Perjalanan Panjang Bag.12
Tanggal 18-25 Desember, adik iparku datang ke rumah. Ia berjaga-jaga jika aku melahirkan di rentang waktu tersebut.
Lalu pada tanggal 25-29 Desember, keluargaku dari Semarang datang. Mereka sekalian mengantar adikku pulang setelah liburan.
Sejujurnya, aku merasa lega. Aku bukan tipe orang yang mudah meminta tolong. Makanya sejak awal aku mempersiapkan segalanya, agar jika pun minta bantuan, aku tidak terlalu membebani. Tapi alhamdulilah bantuan datang tanpa kuminta. Orangtuaku bahkan membawa bahan masakan dari Semarang, memasakkan masakan enak untukku berhari-hari, dan mengajak anak-anakku berlibur. Aku jadi bisa beristirahat sejenak dan berfokus pada olahraga untuk memancing kontraksi.
Skenario meninggalkan anak-anak di rumah tanpa pengawasan akhirnya tidak perlu lagi kukhawatirkan. Di masa liburan--saat pesantren sedang sepi-sepinya-- alhamdulilah ada keluarga yang siap berjaga.
Tentu saja, aku berharap bayiku lahir di hari-hari itu. Namun Allah memilihkan waktu yang lain, dan pilihan Allah adalah yang terbaik bagiku.
-----
Sebetulnya sejak tanggal 27 Desember, aku mulai merasakan kontraksi. Yang biasanya hanya kencang, hari itu betul-betul mirip dengan kontraksi menjelang lahiran. Datangnya beberapa kali, cukup intens tapi tidak terlalu kuat, dan hanya beberapa sehari sebelum akhirnya menghilang. Aku bahkan mengunduh aplikasi penghitung kontraksi untuk membantuku mencatat dan memantau polanya.
Aku berusaha untuk berjalan lebih lama, 7.000 langkah perhari, bahkan pernah sampai 10.000 langkah. Di lapangan, mondar-mandir di dapur atau ruang tamu. Sebisa mungkin aku berjalan saat ada kesempatan. Suamiku ikut menemaniku sebagai penyemangat dan teman ngobrol.
Hingga tanggal 29 Desember saat keluargaku kembali ke Semarang dan anak-anak mulai kembali aktif sekolah, kontraksi itu belum juga berlanjut. Masih jarang dan sangat lemah. Aku sampai sempat berhusnuzhan apakah mendadak toleransi rasa sakitku meningkat?
Siang harinya, aku datang ke rumah sakit untuk kontrol. Yang menyebalkan, hari itu dokter masih cuti. Kata satpam dan bidan yang bertugas, dokter baru akan masuk keesokan harinya. Aku yakin tidak salah dengar, suamiku juga berada di ruangan yang sama saat dokter pekan sebelumnya mengatakan aku harus kembali kontrol pada tanggal 29.
Jujur saja, aku kesal. Jarak antara rumah dan rumah sakit tidak dekat. 14 kilometer! Waktu dan biaya yang dikeluarkan tidak sedikit. Belum lagi kondisi jalan menuju ke sana yang rusak parah. Bayangkan betapa sakitnya perut ini saat melewati jalan berlubang. Kendati suamiku sudah berusaha menghindari lubang-lubang itu sebisa mungkin, apa yang bisa diharapkan dari jalan yang setengahnya bukan lagi aspal, melainkan lubang menganga?
Hari itu seharusnya suamiku mengikuti pelatihan di Kota Bogor. Dan dengan sedikit egois, aku memintanya untuk izin tidak hadir. Terbayang, kan, bagaimana rasa bersalahku?
Untuk menghibur diri dan merasa perjalanan hari itu tidak sia-sia, aku bilang pada suamiku bahwa aku ingin makan es krim durian. Hitung-hitung ikhtiar dengan “induksi alami”. Kami berkeliling mencari bdengan bantuan maps, namun tidak menemukannya. Karena aku tidak mau makin patah hati dan ingin menghemat bahan bakar, aku meminta pulang saja dan mencukupkan diri dengan jus nanas.
Sesampainya di rumah, aku langsung tertidur lelap. Lelah secara fisik, pikiran yang penuh, dan perasaan tidak enak hati karena banyak hal bercampur menjadi satu.
Menjelang Asar, anakku pulang dari bermain di luar sambil membawakanku es durian dari sebuah toko di Bekasi yang kutahu rasanya sangat enak. Aku terheran akan keajaiban yang tiba-tiba datang. Rupanya, hari itu ada teman kantor suamiku yang sedang ada keperluan di Bekasi, dan bersedia dititipi es durian kesukaanku.
Saat itu juga, aku merasa sangat terharu. Mood-ku yang sempat runtuh perlahan kembali utuh.



Komentar
Posting Komentar