Postingan

Menulis; Dulu Hingga Nanti Bag.2

Perjalananku menulis di blog dimulai dengan cara yang agak konyol. Setelah membuat alamat blog, aku justru meng- copy paste artikel dari website lain dan memuatnya di blogku. Memalukan, tapi itulah postingan pertamaku. Saat itu aku belum paham bahwa hal tersebut termasuk plagiarisme. Yang kupikirkan hanya bagaimana caranya agar blogku punya isi dulu. Bukan untuk membenarkan, tapi bagiku itu adalah titik awal belajar lebih memahami dunia kepenulisan. Perlahan, aku mulai menulis hal-hal yang benar-benar ingin kutulis. Aku punya beberapa tabungan tulisan di file laptop, dan sebagian yang layak tayang mulai kuposting di blogku. Menuliskan cerita-cerita “seru” versiku sendiri di blog ternyata menyenangkan. Aku tidak peduli pada SEO atau hal-hal teknis seperti adsense . Bagiku, bisa menulis saja sudah membuatku bahagia. Aku yang dulu menulis di kertas secara manual--yang kalau salah harus dihapus dengan tip-ex, atau ditulis ulang demi hasil yang layak dipajang di binder atau dikirim ke maja...

Menulis; Dulu Hingga Nanti

Menulis selalu hadir di berbagai fase hidupku. Aku bukan orang yang mudah terbuka atau melekat pada orang-orang tertentu. Bahkan saat dekat dengan teman, aku tidak mampu menceritakan seluruh rahasia hidupku. Itu sebelum aku bertemu suamiku. Aku bukan orang yang memiliki keahlian berbicara. Bukan pula orang bersuara keras yang terdengar sepenjuru ruang. Aku juga bukan orang dengan visual atau kepribadian yang begitu menarik hingga diperhatikan banyak orang. Kadang aku ingin bercerita, tapi terlalu banyak pertimbangan. Apakah hal yang kuceritakan ini penting bagi pendengar? Apakah lawan bicaraku siap mendengar sampai tuntas? Apakah ini termasuk hal yang terlalu pribadi? Menulis terasa seperti memiliki seorang teman yang mendengarkan dengan baik, dan mampu menjaga rahasia. Tanpa rasa takut dihakimi atau dianggap berlebihan. Saat butuh validasi, aku menulis untuk menemukannya. Saat butuh solusi, aku menulis dan merapikan langkah penyelesaianku. Jika dulu dengan pena, sekarang aku menulis d...

Perjalanan Panjang Bag. 16

Ruang bersalin itu mirip seperti IGD. Ada beberapa ranjang yang dipisahkan oleh gorden, dengan satu meja untuk para petugas di tengah. Saat itu kira-kira ada tiga orang pasien, termasuk aku. Sesampainya di sana aku kembali berbaring. Lagi-lagi aku diperiksa dalam, masih pembukaan dua, dan lagi-lagi ditanyai pertanyaan yang sama persis dengan yang baru saja ditanyakan kepadaku sekitar lima belas menit sebelumnya di IGD. Padahal menurut suamiku, catatan dari IGD tadi dipegang oleh bidan yang bertugas di ruang bersalin ini. Agak aneh, bukan? Sempat terlintas di pikiranku, apakah mereka ingin mengetes batas kesadaranku atau bagaimana sebenarnya? Aku hanya berpindah dari IGD ke ruang bersalin, tapi rasanya seperti berpindah rumah sakit. Tentu saja ini hanya pertanyaan di kepalaku. Tidak perlu dianggap terlalu serius. Aku tidak sedang menghujat atau mencela tenaga kesehatan. Aku hanya mempertanyakan sebuah kejadian yang terasa di luar nalarku saat itu. Tidak lama kemudian seorang bidan masuk...

Perjalanan Panjang Bag.15

Aku mengecek jam. Ternyata sudah pukul 01.45. Sudah dini hari, rupanya hari sudah berganti. Dengan langkah terpincang-pincang dipapah suami, aku berjalan menuju parkiran mobil. Jalan menuju rumahku hanya setapak, jadi mobil tidak bisa dibawa sampai ke depan rumah. Meski kontraksinya masih terasa lemah, aku dan suamiku sepakat untuk langsung menuju rumah sakit. Kami tidak mampir ke klinik bidan terdekat. Di kehamilan ini, aku banyak berhusnuzan kepada Allah. Itu semacam afirmasi positif yang kutanamkan kepada diriku sendiri. Aku berharap rasa kontraksi yang masih ringan ini karena toleransiku terhadap rasa sakit sudah meningkat. Karena kontraksinya sudah teratur, aku juga berharap pembukaannya sudah cukup banyak. Ditambah lagi jalanan di sekitar rumahku yang rusak parah, alih-alih membahayakan, aku berharap justru membantu memperlancar proses kelahiranku. Aku meminta suamiku untuk tidak terlalu terburu-buru. Kontraksinya masih bisa kutahan. Aku hanya tidak ingin kesakitan karena guncang...

