Postingan

Menampilkan postingan dari 2026

Tak Tampak Bukan Berarti Tak Ada

Gambar
 "Enak ya jadi ibu rumah tangga, nggak ngapa-ngapain di rumah doang." Itu salah satu kalimat yang pasti bikin ibu rumah tangga terbakar emosinya. Jangan mentang-mentang di rumah yang tertutup, seolah kami ini hanya diam saja seharian. Gedubrakan dan jatuh bangunnya kami --para ibu rumah tangga-- kerap tidak tercium sampai luar, tangis sedih dan lelah mental nggak ada yang mendeteksi. Ketika seseorang berani bertanya, "Kamu ngapain aja di rumah? Enak ya, nggak ngapa-ngapain." Dulu mungkin aku akan terkejut, sedikit sakit hati. Namun ketika makin dewasa, aku berusaha memahami bahwa orang yang bertanya seperti itu ia tidak tahu. Tidak melihat bagaimana peran ibu rumah tangga. Mungkin ia tidak tumbuh bersama ibu yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Nggak perlu merasa heran, manusia memang cenderung mengukur nilai sesuatu dari yang nampak di depan mata. Jika tidak terlihat, nilainya menjadi kerdil dan tidak diakui. Coba bayangkan oksigen yang kita hirup seumur hidup...

Me-nol-kan Ekspektasi (Kembali)

Hidup dengan ekspektasi itu melelahkan. Setidaknya itu yang aku rasakan. Sesekali, ketika sedang muhasabah diri, aku mendapati bahwa sumber kelelahan yang sering datang justru berasal dari terlalu percaya dan bertumpu pada ekspektasi. Mungkin bagi sebagian orang, kecewa oleh ekspektasi yang tidak terpenuhi terdengar klise, naif, bahkan bodoh. Namun nyatanya, banyak orang yang tidak benar-benar bisa membedakan antara harapan dan ekspektasi. Batasnya tipis, samar, dan mudah sekali membuat kita nyasar. Dan di antara orang-orang itu, adalah aku. Itulah mengapa aku pernah menulis tentang “nol ekspektasi” beberapa waktu lalu. Namun hari ini, pembahasannya ingin aku persempit pada tentang ekspektasi kepada anak. Sebagai orang tua dengan anak-anak yang berbeda watak dan bakatnya, aku menyadari bahwa aku memiliki ekspektasi yang berbeda pula pada masing-masing dari mereka. Pada anak yang terlihat tekun belajar dan cepat menghafal, misalnya, aku berekspektasi ia akan meraih peringkat tinggi di k...

Namaku Bag.2

Gambar
Punya nama yang langka sekaligus rumit dibaca dan ditulis itu punya tantangan lain. Setiap pembuatan ijazah, KTP, KK, paspor, buku nikah, bahkan akta kelahiran anak dan dokumen lainnya, aku harus benar-benar teliti memastikan tidak ada kesalahan dalam penulisan nama. Yang sering terjadi dahulu adalah kesalahan penulisan dalam sertifikat lomba atau kegiatan non akademik. Jika zaman sekarang panitia bisa meng-copy paste nama peserta dari formulir digital, dahulu semuanya ditulis manual. Ada saja kesalahan tulis di sertifikat yang terjadi, dan selagi bukan merupakan dokumen resmi, mau tidak mau kuterima apa adanya. Apakah hanya sampai situ? Tentu tidak. Saat masuk pesantren dan harus menuliskan namaku dalam bahasa Arab, aku kesulitan. Bertanya sana-sini bagaimana penulisan yang tepat. Dan setelah ditulis dengan teoat, tentu yang membaca juga masih sana kesulitan, karena namaku sangat non-Arab sekali. Wkwk. Saat kuliah di lembaga yang berinduk di salah satu negara Arab, di mana daftar nama...

