Perjalanan Panjang Bag.10

Sedikit kembali ke awal. Aku baru mengingat momen ini saat melihat galeri foto di ponselku.

Di bulan kedelapan kehamilan, saat kontrol ke rumah sakit, aku sempat bertanya kepada dokter,

“Dok, jarak dari rumah ke sini kurang lebih 45 menit. Kira-kira nanti, kalau kontraksi datang, saya menunggu sampai durasi berapa menit sekali sebelum berangkat ke RS?”

Jawaban dokter cukup mengejutkanku. Ia mengatakan bahwa kendati kondisi ketuban, plasenta, dan posisi janinku dalam keadaan sangat baik, menurut pengamatannya, SBR-ku--segmen bawah rahim, alias bekas jahitan di rahim-- terlihat tipis. Kondisi itu dinilainya berisiko jika aku harus melahirkan normal. Khawatirnya akan ada robekan dalam yang akan membawa dampak kurang baik di kehamilanku selanjutnya--jika aku hamil lagi.  Tiba-tiba ia menyarankan agar aku menjalani operasi sesar pada bulan berikutnya, sekitar tanggal 28 Desember. Namun ia juga menambahkan, jika aku mengalami kontraksi alami di antara tanggal 21–25, yang berarti sebelum HPL—aku masih memungkinkan untuk melahirkan normal.

Perasaanku saat itu campur aduk. Aku bahkan tidak menanyakan berapa SBR-ku saking speechless-nya. Rasanya seperti harus putar balik ke titik awal setelah maraton demikian jauh. 

Yang aku rasakan, kecewa karena kemungkinan besar tidak bisa melahirkan normal.

Di sisi lain, aku berada dalam fase penyangkalan: rasanya SBR-ku baik-baik saja, toh sejauh ini aku tidak merasakan nyeri apa pun di area bekas jahitan. Dan bahkan di bulan sebelumnya, dokter S menyatakan ketebalan SBR-ku bagus. 

Di satu sisi lagi, aku percaya dokter tentu menginginkan yang terbaik.

Namun di sisi yang lain, terbesit keinginan untuk mencari second opinion.

Jika aku harus mencari second opinion, maka rumah sakit dan dokter yang mau tidak mau harus kupilih adalah dr. W di rumah sakit P. Aku sempat mencari informasi tentang beberapa klinik lain yang dekat dengan rumahku, tetapi tidak satu pun memiliki dokter obgyn perempuan.

Suamiku memberiku kebebasan penuh. Jika aku ingin mencoba, kami bisa berkonsultasi ke dr. W dan berpindah ke rumah sakit P. Bisa dibilang suamiku tidak banyak membantuku dalam menentukan keputusan, aku paham ia hanya tidak ingin membebaniku melakukan sesuatu yang tidak kuinginkan. Maka seoekan penuh aku memikirkan banyak hal, bebagai variabel, dan beberapa sudut pandang. 

Waktu berlalu dan aku masih gamang. Bukan soal siapa dokternya, atau berapa biaya rumah sakitnya. Pada titik itu, aku merasa sudah terlanjur lelah secara mental. Ini sudah bulan ke delapan. Apakah tidak terlalu terlambat untuk berganti dokter? Sementara semua rekaman pemeriksaan dan USGku ada di rumah sakit H. Apakah aman? 

Ada juga kekhawatiran yang terus berputar di kepalaku: bagaimana jika dr. W juga menyatakan hal yang sama, bahwa aku harus sesar? Aku takut keputusasaanku justru akan semakin dalam. Dan akhirnya dengan agak nekat, aku memilih untuk tidak mencari second opinion.

Meski sudah semacam “divonis” harus sesar, aku memilih bersikap seolah tidak pernah mendengar pernyataan itu dari dr. S. Aku tetap mengikuti kelas hypnobirthing yang sudah kudaftar dan kubayar sejak jauh hari. Aku menjalani latihannya, melakukan afirmasi positif, menyimak podcast-podcast tentang persalinan normal, dan tetap menjaga harapan kecil itu.

Nothing to lose, pikirku. Jika memang Allah menakdirkanku harus menjalani operasi, maka belajar dan berlatih tetaplah bentuk tawakalku, tawakal dengan ikhtiar yang dimaksimalkan, sebelum akhirnya berserah sepenuhnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

15 Kata-Kata Bahasa Arab Sedih dan Artinya [+Gambar]

35 Quotes About Love dan Artinya

Review: All Creatures Great and Small by James Herriot