Postingan

Belajar Dari Blind Box

Lebaran kemarin, Jihan mendapatkan hadiah blind box dari sepupunya. Sebagai anak perempuan yang beranjak remaja, benda ini tentu terasa menarik dan seru untuk dicoba. Apalagi isinya berupa gantungan kunci boneka yang lucu dan menggemaskan. Jihan sempat bertanya apakah ia boleh membukanya. Hal ini karena sebelumnya aku pernah membahas hukum membeli blind box bersama anak-anak. Namun karena blind box ini adalah hadiah, bukan hasil membeli sendiri, aku membolehkan Jihan untuk membukanya. Ia tampak sangat sumringah karena ini adalah pengalaman pertamanya membuka blind box yang selama ini hanya ia lihat di video YouTube. Sebagai orang tua, aku merasa penting untuk mempelajari fikih muamalah, khususnya dalam konteks jual-beli kontemporer. Di era digital ini, banyak bentuk transaksi non-syar’i yang dikemas dengan sangat menarik. Tentu kita ingin anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang kritis dan memahami batasan halal-haram dalam urusan harta. Dalam praktik blind box, misalnya, terdapat uns...

Memfasilitasi Rasa Malu Anak

Hari ini aku akan bercerita sedikit tentang rasa malu pada diri anak. Sebagai bahan refleksi bagi diri sendiri dan juga para pembaca yang berbahagia.  Romi, anak ketigaku, adalah anak yang cukup pemalu. Terutama saat bertamu ke rumah orang lain, termasuk rumah nenek saat mudik. Ia butuh waktu sedikit lebih lama untuk bisa terbiasa dengan suasana baru, meski sebetulnya ia ekstrovert, ceria, dan mudah akrab dengan anak seusianya.  Umurnya baru lima tahun. Tapi setiap ke kamar mandi untuk BAK, BAB, atau mandi, ia minta ditunggui oleh aku atau abahnya di depan pintu. Ia belum bisa mengunci pintu sendiri, atau menggantungkan pakaiannya di gabtungan yang tinggi. Keberadaanku atau suami di depan pintu kamar mandi adalah untuk memegangi celana atau pakaiannya, atau menjaga agar tidak ada orang yang masuk  sampai ia selesai. Ia berusaha memastikan agar tidak ada seorang pun --meski masih keluarga-- yang melihat auratnya. Sebagai orang tua, kadang ada perasaan malas mengantarnya ke...

Belajar Dari Cucian Piring

Momen Ramadan kemarin mengingatkanku pada satu hal memorable di masa muda. Ciye… Selama bertahun-tahun, di RW rumah orangtuaku selalu ada giliran menyediakan takjil. Sifatnya tidak wajib. Siapa yang berkenan, bisa mendaftar lalu dibuatkan jadwal. Takjil ini disediakan di mushalla RW, menjadi menu berbuka untuk anak-anak, remaja, hingga orang dewasa yang datang sekaligus menunaikan salat magrib berjamaah. Dan entah bagaimana ceritanya, sejak dulu hingga sekarang, rumah orangtuaku selalu menjadi tempat pengumpulan takjil sebelum dibawa ke mushalla. Dari situlah cerita kecil ini dimulai. Setiap hari, ada nampan-nampan bekas wadah takjil yang harus dicuci. Aku mengambil peran mencucinya setiap selepas salat subuh.  saat mulai rutin melakukannya, usiaku remaja menuju dewasa, SMA hingga awal masa kuliah kira-kira. Usia di mana aku lebih memilih berinisiatif melakukan sesuatu daripada disuruh. Ya, seperti itulah pola pikir anak remaja pada umumnya  Masalahnya, aku sebenarnya sangat m...

Kembang Api, Mengukir Kenangan dengan Batasan

Kembang api dan petasan adalah hiburan ringan yang mungkin menjadi core memory bagi banyak orang. Percikan bunga api yang indah membuat siapa pun yang melihatnya terkesima. Bagiku, kembang api adalah bagian dari kenangan masa kecil yang tak terlupakan. Ia identik dengan keramaian, tawa, dan kebersamaan. Biasanya, aku memainkan kembang api saat tahun baru bersama keluarga.  Namun, seiring bertambahnya usia dan bertambahnya pemahaman tentang agama, aku mulai melihat kembang api dengan cara yang berbeda. Aku tidak lagi merayakan tahun baru dengan hingar-bingar.  Sejujurnya, aku baru benar-benar menyadari sisi lain dari perayaan ini setelah menikah. Waktu itu, aku pernah mengajak suamiku pergi ke Monas pada malam tahun baru, sekadar ingin menikmati pemandangan kembang api bersamanya. Suamiku, yang hampir tidak pernah menolak permintaanku, menolak saat itu. Ia mengatakan bahwa ia khawatir jika kami berada di tengah keramaian orang-orang yang sedang bermaksiat, lalu Allah menurunka...