Namaku

Gambar
Nimitta Widhari Apsari, nama yang unik di telinga dan mata sebagian orang. Dan kadang masih nggak percaya kalau nama se-rare Nimitta bisa jadi namaku, wkwk. Sekarang, kalian bayangkan aku sedang berbicara dengan full senyum ya. Karena topik ini benar-benar membuatku excited ! Oh iya, aku terpikirkan menulis tentang nama, karena belakangan di Thread ramai pembahasan nama-nama anak gen alpha yang penulisannya rumit. Warga Thread mengomentari dengan: “Duh, kasian anaknya nanti kalau bikin paspor” “Repot nih nanti kalau ada salah tulis di kartu identitas” “Kasian gurunya, susah baca namanya” “Apa nggak takut jadi bahan bullyan?” Dan sebagainya. Yang lucunya, semua relate denganku, si pemilik nama unik ini. Jawab jujur. Selama hidup pembaca, berapa kali kalian mendengar nama yang sama denganku? Bisa jadi hanya aku the only one manusia bernama Nimitta yang kalian kenal. Sejak kecil, aku sadar namaku ini “ rare ”. Maka aku tanya lah ke budheku yang kupanggil Mami, tentang arti namaku. Katany...

Penulis Palsu

Akhir-akhir ini, karena harus memenuhi target menulisku, aku banyak merenungkan pekerjaanku sebagai seorang penulis “konten” reflektif. Seperti yang pembaca tahu, aku sering berbagi cerita harian yang kukemas dengan hasil-hasil pemikiranku, yang aku tahu, kadang masih sangat mentah dan belum tentu sepenuhnya valid. Pada asalnya, aku memang seorang pemikir. Di sela pekerjaan rumah sebagai ibu rumah tangga, saat menyusui bayi, atau bahkan ketika hanya berdiam, pikiranku terus bergerak. Ada saja yang melintas, diproses, dan dipertanyakan. Dari sanalah tulisan-tulisan itu lahir. Sebagian kupilah, kugodok melalui bacaan, kajian yang kusimak, diskusi dengan suami, teman, anak, atau bahkan AI, baru setelahnya kutuangkan dalam tulisan.  Namun kadang, ketika menulis tentang parenting khususnya, aku sadar bahwa aku tidak sebaik itu. Kadang sikapku justru melenceng jauh dari apa yang kutulis. Tulisanku adalah versi ideal yang kuinginkan, namun bukan aku. Rasanya seperti sedang berjalan di jal...

Belajar Dari Blind Box

Lebaran kemarin, Jihan mendapatkan hadiah blind box dari sepupunya. Sebagai anak perempuan yang beranjak remaja, benda ini tentu terasa menarik dan seru untuk dicoba. Apalagi isinya berupa gantungan kunci boneka yang lucu dan menggemaskan. Jihan sempat bertanya apakah ia boleh membukanya. Hal ini karena sebelumnya aku pernah membahas hukum membeli blind box bersama anak-anak. Namun karena blind box ini adalah hadiah, bukan hasil membeli sendiri, aku membolehkan Jihan untuk membukanya. Ia tampak sangat sumringah karena ini adalah pengalaman pertamanya membuka blind box yang selama ini hanya ia lihat di video YouTube. Sebagai orang tua, aku merasa penting untuk mempelajari fikih muamalah, khususnya dalam konteks jual-beli kontemporer. Di era digital ini, banyak bentuk transaksi non-syar’i yang dikemas dengan sangat menarik. Tentu kita ingin anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang kritis dan memahami batasan halal-haram dalam urusan harta. Dalam praktik blind box, misalnya, terdapat uns...

Memfasilitasi Rasa Malu Anak

Hari ini aku akan bercerita sedikit tentang rasa malu pada diri anak. Sebagai bahan refleksi bagi diri sendiri dan juga para pembaca yang berbahagia.  Romi, anak ketigaku, adalah anak yang cukup pemalu. Terutama saat bertamu ke rumah orang lain, termasuk rumah nenek saat mudik. Ia butuh waktu sedikit lebih lama untuk bisa terbiasa dengan suasana baru, meski sebetulnya ia ekstrovert, ceria, dan mudah akrab dengan anak seusianya.  Umurnya baru lima tahun. Tapi setiap ke kamar mandi untuk BAK, BAB, atau mandi, ia minta ditunggui oleh aku atau abahnya di depan pintu. Ia belum bisa mengunci pintu sendiri, atau menggantungkan pakaiannya di gabtungan yang tinggi. Keberadaanku atau suami di depan pintu kamar mandi adalah untuk memegangi celana atau pakaiannya, atau menjaga agar tidak ada orang yang masuk  sampai ia selesai. Ia berusaha memastikan agar tidak ada seorang pun --meski masih keluarga-- yang melihat auratnya. Sebagai orang tua, kadang ada perasaan malas mengantarnya ke...

