Postingan

Nomor Satu-ku

Gambar
Dari gadis - menikah - menjadi ibu, bagiku merupakan perubahan identitas yang mendadak. Seperti lonjakan level yang tiba-tiba. Begitu cepat sampai aku nyaris tak menyadarinya. Aku dulu yang hanya peduli pada diriku, titik. All the time, my self is my priority. Bahkan akun Instagram-ku bernama @justnimitta . Aku hanya memikirkan project, target, dan keinginanku hari ini dan esok. Kini berubah menjadi "apa yang suami dan anak-anakku...  hari ini dan esok". Aku yang dahulu tak pernah memikirkan akan hidup dan bersinergi dengan seorang pria, kini menikah. Menjadi teman diskusi, cerita, yang bahkan memberiku uang dengan sukarela, namun sangat kuhormati. Lucu juga ya jika dipikir-pikir, sahabat yang tadinya orang asing, namun kini begitu terikat. Sekarang selain dipanggil dengan namaku, aku juga dipanggil sebagai “istri”-nya suamiku. Aku yang dulu dipanggil hanya dengan namaku, kini ada tambahan “mamanya” anak-anakku. Ajaib, bukan? Sebelumnya bahkan tak pernah terlintas bahwa namak...

10 Pelajaran Tauhid dari Juz 30

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa seseorang mendengar orang lain membaca Qul huwallahu ahad berulang-ulang. Ketika pagi hari, ia datang kepada Rasulullah ï·º dan menyebutkan hal itu, seakan-akan ia menganggap surat tersebut kecil (kurang istimewa). Maka Rasulullah ï·º bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh surat itu sebanding dengan sepertiga Al-Qur’an.” (HR. Bukhari-Muslim) Berangkat dari hadis ini, para ulama menjelaskan bahwa kandungan Al-Qur’an secara umum terbagi menjadi tiga bagian besar: tauhid , ahkam (hukum syariat) , dan kisah untuk diambil pelajaran . Pembagian ini bukan pembagian berdasarkan surat dan juz, melainkan pembagian berdasarkan tema besar yang mencakup keseluruhan isi Al-Qur’an. Dalam surat Al-Ikhlas sendiri, seluruh kandungannya berkenaan dengan tauhid: pengesaan Allah dan penetapan keagungan serta ketunggalan Dzat-Nya. Jika tauhid merupakan sepertiga kandungan Al-Qur’an, maka mempelajari tauhid berarti sedang ...

Romansa Buku

Gambar
Bagiku, buku itu punya romansa. Membawa kisah panjang. Kadang indah, kadang menyakitkan.  Aku pernah bertemu dengan sebuah buku saat dikenalkan teman. Saat mendengarnya begitu jatuh cinta pada sebuah buku, caranya bercerita membuatku penasaran dan ingin membacanya juga.  Kadang sebuah buku lewat di linimasa media sosial. Seseorang yang tak kukenal membahasanya. Entah memuji, mengkritik, kadang bercerita dengan penuh cinta. Kadang aku memandang buku murni dari sampulnya. Sangat memandang fisik. Sebuah buku bisa terlihat sangat menawan di tengah jajaran buku lainnya. Judul, warna, atau desainnya membuatku tertarik dan ingin mengenalnya lebih jauh.  Ada juga pertemuan yang tak terduga. Melihat orang membacanya di transportasi umum, tergeletak di meja rekan, atau di tumpukan buku lusuh yang akan diloakkan. Rasanya seperti kisah klasik dua mata yang beradu pandang tak sengaja di jalan.  Saat membaca, aku bisa merasa tertampar. Buku bisa sangat keras menegur dan menghakimi...

Review: 567 Fakta tentang MPASI – Meta Hanindita

Gambar
Identitas Buku Judul: 567 Fakta tentang MPASI Penulis: dr. Meta Hanindita, Sp.A(K) Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama Tahun terbit: 2019 Jumlah halaman: 160 halaman Genre: Nonfiksi / Kesehatan Anak Ulasan Buku ini membahas berbagai pertanyaan seputar MPASI (Makanan Pendamping ASI), mulai dari waktu yang tepat untuk memulai, komposisi gizi yang ideal, hingga kesalahan-kesalahan umum yang sering terjadi dalam praktik pemberian makan bayi. Disusun dalam format ringkas berupa ratusan fakta, buku ini terasa praktis sekaligus padat informasi. Sebagai orang tua, saya merasakan sendiri bagaimana fase MPASI sering kali dipenuhi kebingungan. Informasi begitu banyak beredar, tetapi tidak semuanya jelas sumbernya. Di sinilah buku ini terasa membantu. Dr. Meta menyampaikan penjelasan dengan sudut pandang medis dan berbasis evidence-based practice. Rekomendasi yang diberikan merujuk pada pedoman WHO dan jurnal ilmiah, sehingga pembaca tidak hanya menerima anjuran, tetapi juga memahami dasar ilmiahn...

