Postingan

Perjalanan Panjang Bag. 14

Gambar
Sambil menunggu suamiku mengangkut koper dan kebutuhan melahirkan ke mobil, aku bersiap-siap memakai baju, kerudung, dan kaos kaki. Saat itu pukul sembilan lewat, entah kenapa kontraksi tiba-tiba berhenti. Aku menunggu selama setengah jam, tetapi masih belum ada susulan. Aku meminta suamiku mematikan mesin mobil dan menyuruhnya tidur terlebih dahulu agar nanti siap begadang. Anak-anak juga kuminta untuk tidur. Aku memberi tahu mereka aku mungkin akan segera melahirkan. Jadi jika nanti pagi aku tidak ada di rumah, kami akan berkomunikasi lewat ponsel. Mungkin agak siang sedikit, tante mereka--adik kandungku--akan datang ke rumah. Anak-anak memasang alarm pukul lima pagi agar bisa bangun untuk salat Subuh. Anak-anak sempat bertanya apakah mereka harus masuk sekolah besok. Aku menjawab lebih baik tidak, agar mereka tidak keteteran. Tapi malam itu Umar dan Romi justru bilang ingin tetap sekolah. Its ok. Seragam sekolah sudah kusiapkan, dan mereka juga berangkat dengan berjalan kaki. Jadi k...

Perjalanan Panjang Bag.13

Tanggal 29 Desember, anak-anakku mulai kembali masuk sekolah. Sudah sekitar sebulan aku tidak menjemput Romi ke sekolah. Rasanya badanku semakin berat saja, ditambah sakit yang sangat mengganggu di tulang selangkanganku. Berjalan biasa pun terasa payah, apalagi harus melalui jalan menanjak dengan tangga menuju sekolah Romi. Aku bilang padanya untuk pulang sendiri, toh sekolah Romi dan rumahku masih berada dalam kompleks pesantren yang dijaga oleh security. Jaraknya juga hanya dua menit berjalan. Saat Romi bertanya kapan aku bisa kembali menjemputnya, aku hanya bisa memberi harapan. Insya Allah nanti setelah adiknya lahir.  Tugas belanja pekanan kembali dihandle oleh suamiku. Aspal jalan di sekitar rumah rusak sangat parah karena ada proyek pembangunan bendungan di dekat sini. Truk besar lalu lalang setiap hari. Ditambah air hujan yang menggerusnya, jalanan menjadi hancur tak karuan. Melewati jalan dengan kondisi seperti itu membuat perutku kencang. Kadang sampai sakitnya benar-bena...

Rezeki yang Tidak di Dompet

Gambar
Banyak orang mengukur kebahagiaan berdasarkan uang. Katanya, kalo disuruh menyebutkan hal dalam pernikahan yang paling disukai istri, jawabannya uang, banyak uang, dan uang tak terbatas. Ya nggak salah juga, sih. Siapa coba yang nggak doyan uang? Sekilas memang uang itu bisa menuntaskan segala permasalahan. Bahkan ada yang bilang kalau uang itu obat segala penyakit. Waduh! Sebagai ibu rumah tangga yang tidak punya penghasilan tetap, aku merasa bahwa uang memiliki manfaat yang banyak. Gimana enggak, bahan masak, sandang, papan, pangan, biaya pendidikan anak, biaya upgrade skill, semuanya menggunakan uang. Belum lagi jatah jajan, skincare, dan hiburan. Namun sebetulnya, uang bukan satu-satunya sumber kebahagiaan. Punya uang itu bagus, tapi apakah jika tidak banyak uang, lantas hidup harus nelangsa dan murung? Bagi ibu-ibu yang sekarang uangnya masih terbatas, belum sesultan orang-orang yang flexing sana-sini, yang ketika belanja masih harus membandingkan pricetag , bolak-balik marketpla...