Belajar Dari Cucian Piring

Momen Ramadan kemarin mengingatkanku pada satu hal memorable di masa muda. Ciye… Selama bertahun-tahun, di RW rumah orangtuaku selalu ada giliran menyediakan takjil. Sifatnya tidak wajib. Siapa yang berkenan, bisa mendaftar lalu dibuatkan jadwal. Takjil ini disediakan di mushalla RW, menjadi menu berbuka untuk anak-anak, remaja, hingga orang dewasa yang datang sekaligus menunaikan salat magrib berjamaah. Dan entah bagaimana ceritanya, sejak dulu hingga sekarang, rumah orangtuaku selalu menjadi tempat pengumpulan takjil sebelum dibawa ke mushalla. Dari situlah cerita kecil ini dimulai. Setiap hari, ada nampan-nampan bekas wadah takjil yang harus dicuci. Aku mengambil peran mencucinya setiap selepas salat subuh.  saat mulai rutin melakukannya, usiaku remaja menuju dewasa, SMA hingga awal masa kuliah kira-kira. Usia di mana aku lebih memilih berinisiatif melakukan sesuatu daripada disuruh. Ya, seperti itulah pola pikir anak remaja pada umumnya  Masalahnya, aku sebenarnya sangat m...

Kembang Api, Mengukir Kenangan dengan Batasan

Kembang api dan petasan adalah hiburan ringan yang mungkin menjadi core memory bagi banyak orang. Percikan bunga api yang indah membuat siapa pun yang melihatnya terkesima. Bagiku, kembang api adalah bagian dari kenangan masa kecil yang tak terlupakan. Ia identik dengan keramaian, tawa, dan kebersamaan. Biasanya, aku memainkan kembang api saat tahun baru bersama keluarga.  Namun, seiring bertambahnya usia dan bertambahnya pemahaman tentang agama, aku mulai melihat kembang api dengan cara yang berbeda. Aku tidak lagi merayakan tahun baru dengan hingar-bingar.  Sejujurnya, aku baru benar-benar menyadari sisi lain dari perayaan ini setelah menikah. Waktu itu, aku pernah mengajak suamiku pergi ke Monas pada malam tahun baru, sekadar ingin menikmati pemandangan kembang api bersamanya. Suamiku, yang hampir tidak pernah menolak permintaanku, menolak saat itu. Ia mengatakan bahwa ia khawatir jika kami berada di tengah keramaian orang-orang yang sedang bermaksiat, lalu Allah menurunka...

Dari "Aku" Untuk Siapapun yang Mau Membaca

Jika ditanya, mengapa aku selalu menulis tentang “aku”? Mengapa tidak menulis secara umum, sehingga bisa dibaca oleh semua kalangan tanpa perlu mendengar ceritaku? Jawabannya karena aku hanya benar-benar mengenal diriku sendiri. Aku sering memikirkan kejadian yang kualami seharian. Mengintrospeksi dan menilai sikapku. Dari situ aku belajar memahami tingkah lakuku, hal-hal yang secara alamiah kusukai, dan sebaliknya. Ketika menulis secara umum, aku perlu membuat banyak pernyataan besar tentang orang lain. Aku juga perlu berusaha memahami sudut pandang orang lain, problem, dan situasi yang tidak selalu bisa kubayangkan. Tapi saat menulis tentang diriku sendiri, latar ceritanya nyata, based on my own experience, ceunah! Karena itu, aku merasa cerita yang kuhadirkan dari pengalaman pribadi terasa lebih mengalir. Lebih hidup karena lahir dari kejujuran. Bukan sekadar teori atau bayangan, tapi perasaan yang benar-benar pernah dirasakan. Aku juga merasa, membuka tulisan dengan ceritaku sendir...

