tubuh yang cepat lelah, hidup tanpa “kemewahan” teknologi terasa begitu menjengkelkan. Alhamdulillah, beberapa hari sebelum aku melahirkan, aku berhasil membujuk suamiku untuk memperbaiki rice cooker. Dengan sedikit paksaan, tentunya....

Review: All Creatures Great and Small by James Herriot

Gambar
Judul: All Creatures Great and Small Judul terjemahan: Segala Makhluk Besar dan Kecil Pengarang: James Herriot Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama Bahasa: Indonesia (terjemahan) Genre: Memoar / Fiksi autobiografis Pertama kali membaca nama James Herriot adalah saat aku membaca buku Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Bahasa Andrea dalam buku-bukunya begitu indah dan memesona. Aku seperti tersedot ke dalam lembaran kertas, terhipnotis oleh diksi dan narasi yang diciptakannya. Mendengar nama Herriot sebagai penulis yang menginspirasinya, aku jadi mengira-ngira, pasti sang inspirator punya bahasa tulisan yang sama romantisnya. Apalagi saat membaca buku Edensor karya Andrea, rasa penasaranku pada buku-buku Herriot semakin besar. Saat aku telah memiliki dua anak, barulah aku benar-benar punya waktu untuk membaca buku Herriot. Dan sesuai ekspektasiku, ia memang mampu membawaku berpindah dari padatnya kesibukan sehari-hari ke dunia lain yang begitu tenang dan indah. Aku sendiri bukan pecinta ...

Privilege

Privilege , kata yang tidak asing bagi kebanyakan dari kita. Sekilas, privilege terdengar seperti hidup mewah tanpa kesulitan. Orang dengan privilege seakan jalannya selalu mulus dan semua kebutuhannya terpenuhi tanpa kerja keras. Setidaknya, itu gambaran awal yang dulu aku pahami.  Ternyata, privilege jauh lebih luas dari sekadar harta dan kemewahan. Privilege adalah keistimewaan atau kemudahan bawaan yang tidak dipilih seseorang sejak lahir. Tak ada yang bisa memilih lahir di lingkungan seperti apa, dalam kondisi apa, dengan watak seperti apa, dan modal alamiah apa yang diwarisi dari orangtuanya. Aku belakangan belajar, privilege bentuknya sangat umum. Kecerdasan adalah modal bawaan yang membuat seseorang lebih cepat belajar. Tidak heran anak yang punya privilege ini cenderung mencatat prestasi di sekolah, dikagumi dan dipuji. Betapa banyak murid yang sebetulnya belajar keras, namun hasilnya tidak sebaik si cerdas. Kecantikan juga privilege . Kita pun tahu istilah beauty ...

Membangun Negeri Dari Rumah Bag.2

Sebagai lanjutan dari tulisan kemarin tentang membangun negri dari rumah, hari ini aku ingin membahas nilai-nilai lain yang rasanya makin relevan untuk ditanamkan pada anak-anak kita. Nilai-nilai sederhana yang berasal dari keresahan hati seorang anak bangsa, anak yang sudah menjadi ibu dan merasa punya tanggung jawab besar.  3. Berwawasan dan Berpikir Kritis Mendengar seorang pemimpin berkata di hadapan publik, “sawit kan juga pohon, ada daunnya, bisa menyaring karbon dioksida,” atau “sawit adalah karunia, bisa dijadikan bahan bakar bla bla bla,” "kota akan mencabut ozin tambang-tambang ilegal," tawaku sering terpancing. Tawa pahit, tentu saja. Rasanya seperti menonton stand up comedy , hanya saja yang ditertawakan adalah akal sehat kita bersama. Yang lebih membuat miris adalah para audiens yang konon cerdas, hanya mengangguk mengiyakan pernyataan yang jelas-jelas keliru. Seperti kerbau dicucuk hidungnya.  Dari situ aku makin sadar bahwa anak-anak perlu dibesarkan dengan wa...