Always On
Aku membuka Threads setelah selesai menyusui anakku dan mendapati satu utas menarik. Bentuknya pertanyaan:
“Kenapa kalo ibu-ibu dibangunin, ditoel dikit langsung loncat dari kasur ampe yg bangunin juga kaget? Please jangan jawab secara medis."
Banyak ibu muda dan tua merespons. Dan aku terharu. Ternyata, tidak hanya aku yang selalu berada dalam mode always on. Banyak dan mungkin ibu-ibu sedunia merasakannya.
“Always on” mengingatkanku pada jargon kartu telekomunikasi yang dulu sempat aku gunakan. Sekarang, akulah yang always on itu.
Sejak menjadi ibu dua belas tahun lalu, aku merasa seperti selalu terjaga.
Di masa newborn, ketika tidur pun aku terbangun hanya karena mendengar rengekan anakku.
Saat sedang di dapur, kamar mandi, atau ruangan lain terpisah dari anakku, aku akan langsung ke kamar begitu mendengar tangisan. Bahkan saat tidak ada tangisan.
Karena bagi ibu yang punya bayi, kami punya insting bahwa sunyi lebih patut diwaspadai. Begitulah, tubuhku bergerak lebih cepat daripada pikiranku.
Memasuki masa toddler, kewaspadaan itu makin mengakar.
Aku refleks keluar ketika mendengar tangisan dari jauh.
Langsung menoleh saat seseorang memanggil “Mah”, meski aku tahu itu bukan suara anakku.
Aku bahkan bisa langsung menjawab pertanyaan kecil anakku saat sedang tenggelam dalam mimpi.
Otakku seperti memiliki sistem pemindai otomatis, menghitung jumlah anak, memastikan semuanya ada di ruangan pada waktu tertentu.
Jika kebanyakan orang butuh waktu mengumpulkan nyawa saat bangun tidur, aku tidak. Selagi untuk anakku, aku bisa langsung berdiri dan berjalan.
Bukan karena aku kuat, melainkan karena tubuhku telah belajar bahwa berjaga adalah bagian dari tanggung jawab.
Ketika anak-anak masuk usia sekolah, mode siaga itu berubah bentuk.
Aku terhenyak di tengah malam, takut kalau-kalau bangun kesiangan.
Aku selalu merasa terburu-buru menyiapkan sarapan dan bekal, tak ingin mereka terlambat.
Setiap malam aku memikirkan apakah seragam untuk besok sudah siap.
Dan jangan tanya saat masa ujian. Aku bahkan lebih dulu mempelajari kisi-kisi yang diberikan.
Semua ini bukan niat yang disengaja.
Tubuh ini menyesuaikan diri dengan ritme yang dijalani terus-menerus.
Selama dua belas tahun, aku tidak pernah libur menjadi seorang ibu.
Sejak mendengar tangisan bayi pertamaku, aku sadar mulai saat itu dan seterusnya, ada jiwa lain yang Allah titipkan padaku. Yang akan melekat dalam kepengasuhan dan tanggung jawabku yang akan diaudit langsung oleh Tuhan yang menciptakan.
Status sebagai ibu tidak memiliki tombol jeda. Kehidupan ini seperti video panjang yang terus berputar. Tidak diundur dan dipercepat juga.
Bukan tak ingin beristirahat, tetapi ibu paham kelalaian sekecil apa pun terasa berat di dada. Menyesal lebih menyesakkan daripada kelelahan. Karenanya, waspada menjadi kebiasaan, lalu menjelma bawaan.
Tubuh ini menerima bahwa peranku sebagai ibu bersifat permanen.
Selama hayat masih di kandung badan.
Selama napas masih berhembus.
Bahkan setelahnya, aku tetaplah ibu dari anak-anakku.
Selalu berada dalam mode always on tentu ada efeknya.
Kadang bentuknya kantong mata,
kadang kulit berjerawat,
kadang berat badan turun drastis,
atau sebaliknya, melonjak naik.
Seorang ibu menjaga dirinya bukan untuk dirinya sendiri, melainkan karena "aku punya anak". Sehingga anak menjadi sebab datangnya kekuatan dan semangat jiwanya.
Peran seorang ibu sering tidak dirayakan. Tapi ia tercatat oleh malaikat. Keikhlasan dan doanya tidak teraba, namun ia melangit merayu ridha-Nya.
Seorang ibu memperhitungkan segala kemungkinan terburuk berdasar cinta yang bertanggung jawab. Cinta yang tak banyak suara, tapi penuh kesiapan. Ia terlihat penakut, namun jiwanya senantiasa berdoa memohon perlindungan untuk orang terkasihnya.
Karena always on, aku memaklumi jika sesekali diriku lowbat. Karena itu, aku memaklumi diriku sendiri ketika suatu hari marah, kesal, dan sensitif dalam menjalani peran abadi ini. Perasaan baik dan buruk yang kurasakan adalah valid.
Ibadah dan doa adalah suntikan semangat, dan mengingat surga adalah boosternya.
Ketika sedang merasa gagal dalam hariku, dengan sepenuh hati kukatakan,
"oke, besok kita coba jadi lebih baik lagi".
Meminta cukup, tidak perlu sempurna.
Aku dan banyak ibu lainnya tidak selalu kuat,
tapi kami mencoba hadir.
Komentar
Posting Komentar