Perjalanan Panjang Bag.11
Di bulan ke sembilan, anak-anak memasuki masa penilaian akhir semester. Kali ini, aku mempersiapkan ujian untuk tiga anak sekaligus. Romi, dengan pelajaran yang masih sangat sederhana, tidak menyita banyak waktu. Jihan, kelas lima, yang sudah kuterapkan belajar mandiri sejak tahun lalu, biasanya hanya datang untuk melaporkan progres belajar atau menanyakan bab yang belum ia pahami.
Fokus utamaku ada pada Umar, kelas tiga, yang masih membutuhkan bimbingan dan bantuan lebih intens.
Alhamdulillah, dan bisa dibilang ini agak tumben, masa belajar menjelang PAS kali ini berjalan tanpa banyak drama. Tidak ada fase ngambek atau tantrum seperti yang sering terjadi sebelumnya. Aku merasa lega, sangat terbantu, dan diam-diam berterima kasih kepada anak-anak.
Masa ujian anak-anak, entah mengapa, selalu menjadi masa yang menegangkan bagiku. Tanpa pernah menekan mereka untuk meraih nilai atau peringkat tertentu, aku tahu betul bahwa mereka akan merasa bangga jika tidak perlu menjalani remedial. Maka, yang bisa kulakukan hanyalah mengajarkan teknis belajar: bagian mana yang perlu digarisbawahi, dihafalkan, dan dilatih kembali.
Alhamdulillah, pada PAS kali ini, Jihan dan Umar tidak menjalani remedial. Saat pengambilan rapor pun, nilai mereka berada di atas KKM. Tentu semua itu pertama-tama dengan izin dan kemudahan dari Allah, lalu disusul oleh usaha mereka yang tekun serta kemauan kuat untuk mempersiapkan diri.
-----
Tibalah masa liburan semester. Tahun ini, tentu saja kami sekeluarga tidak mudik. Pesantren menjadi sepi karena santri-santri pulang ke rumah masing-masing; hanya tersisa beberapa guru yang menetap. Di saat banyak orang membagikan momen liburan yang menyenangkan, kami justru lebih banyak di rumah, tanpa kegiatan khusus. Anak-anak sempat mengeluh bosan. Aku hanya bisa meminta pengertian mereka dan berjanji, jika nanti bayi sudah cukup umur, kami akan jalan-jalan ke tempat yang menyenangkan, insya Allah.
Beruntungnya, di hari ke sekian, beberapa guru mengadakan acara liburan bersama keluarga ke Ragunan, dan anak-anakku diajak turut serta. Karena aku dan suami sedang berada dalam masa “siaga”, hanya Jihan dan Umar yang ikut. Itupun setelah beberapa ustadzah menawarkan diri untuk membantu mengawasi. Bukan liburan yang mewah, namun tetap menghadirkan kenangan indah karena dijalani dengan penuh syukur.
Romi, dengan berat hati, kami tahan di rumah. Aku khawatir jika ia ikut, ia akan terlalu bergantung pada kakaknya dan justru mengurangi kenikmatan kakak-kakaknya selama berlibur. Sebagai gantinya, Romi diajak suami berjalan-jalan di sekitar rumah dan membeli es krim. Semua bahagia, dan aku pun bisa menikmati me time di rumah.
-----
Pada jadwal kontrol berikutnya, sambil menunggu dipanggil ke ruang dokter, aku dan suami sempat mendiskusikan waktu yang akan kami pilih jika benar-benar harus menjalani operasi sesar. Aku sudah menyiapkan mental sedemikian rupa, berusaha mengikuti semua yang dokter anjurkan.
Saat masuk poli, dokter melakukan pemeriksaan USG. Janin dalam kondisi sehat, dengan perkiraan berat 2.800 gram. Plasenta aman, kepala bayi sudah berada di bawah, dan posisinya baik. Yang sangat melegakan, dokter tidak membahas perihal sesar. Aku juga tidak berniat untuk memancing perbincangan ke arah sana. Diam-diam aku bersyukur tidak terlalu mengambil fikir pernyataan beliau bulan lalu terkait rencana sesar.
Dokter menyampaikan bahwa usia kehamilanku sudah sangat dekat dengan HPL. Tinggal menunggu kontraksi alami. Jika belum juga datang, aku bisa kembali kontrol sepekan kemudian, pada tanggal 29 Desember.
Aku juga menjalani pemeriksaan kadar hemoglobin. Jika pada empat bulan sebelumnya angkanya hanya 9,8, kali ini alhamdulillah hasilnya 11. “Sangat baik,” kata dokter. Semua kondisi dinilai siap untuk menjalani persalinan pervaginam.
Aku bersyukur kepada Allah atas segala kelancaran yang ia berikan. Hatiku sungguh berbunga. Aku berterimakasih pada diriku yang bersabar menahan rasa anyir pil penambah darah yang musti kuminum tiga kali sehari. Juga karena aku mau berusaha menelan rasa earthy buah bit yang kuminum setiap hari sepekan terakhir. Semua tidak akan mampu kulalui tanpa izin Allah dan taufik dari-Nya.




Komentar
Posting Komentar