Postingan

Me-nol-kan Ekspektasi (Kembali)

Hidup dengan ekspektasi itu melelahkan. Setidaknya itu yang aku rasakan. Sesekali, ketika sedang muhasabah diri, aku mendapati bahwa sumber kelelahan yang sering datang justru berasal dari terlalu percaya dan bertumpu pada ekspektasi. Mungkin bagi sebagian orang, kecewa oleh ekspektasi yang tidak terpenuhi terdengar klise, naif, bahkan bodoh. Namun nyatanya, banyak orang yang tidak benar-benar bisa membedakan antara harapan dan ekspektasi. Batasnya tipis, samar, dan mudah sekali membuat kita nyasar. Dan di antara orang-orang itu, adalah aku. Itulah mengapa aku pernah menulis tentang “nol ekspektasi” beberapa waktu lalu. Namun hari ini, pembahasannya ingin aku persempit pada tentang ekspektasi kepada anak. Sebagai orang tua dengan anak-anak yang berbeda watak dan bakatnya, aku menyadari bahwa aku memiliki ekspektasi yang berbeda pula pada masing-masing dari mereka. Pada anak yang terlihat tekun belajar dan cepat menghafal, misalnya, aku berekspektasi ia akan meraih peringkat tinggi di k...

Namaku Bag.2

Gambar
Punya nama yang langka sekaligus rumit dibaca dan ditulis itu punya tantangan lain. Setiap pembuatan ijazah, KTP, KK, paspor, buku nikah, bahkan akta kelahiran anak dan dokumen lainnya, aku harus benar-benar teliti memastikan tidak ada kesalahan dalam penulisan nama. Yang sering terjadi dahulu adalah kesalahan penulisan dalam sertifikat lomba atau kegiatan non akademik. Jika zaman sekarang panitia bisa meng-copy paste nama peserta dari formulir digital, dahulu semuanya ditulis manual. Ada saja kesalahan tulis di sertifikat yang terjadi, dan selagi bukan merupakan dokumen resmi, mau tidak mau kuterima apa adanya. Apakah hanya sampai situ? Tentu tidak. Saat masuk pesantren dan harus menuliskan namaku dalam bahasa Arab, aku kesulitan. Bertanya sana-sini bagaimana penulisan yang tepat. Dan setelah ditulis dengan teoat, tentu yang membaca juga masih sana kesulitan, karena namaku sangat non-Arab sekali. Wkwk. Saat kuliah di lembaga yang berinduk di salah satu negara Arab, di mana daftar nama...

Namaku

Gambar
Nimitta Widhari Apsari, nama yang unik di telinga dan mata sebagian orang. Dan kadang masih nggak percaya kalau nama se-rare Nimitta bisa jadi namaku, wkwk. Sekarang, kalian bayangkan aku sedang berbicara dengan full senyum ya. Karena topik ini benar-benar membuatku excited ! Oh iya, aku terpikirkan menulis tentang nama, karena belakangan di Thread ramai pembahasan nama-nama anak gen alpha yang penulisannya rumit. Warga Thread mengomentari dengan: “Duh, kasian anaknya nanti kalau bikin paspor” “Repot nih nanti kalau ada salah tulis di kartu identitas” “Kasian gurunya, susah baca namanya” “Apa nggak takut jadi bahan bullyan?” Dan sebagainya. Yang lucunya, semua relate denganku, si pemilik nama unik ini. Jawab jujur. Selama hidup pembaca, berapa kali kalian mendengar nama yang sama denganku? Bisa jadi hanya aku the only one manusia bernama Nimitta yang kalian kenal. Sejak kecil, aku sadar namaku ini “ rare ”. Maka aku tanya lah ke budheku yang kupanggil Mami, tentang arti namaku. Katany...