Menulis; Dulu Hingga Nanti Bag.2

Perjalananku menulis di blog dimulai dengan cara yang agak konyol. Setelah membuat alamat blog, aku justru meng- copy paste artikel dari website lain dan memuatnya di blogku. Memalukan, tapi itulah postingan pertamaku. Saat itu aku belum paham bahwa hal tersebut termasuk plagiarisme. Yang kupikirkan hanya bagaimana caranya agar blogku punya isi dulu. Bukan untuk membenarkan, tapi bagiku itu adalah titik awal belajar lebih memahami dunia kepenulisan. Perlahan, aku mulai menulis hal-hal yang benar-benar ingin kutulis. Aku punya beberapa tabungan tulisan di file laptop, dan sebagian yang layak tayang mulai kuposting di blogku. Menuliskan cerita-cerita “seru” versiku sendiri di blog ternyata menyenangkan. Aku tidak peduli pada SEO atau hal-hal teknis seperti adsense . Bagiku, bisa menulis saja sudah membuatku bahagia. Aku yang dulu menulis di kertas secara manual--yang kalau salah harus dihapus dengan tip-ex, atau ditulis ulang demi hasil yang layak dipajang di binder atau dikirim ke maja...

Menulis; Dulu Hingga Nanti

Menulis selalu hadir di berbagai fase hidupku. Aku bukan orang yang mudah terbuka atau melekat pada orang-orang tertentu. Bahkan saat dekat dengan teman, aku tidak mampu menceritakan seluruh rahasia hidupku. Itu sebelum aku bertemu suamiku. Aku bukan orang yang memiliki keahlian berbicara. Bukan pula orang bersuara keras yang terdengar sepenjuru ruang. Aku juga bukan orang dengan visual atau kepribadian yang begitu menarik hingga diperhatikan banyak orang. Kadang aku ingin bercerita, tapi terlalu banyak pertimbangan. Apakah hal yang kuceritakan ini penting bagi pendengar? Apakah lawan bicaraku siap mendengar sampai tuntas? Apakah ini termasuk hal yang terlalu pribadi? Menulis terasa seperti memiliki seorang teman yang mendengarkan dengan baik, dan mampu menjaga rahasia. Tanpa rasa takut dihakimi atau dianggap berlebihan. Saat butuh validasi, aku menulis untuk menemukannya. Saat butuh solusi, aku menulis dan merapikan langkah penyelesaianku. Jika dulu dengan pena, sekarang aku menulis d...

Perjalanan Panjang Bag. 16

Ruang bersalin itu mirip seperti IGD. Ada beberapa ranjang yang dipisahkan oleh gorden, dengan satu meja untuk para petugas di tengah. Saat itu kira-kira ada tiga orang pasien, termasuk aku. Sesampainya di sana aku kembali berbaring. Lagi-lagi aku diperiksa dalam, masih pembukaan dua, dan lagi-lagi ditanyai pertanyaan yang sama persis dengan yang baru saja ditanyakan kepadaku sekitar lima belas menit sebelumnya di IGD. Padahal menurut suamiku, catatan dari IGD tadi dipegang oleh bidan yang bertugas di ruang bersalin ini. Agak aneh, bukan? Sempat terlintas di pikiranku, apakah mereka ingin mengetes batas kesadaranku atau bagaimana sebenarnya? Aku hanya berpindah dari IGD ke ruang bersalin, tapi rasanya seperti berpindah rumah sakit. Tentu saja ini hanya pertanyaan di kepalaku. Tidak perlu dianggap terlalu serius. Aku tidak sedang menghujat atau mencela tenaga kesehatan. Aku hanya mempertanyakan sebuah kejadian yang terasa di luar nalarku saat itu. Tidak lama kemudian seorang bidan masuk...