Dari "Aku" Untuk Siapapun yang Mau Membaca

Jika ditanya, mengapa aku selalu menulis tentang “aku”? Mengapa tidak menulis secara umum, sehingga bisa dibaca oleh semua kalangan tanpa perlu mendengar ceritaku? Jawabannya karena aku hanya benar-benar mengenal diriku sendiri. Aku sering memikirkan kejadian yang kualami seharian. Mengintrospeksi dan menilai sikapku. Dari situ aku belajar memahami tingkah lakuku, hal-hal yang secara alamiah kusukai, dan sebaliknya. Ketika menulis secara umum, aku perlu membuat banyak pernyataan besar tentang orang lain. Aku juga perlu berusaha memahami sudut pandang orang lain, problem, dan situasi yang tidak selalu bisa kubayangkan. Tapi saat menulis tentang diriku sendiri, latar ceritanya nyata, based on my own experience, ceunah! Karena itu, aku merasa cerita yang kuhadirkan dari pengalaman pribadi terasa lebih mengalir. Lebih hidup karena lahir dari kejujuran. Bukan sekadar teori atau bayangan, tapi perasaan yang benar-benar pernah dirasakan. Aku juga merasa, membuka tulisan dengan ceritaku sendir...

Menulis; Dulu Hingga Nanti Bag.2

Perjalananku menulis di blog dimulai dengan cara yang agak konyol. Setelah membuat alamat blog, aku justru meng- copy paste artikel dari website lain dan memuatnya di blogku. Memalukan, tapi itulah postingan pertamaku. Saat itu aku belum paham bahwa hal tersebut termasuk plagiarisme. Yang kupikirkan hanya bagaimana caranya agar blogku punya isi dulu. Bukan untuk membenarkan, tapi bagiku itu adalah titik awal belajar lebih memahami dunia kepenulisan. Perlahan, aku mulai menulis hal-hal yang benar-benar ingin kutulis. Aku punya beberapa tabungan tulisan di file laptop, dan sebagian yang layak tayang mulai kuposting di blogku. Menuliskan cerita-cerita “seru” versiku sendiri di blog ternyata menyenangkan. Aku tidak peduli pada SEO atau hal-hal teknis seperti adsense . Bagiku, bisa menulis saja sudah membuatku bahagia. Aku yang dulu menulis di kertas secara manual--yang kalau salah harus dihapus dengan tip-ex, atau ditulis ulang demi hasil yang layak dipajang di binder atau dikirim ke maja...

Menulis; Dulu Hingga Nanti

Menulis selalu hadir di berbagai fase hidupku. Aku bukan orang yang mudah terbuka atau melekat pada orang-orang tertentu. Bahkan saat dekat dengan teman, aku tidak mampu menceritakan seluruh rahasia hidupku. Itu sebelum aku bertemu suamiku. Aku bukan orang yang memiliki keahlian berbicara. Bukan pula orang bersuara keras yang terdengar sepenjuru ruang. Aku juga bukan orang dengan visual atau kepribadian yang begitu menarik hingga diperhatikan banyak orang. Kadang aku ingin bercerita, tapi terlalu banyak pertimbangan. Apakah hal yang kuceritakan ini penting bagi pendengar? Apakah lawan bicaraku siap mendengar sampai tuntas? Apakah ini termasuk hal yang terlalu pribadi? Menulis terasa seperti memiliki seorang teman yang mendengarkan dengan baik, dan mampu menjaga rahasia. Tanpa rasa takut dihakimi atau dianggap berlebihan. Saat butuh validasi, aku menulis untuk menemukannya. Saat butuh solusi, aku menulis dan merapikan langkah penyelesaianku. Jika dulu dengan pena, sekarang aku menulis d...