Perjalanan Panjang Bag. 14

Gambar
Sambil menunggu suamiku mengangkut koper dan kebutuhan melahirkan ke mobil, aku bersiap-siap memakai baju, kerudung, dan kaos kaki. Saat itu pukul sembilan lewat, entah kenapa kontraksi tiba-tiba berhenti. Aku menunggu selama setengah jam, tetapi masih belum ada susulan. Aku meminta suamiku mematikan mesin mobil dan menyuruhnya tidur terlebih dahulu agar nanti siap begadang. Anak-anak juga kuminta untuk tidur. Aku memberi tahu mereka aku mungkin akan segera melahirkan. Jadi jika nanti pagi aku tidak ada di rumah, kami akan berkomunikasi lewat ponsel. Mungkin agak siang sedikit, tante mereka--adik kandungku--akan datang ke rumah. Anak-anak memasang alarm pukul lima pagi agar bisa bangun untuk salat Subuh. Anak-anak sempat bertanya apakah mereka harus masuk sekolah besok. Aku menjawab lebih baik tidak, agar mereka tidak keteteran. Tapi malam itu Umar dan Romi justru bilang ingin tetap sekolah. Its ok. Seragam sekolah sudah kusiapkan, dan mereka juga berangkat dengan berjalan kaki. Jadi k...

Perjalanan Panjang Bag.13

Tanggal 29 Desember, anak-anakku mulai kembali masuk sekolah. Sudah sekitar sebulan aku tidak menjemput Romi ke sekolah. Rasanya badanku semakin berat saja, ditambah sakit yang sangat mengganggu di tulang selangkanganku. Berjalan biasa pun terasa payah, apalagi harus melalui jalan menanjak dengan tangga menuju sekolah Romi. Aku bilang padanya untuk pulang sendiri, toh sekolah Romi dan rumahku masih berada dalam kompleks pesantren yang dijaga oleh security. Jaraknya juga hanya dua menit berjalan. Saat Romi bertanya kapan aku bisa kembali menjemputnya, aku hanya bisa memberi harapan. Insya Allah nanti setelah adiknya lahir.  Tugas belanja pekanan kembali dihandle oleh suamiku. Aspal jalan di sekitar rumah rusak sangat parah karena ada proyek pembangunan bendungan di dekat sini. Truk besar lalu lalang setiap hari. Ditambah air hujan yang menggerusnya, jalanan menjadi hancur tak karuan. Melewati jalan dengan kondisi seperti itu membuat perutku kencang. Kadang sampai sakitnya benar-bena...

Rezeki yang Tidak di Dompet

Gambar
Banyak orang mengukur kebahagiaan berdasarkan uang. Katanya, kalo disuruh menyebutkan hal dalam pernikahan yang paling disukai istri, jawabannya uang, banyak uang, dan uang tak terbatas. Ya nggak salah juga, sih. Siapa coba yang nggak doyan uang? Sekilas memang uang itu bisa menuntaskan segala permasalahan. Bahkan ada yang bilang kalau uang itu obat segala penyakit. Waduh! Sebagai ibu rumah tangga yang tidak punya penghasilan tetap, aku merasa bahwa uang memiliki manfaat yang banyak. Gimana enggak, bahan masak, sandang, papan, pangan, biaya pendidikan anak, biaya upgrade skill, semuanya menggunakan uang. Belum lagi jatah jajan, skincare, dan hiburan. Namun sebetulnya, uang bukan satu-satunya sumber kebahagiaan. Punya uang itu bagus, tapi apakah jika tidak banyak uang, lantas hidup harus nelangsa dan murung? Bagi ibu-ibu yang sekarang uangnya masih terbatas, belum sesultan orang-orang yang flexing sana-sini, yang ketika belanja masih harus membandingkan pricetag , bolak-balik marketpla...