Perjalanan Panjang Bag.15

Aku mengecek jam. Ternyata sudah pukul 01.45. Sudah dini hari, rupanya hari sudah berganti. Dengan langkah terpincang-pincang dipapah suami, aku berjalan menuju parkiran mobil. Jalan menuju rumahku hanya setapak, jadi mobil tidak bisa dibawa sampai ke depan rumah. Meski kontraksinya masih terasa lemah, aku dan suamiku sepakat untuk langsung menuju rumah sakit. Kami tidak mampir ke klinik bidan terdekat. Di kehamilan ini, aku banyak berhusnuzan kepada Allah. Itu semacam afirmasi positif yang kutanamkan kepada diriku sendiri. Aku berharap rasa kontraksi yang masih ringan ini karena toleransiku terhadap rasa sakit sudah meningkat. Karena kontraksinya sudah teratur, aku juga berharap pembukaannya sudah cukup banyak. Ditambah lagi jalanan di sekitar rumahku yang rusak parah, alih-alih membahayakan, aku berharap justru membantu memperlancar proses kelahiranku. Aku meminta suamiku untuk tidak terlalu terburu-buru. Kontraksinya masih bisa kutahan. Aku hanya tidak ingin kesakitan karena guncang...

Perjalanan Panjang Bag. 14

Gambar
Sambil menunggu suamiku mengangkut koper dan kebutuhan melahirkan ke mobil, aku bersiap-siap memakai baju, kerudung, dan kaos kaki. Saat itu pukul sembilan lewat, entah kenapa kontraksi tiba-tiba berhenti. Aku menunggu selama setengah jam, tetapi masih belum ada susulan. Aku meminta suamiku mematikan mesin mobil dan menyuruhnya tidur terlebih dahulu agar nanti siap begadang. Anak-anak juga kuminta untuk tidur. Aku memberi tahu mereka aku mungkin akan segera melahirkan. Jadi jika nanti pagi aku tidak ada di rumah, kami akan berkomunikasi lewat ponsel. Mungkin agak siang sedikit, tante mereka--adik kandungku--akan datang ke rumah. Anak-anak memasang alarm pukul lima pagi agar bisa bangun untuk salat Subuh. Anak-anak sempat bertanya apakah mereka harus masuk sekolah besok. Aku menjawab lebih baik tidak, agar mereka tidak keteteran. Tapi malam itu Umar dan Romi justru bilang ingin tetap sekolah. Its ok. Seragam sekolah sudah kusiapkan, dan mereka juga berangkat dengan berjalan kaki. Jadi k...

Perjalanan Panjang Bag.13

Tanggal 29 Desember, anak-anakku mulai kembali masuk sekolah. Sudah sekitar sebulan aku tidak menjemput Romi ke sekolah. Rasanya badanku semakin berat saja, ditambah sakit yang sangat mengganggu di tulang selangkanganku. Berjalan biasa pun terasa payah, apalagi harus melalui jalan menanjak dengan tangga menuju sekolah Romi. Aku bilang padanya untuk pulang sendiri, toh sekolah Romi dan rumahku masih berada dalam kompleks pesantren yang dijaga oleh security. Jaraknya juga hanya dua menit berjalan. Saat Romi bertanya kapan aku bisa kembali menjemputnya, aku hanya bisa memberi harapan. Insya Allah nanti setelah adiknya lahir.  Tugas belanja pekanan kembali dihandle oleh suamiku. Aspal jalan di sekitar rumah rusak sangat parah karena ada proyek pembangunan bendungan di dekat sini. Truk besar lalu lalang setiap hari. Ditambah air hujan yang menggerusnya, jalanan menjadi hancur tak karuan. Melewati jalan dengan kondisi seperti itu membuat perutku kencang. Kadang sampai sakitnya benar-bena...