Uang Lebaran (bag. 2)

3. Membeli Sesuatu yang Diinginkan Sebagai orangtua dari golongan "kaum mendang-mending" yang penuh perhitungan, kadang kami berpikir daripada uangnya digunakan untuk membeli barang yang kurang berguna, mending ditabung. Kadang kita lupa bahwa sanak saudara memberikan uang lebaran untuk anak-anak kita. Sudah sewajarnya jika sebagian uang itu benar-benar dinikmati. Apalagi momen lebaran itu seperti momen hangat setelah sebulan menahan diri. Wajar jika mereka ingin merayakan kemenangan dengan cara mereka.  Karenanya, aku menerapkan sistem budget pada anak-anakku. Misalnya, aku membawa mereka ke toko mainan dengan memegang uang sebesar 150 ribu rupiah. Mereka bebas memilih apa saja yang harganya sesuai. Bagaimanapun juga, toko mainan memang berisi barang untuk dimainkan. Kadang mereka meminta barang yang lebih spesifik, misal sepatu roda, sepeda, jam, atau lainnya. Intinya bagaimana agar anak-anak merasa memiliki otoritas untuk membelanjakan hak mereka tanpa bersikap hedon dan i...

Uang Lebaran

Gambar
Idul Fitri selalu menjadi momen menyenangkan bagi semua orang. Setelah berpuasa selama sebulan, hari terakhir ditutup dengan gema takbir. Esoknya berkumpul di tanah lapang untuk salat berjamaah, dan berlanjut silaturahmi ke rumah saudara dan kerabat. Hangat suasana idul fitri selalu menjadi memori indah bagi setiap orang sejak kanak-kanak, hingga dewasa dan memiliki anak. Suatu hal yang hampir selalu ada di setiap momen lebaran adalah THR atau uang lebaran. Tuan rumah biasanya membagikan uang untuk anak-anak yang datang berkunjung. Aku masih ingat rasanya, dahulu tiap lebaran, aku seperti cosplay menjadi orang kaya, menerima amplop dan nominal yang banyak bagi anak sekecil itu. Meskipun ujung-ujungnya uang itu bukan aku yang memakainya. Uang lebaranku hampir seluruhnya selalu kuserahkan ke Mama. Lucunya, aku tak merasa keberatan saat itu. Aku paham meski tak terlihat mata, uang itu pasti digunakan sebaik-baiknya untuk kebutuhanku di masa depan. Beda generasi, beda pula prinsip dan ca...

Anak-anak dan Algoritma

"Mah, tadi pas sholat si A sujud freestyle loh. Mama tahu? Dia sujud trus kakinya diangkat ke atas." Umar pulang dari solat tarawih membawa cerita yang menggebu-gebu. Aku bertanya apa yang terjadi setelahnya. Katanya, si A kemudian ditegur oleh salah satu jamaah salat dan langsung pulang. Aku jadi teringat beberapa hari yang lalu sempat lewat video serupa di FYP media sosialku. Sontak aku menasehati Umar, "lagi ngetren ya 'sujud freestyle' itu? jangan ikut-ikutan ya, Mar." "Iya, Mah. Aku pernah coba tapi pas lagi nggak salat," jawabnya. "Nggak papa kalau lagi nggak solat, asal hati-hati ya," pesanku. Aku mengakui bahwa mendidik anak di era digital ini, subhanallah, tantangannya luar biasa. Konten kreator mencari cara bagaimana agar bisa viral, anak-anak yang belum cukup umur mengakses internet tanpa batas, dan formula kombinasinya adalah orangtua membiarkan anaknya mengonsumsi segala hal di luar pengawasan. Jujur, aku pun kerap terjebak ...

Review: Meraih Hidup Bahagia

Gambar
Identitas Buku Judul buku: Meraih Hidup Bahagia Judul asli (jika ada): الوسائل المفيدة للحياة السعيدة Penulis: Abdurrahman Bin Nashir As-Sa'di Penerjemah: Abdullah Haidir Penerbit: www.rajhiawqaf.com  Al-Rajhi Endowment Tahun terbit: 2002 Jumlah halaman: 49 Genre / tema: Nonfiksi Ulasan Buku ini membahas tentang tips-tips ringkas untuk hidup lebih bahagia. Penulis merangkum 21 poin penting yang perlu diketahui seorang muslim agar bisa lebih tenang menjalani hidup dan jauh dari kegelisahan. Tentunya di sini penulis memberikan dalil-dalil syar'i yang shahih dan dapat dipertanggungjawabkan. Sekitar belasan tahun lalu, saya sudah pernah menyimak pembahasan buku ini (versi bahasa Arab) melalui kajian di sekolah. Membaca ulang buku versi terjemahan menjadi upaya memurojaah dan berharap mendapat insight tambahan yang mungkin terlupa atau terlewat. Salah satu gagasan penting dalam buku ini adalah bagaimana regulasi emosi dapat memengaruhi kesehatan mental seseorang. Sikap t...