Ramadhan di Rumahku

Gambar
Ramadhan buatku bukan hanya menahan lapar dan haus. Ia seperti madrasah yang buka setahun sekali. Di sinilah anak-anakku belajar menghormati, empati, dan menjalankan aturan Allah tanpa perlu merasa lebih tinggi dari orang lain. Semua dimulai dari rumah, dari hal-hal yang kelihatannya kecil. Di rumah ini, Romi belajar puasa setengah hari. Umar sudah memilih puasa full meski belum baligh. Jihan, sejak beberapa tahun sebelum baligh pun sudah terbiasa full, dan sekarang tentu sudah menjadi kewajiban baginya. Aku tidak menyamaratakan mereka. Karena aku percaya, ibadah itu berhubungan dengan kesiapan dan proses. Anak yang puasa setengah hari bukan berarti setengah taat. Ia sedang berlatih. Yang biasanya bebas makan dan minum, kini harus menunda dan bersabar. Harus menerima bahwa tidak semua keinginan bisa langsung dipenuhi. Ketika dzuhur tiba dan Romi berbuka, aku tidak menyebutnya gagal. Itu bagian dari latihannya. Aku juga tidak mengatakan "yey, kamu berhasil puasa setengah hari"...

Perlahan Menemukan (Kembali) Ritmeku

Gambar
Setiap menjalani peran tambahan dalam hidup, hampir semua orang akan mengalami gangguan pada ritme hariannya. Contohnya orang yang semula bekerja di rumah lalu harus ke kantor. Atau seseorang yang naik pangkat atau mendapat jobdesk baru. Bisa juga ketika ikut program baru, memulai membangun kebiasaan baik, atau pindah ke lingkungan yang asing. Semua itu ujian penyesuaian. Normal dan sering terjadi.  Aku pun merasakannya sebagai seorang ibu yang baru melahirkan bayi. Meski ini anak keempatku, tetap saja ada rasa yang berbeda. Sebab hadirnya satu anggota keluarga baru selalu mengubah banyak hal. Hamil besar, melahirkan, dan pemulihan pasca operasi sesar adalah rangkaian peristiwa yang membuat jadwal harianku harus disesuaikan dengan kondisi yang ada. Satu bulan berlalu setelah melahirkan, alhamdulillah perlahan ritme hidupku mulai lebih teratur. Berikut ini adalah cara-cara yang kulakukan dalam proses OTW mengembalikan ritmeku. Bukan ke ritme lama, tapi ritme yang membuatku nyaman....

Always On

Gambar
Aku membuka Threads setelah selesai menyusui anakku dan mendapati satu utas menarik. Bentuknya pertanyaan: “Kenapa kalo ibu-ibu dibangunin, ditoel dikit langsung loncat dari kasur ampe yg bangunin juga kaget? Please jangan jawab secara medis." Banyak ibu muda dan tua merespons. Dan aku terharu. Ternyata, tidak hanya aku yang selalu berada dalam mode always on. Banyak dan mungkin ibu-ibu sedunia merasakannya.  “Always on” mengingatkanku pada jargon kartu telekomunikasi yang dulu sempat aku gunakan. Sekarang, akulah yang always on itu. Sejak menjadi ibu dua belas tahun lalu, aku merasa seperti selalu terjaga. Di masa newborn, ketika tidur pun aku terbangun hanya karena mendengar rengekan anakku. Saat sedang di dapur, kamar mandi, atau ruangan lain terpisah dari anakku, aku akan langsung ke kamar begitu mendengar tangisan. Bahkan saat tidak ada tangisan. Karena bagi ibu yang punya bayi, kami punya insting bahwa sunyi lebih patut diwaspadai. Begitulah, tubuhku bergerak lebih cepat dar...