Rezeki yang Tidak di Dompet

Gambar
Banyak orang mengukur kebahagiaan berdasarkan uang. Katanya, kalo disuruh menyebutkan hal dalam pernikahan yang paling disukai istri, jawabannya uang, banyak uang, dan uang tak terbatas. Ya nggak salah juga, sih. Siapa coba yang nggak doyan uang? Sekilas memang uang itu bisa menuntaskan segala permasalahan. Bahkan ada yang bilang kalau uang itu obat segala penyakit. Waduh! Sebagai ibu rumah tangga yang tidak punya penghasilan tetap, aku merasa bahwa uang memiliki manfaat yang banyak. Gimana enggak, bahan masak, sandang, papan, pangan, biaya pendidikan anak, biaya upgrade skill, semuanya menggunakan uang. Belum lagi jatah jajan, skincare, dan hiburan. Namun sebetulnya, uang bukan satu-satunya sumber kebahagiaan. Punya uang itu bagus, tapi apakah jika tidak banyak uang, lantas hidup harus nelangsa dan murung? Bagi ibu-ibu yang sekarang uangnya masih terbatas, belum sesultan orang-orang yang flexing sana-sini, yang ketika belanja masih harus membandingkan pricetag , bolak-balik marketpla...

Uang Lebaran (bag. 2)

3. Membeli Sesuatu yang Diinginkan Sebagai orangtua dari golongan "kaum mendang-mending" yang penuh perhitungan, kadang kami berpikir daripada uangnya digunakan untuk membeli barang yang kurang berguna, mending ditabung. Kadang kita lupa bahwa sanak saudara memberikan uang lebaran untuk anak-anak kita. Sudah sewajarnya jika sebagian uang itu benar-benar dinikmati. Apalagi momen lebaran itu seperti momen hangat setelah sebulan menahan diri. Wajar jika mereka ingin merayakan kemenangan dengan cara mereka.  Karenanya, aku menerapkan sistem budget pada anak-anakku. Misalnya, aku membawa mereka ke toko mainan dengan memegang uang sebesar 150 ribu rupiah. Mereka bebas memilih apa saja yang harganya sesuai. Bagaimanapun juga, toko mainan memang berisi barang untuk dimainkan. Kadang mereka meminta barang yang lebih spesifik, misal sepatu roda, sepeda, jam, atau lainnya. Intinya bagaimana agar anak-anak merasa memiliki otoritas untuk membelanjakan hak mereka tanpa bersikap hedon dan i...

Uang Lebaran

Gambar
Idul Fitri selalu menjadi momen menyenangkan bagi semua orang. Setelah berpuasa selama sebulan, hari terakhir ditutup dengan gema takbir. Esoknya berkumpul di tanah lapang untuk salat berjamaah, dan berlanjut silaturahmi ke rumah saudara dan kerabat. Hangat suasana idul fitri selalu menjadi memori indah bagi setiap orang sejak kanak-kanak, hingga dewasa dan memiliki anak. Suatu hal yang hampir selalu ada di setiap momen lebaran adalah THR atau uang lebaran. Tuan rumah biasanya membagikan uang untuk anak-anak yang datang berkunjung. Aku masih ingat rasanya, dahulu tiap lebaran, aku seperti cosplay menjadi orang kaya, menerima amplop dan nominal yang banyak bagi anak sekecil itu. Meskipun ujung-ujungnya uang itu bukan aku yang memakainya. Uang lebaranku hampir seluruhnya selalu kuserahkan ke Mama. Lucunya, aku tak merasa keberatan saat itu. Aku paham meski tak terlihat mata, uang itu pasti digunakan sebaik-baiknya untuk kebutuhanku di masa depan. Beda generasi, beda pula prinsip dan ca...

Anak-anak dan Algoritma

"Mah, tadi pas sholat si A sujud freestyle loh. Mama tahu? Dia sujud trus kakinya diangkat ke atas." Umar pulang dari solat tarawih membawa cerita yang menggebu-gebu. Aku bertanya apa yang terjadi setelahnya. Katanya, si A kemudian ditegur oleh salah satu jamaah salat dan langsung pulang. Aku jadi teringat beberapa hari yang lalu sempat lewat video serupa di FYP media sosialku. Sontak aku menasehati Umar, "lagi ngetren ya 'sujud freestyle' itu? jangan ikut-ikutan ya, Mar." "Iya, Mah. Aku pernah coba tapi pas lagi nggak salat," jawabnya. "Nggak papa kalau lagi nggak solat, asal hati-hati ya," pesanku. Aku mengakui bahwa mendidik anak di era digital ini, subhanallah, tantangannya luar biasa. Konten kreator mencari cara bagaimana agar bisa viral, anak-anak yang belum cukup umur mengakses internet tanpa batas, dan formula kombinasinya adalah orangtua membiarkan anaknya mengonsumsi segala hal di luar pengawasan. Jujur, aku pun kerap terjebak ...