Penulis Palsu

Akhir-akhir ini, karena harus memenuhi target menulisku, aku banyak merenungkan pekerjaanku sebagai seorang penulis “konten” reflektif. Seperti yang pembaca tahu, aku sering berbagi cerita harian yang kukemas dengan hasil-hasil pemikiranku, yang aku tahu, kadang masih sangat mentah dan belum tentu sepenuhnya valid. Pada asalnya, aku memang seorang pemikir. Di sela pekerjaan rumah sebagai ibu rumah tangga, saat menyusui bayi, atau bahkan ketika hanya berdiam, pikiranku terus bergerak. Ada saja yang melintas, diproses, dan dipertanyakan. Dari sanalah tulisan-tulisan itu lahir. Sebagian kupilah, kugodok melalui bacaan, kajian yang kusimak, diskusi dengan suami, teman, anak, atau bahkan AI, baru setelahnya kutuangkan dalam tulisan.  Namun kadang, ketika menulis tentang parenting khususnya, aku sadar bahwa aku tidak sebaik itu. Kadang sikapku justru melenceng jauh dari apa yang kutulis. Tulisanku adalah versi ideal yang kuinginkan, namun bukan aku. Rasanya seperti sedang berjalan di jal...

Belajar Dari Blind Box

Lebaran kemarin, Jihan mendapatkan hadiah blind box dari sepupunya. Sebagai anak perempuan yang beranjak remaja, benda ini tentu terasa menarik dan seru untuk dicoba. Apalagi isinya berupa gantungan kunci boneka yang lucu dan menggemaskan. Jihan sempat bertanya apakah ia boleh membukanya. Hal ini karena sebelumnya aku pernah membahas hukum membeli blind box bersama anak-anak. Namun karena blind box ini adalah hadiah, bukan hasil membeli sendiri, aku membolehkan Jihan untuk membukanya. Ia tampak sangat sumringah karena ini adalah pengalaman pertamanya membuka blind box yang selama ini hanya ia lihat di video YouTube. Sebagai orang tua, aku merasa penting untuk mempelajari fikih muamalah, khususnya dalam konteks jual-beli kontemporer. Di era digital ini, banyak bentuk transaksi non-syar’i yang dikemas dengan sangat menarik. Tentu kita ingin anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang kritis dan memahami batasan halal-haram dalam urusan harta. Dalam praktik blind box, misalnya, terdapat uns...

Memfasilitasi Rasa Malu Anak

Hari ini aku akan bercerita sedikit tentang rasa malu pada diri anak. Sebagai bahan refleksi bagi diri sendiri dan juga para pembaca yang berbahagia.  Romi, anak ketigaku, adalah anak yang cukup pemalu. Terutama saat bertamu ke rumah orang lain, termasuk rumah nenek saat mudik. Ia butuh waktu sedikit lebih lama untuk bisa terbiasa dengan suasana baru, meski sebetulnya ia ekstrovert, ceria, dan mudah akrab dengan anak seusianya.  Umurnya baru lima tahun. Tapi setiap ke kamar mandi untuk BAK, BAB, atau mandi, ia minta ditunggui oleh aku atau abahnya di depan pintu. Ia belum bisa mengunci pintu sendiri, atau menggantungkan pakaiannya di gabtungan yang tinggi. Keberadaanku atau suami di depan pintu kamar mandi adalah untuk memegangi celana atau pakaiannya, atau menjaga agar tidak ada orang yang masuk  sampai ia selesai. Ia berusaha memastikan agar tidak ada seorang pun --meski masih keluarga-- yang melihat auratnya. Sebagai orang tua, kadang ada perasaan malas mengantarnya ke...

Belajar Dari Cucian Piring

Momen Ramadan kemarin mengingatkanku pada satu hal memorable di masa muda. Ciye… Selama bertahun-tahun, di RW rumah orangtuaku selalu ada giliran menyediakan takjil. Sifatnya tidak wajib. Siapa yang berkenan, bisa mendaftar lalu dibuatkan jadwal. Takjil ini disediakan di mushalla RW, menjadi menu berbuka untuk anak-anak, remaja, hingga orang dewasa yang datang sekaligus menunaikan salat magrib berjamaah. Dan entah bagaimana ceritanya, sejak dulu hingga sekarang, rumah orangtuaku selalu menjadi tempat pengumpulan takjil sebelum dibawa ke mushalla. Dari situlah cerita kecil ini dimulai. Setiap hari, ada nampan-nampan bekas wadah takjil yang harus dicuci. Aku mengambil peran mencucinya setiap selepas salat subuh.  saat mulai rutin melakukannya, usiaku remaja menuju dewasa, SMA hingga awal masa kuliah kira-kira. Usia di mana aku lebih memilih berinisiatif melakukan sesuatu daripada disuruh. Ya, seperti itulah pola pikir anak remaja pada umumnya  Masalahnya, aku sebenarnya sangat m...