Ramadhan di Rumahku
Ramadhan buatku bukan hanya menahan lapar dan haus. Ia seperti madrasah yang buka setahun sekali. Di sinilah anak-anakku belajar menghormati, empati, dan menjalankan aturan Allah tanpa perlu merasa lebih tinggi dari orang lain. Semua dimulai dari rumah, dari hal-hal yang kelihatannya kecil. Di rumah ini, Romi belajar puasa setengah hari. Umar sudah memilih puasa full meski belum baligh. Jihan, sejak beberapa tahun sebelum baligh pun sudah terbiasa full, dan sekarang tentu sudah menjadi kewajiban baginya. Aku tidak menyamaratakan mereka. Karena aku percaya, ibadah itu berhubungan dengan kesiapan dan proses. Anak yang puasa setengah hari bukan berarti setengah taat. Ia sedang berlatih. Yang biasanya bebas makan dan minum, kini harus menunda dan bersabar. Harus menerima bahwa tidak semua keinginan bisa langsung dipenuhi. Ketika dzuhur tiba dan Romi berbuka, aku tidak menyebutnya gagal. Itu bagian dari latihannya. Aku juga tidak mengatakan "yey, kamu berhasil puasa setengah hari"...