Review: Meraih Hidup Bahagia

Gambar
Identitas Buku Judul buku: Meraih Hidup Bahagia Judul asli (jika ada): الوسائل المفيدة للحياة السعيدة Penulis: Abdurrahman Bin Nashir As-Sa'di Penerjemah: Abdullah Haidir Penerbit: www.rajhiawqaf.com  Al-Rajhi Endowment Tahun terbit: 2002 Jumlah halaman: 49 Genre / tema: Nonfiksi Ulasan Buku ini membahas tentang tips-tips ringkas untuk hidup lebih bahagia. Penulis merangkum 21 poin penting yang perlu diketahui seorang muslim agar bisa lebih tenang menjalani hidup dan jauh dari kegelisahan. Tentunya di sini penulis memberikan dalil-dalil syar'i yang shahih dan dapat dipertanggungjawabkan. Sekitar belasan tahun lalu, saya sudah pernah menyimak pembahasan buku ini (versi bahasa Arab) melalui kajian di sekolah. Membaca ulang buku versi terjemahan menjadi upaya memurojaah dan berharap mendapat insight tambahan yang mungkin terlupa atau terlewat. Salah satu gagasan penting dalam buku ini adalah bagaimana regulasi emosi dapat memengaruhi kesehatan mental seseorang. Sikap t...

Ringkasan: Tips Hidup Bahagia (3)

13. Pandai Bergaul Dalam berinteraksi dengan manusia, kita pasti menemui kekurangan orang lain, sebagaimana kita juga melihat kelebihannya. Dalam pergaulan, penting untuk lebih mengingat kebaikan seseorang daripada terus memusatkan perhatian pada kekurangannya. Dengan demikian, hubungan pertemanan dapat tetap terjalin dan komunikasi berjalan dengan baik. Rasulullah ﷺ bersabda: لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً، إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا خُلُقًا آخَرَ Artinya: “Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika ia tidak menyukai satu sifat darinya, maka ia akan ridha dengan sifatnya yang lain." HR. Muslim. 14. Tidak Tenggelam dalam Kesedihan Dasar kehidupan yang baik adalah hati yang tenang dan tenteram. Jika suatu saat ditimpa kesedihan, seorang muslim sebaiknya tidak larut terlalu lama dalam kegundahan, tetapi berusaha bangkit dan kembali menjalani kehidupannya dengan sabar dan berharap kepada Allah. 15. Membandingkan Kesulitan dan Kemudahan yang Didapat Jik...

Ringkasan: Tips Hidup Bahagia (2)

7. Melihat Orang yang Berada di Bawah, Bukan di Atas Ada sebuah hadis yang menjelaskan hikmah dari sikap ini. اُنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَلَّا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ “Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian (dalam urusan dunia), dan jangan melihat kepada orang yang berada di atas kalian. Hal itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepada kalian.” HR. Bukhari-Muslim  Seorang yang lebih banyak melihat ke "bawah" akan lebih mudah mensyukuri yang ia miliki dan terhindar dari rasa iri dan dengki.  8. Melupakan Penderitaan Masa Lalu yang Tidak Dapat Dihindari Manusia tidak memiliki kuasa untuk mengubah masa lalu. Karena itu, seorang muslim tidak perlu terus memusatkan pikirannya pada keburukan atau kegagalan yang telah terjadi. Yang perlu dilakukan adalah berikhtiar melakukan yang terbaik untuk masa depan, dan menyerahkan hasil akhirnya d...