Rumah Rapi, Pikiran Ruwet

Aku pernah membaca sebuah tulisan: ketika pikiran berantakan, kita cenderung ingin membereskan rumah. Dan itu nyata terjadi padaku.

Semakin banyak cabang di kepalaku, semakin kuat keinginanku melihat sekeliling rapi dan teratur. Seolah-olah, jika luar tertata, yang di dalam akan menyusul.

Saat masalah batin terasa besar dan abstrak, aku merasa rumah adalah wilayah yang paling nyata. Ia bisa disentuh, dipindahkan, disusun. Ada awal dan akhir yang jelas. Berbeda dengan pikiran yang kusutnya tidak tahu dari mana, dan selesainya entah kapan.

Membereskan rumah bagiku terasa seperti sulap kecil. Satu demi satu benda berpindah tempat, dan ada rasa selesai yang bisa kulihat. Sesuatu yang jarang kudapatkan saat berhadapan dengan isi kepala sendiri.

Saat membersihkan rumah, rasanya seperti membuka ruang untuk pikiranku yang berdesakan. Seolah kekalutan itu dipersilakan keluar sebentar, mencari tempat duduk, lalu menunggu giliran untuk diurai.

Beberes bagiku bukan sekadar rutinitas, tapi aktivitas fisik yang menenangkan. Gerakan berulang menurunkan riuh di kepala. Dan anehnya, saat aku justru ingin berpikir, suara lap, sapu, dan air mengalir menjadi semacam white noise yang membuat fokus terasa lebih tajam.

Dibanding meledak, menghindar, atau memendam, aku memilih saluran yang lebih tenang. Energi emosional tidak kusumbat, tapi kualirkan.

Membereskan rumah itu melelahkan. Namun setelahnya, ada kelegaan. Setidaknya aku boleh bangga karena tidak mengumpat, tidak merusak, tidak melukai siapa pun. Setidaknya ketika aku berbicara sendiri di depan wastafel, energiku tercharge dan moodku naik sedikit. Setidaknya ketika aku bekerja sambil mendengarkan podcast atau murottal, ada insight "gratis" yang kudapatkan. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui.

Melakukan pembersihan rumah sama sekali berbeda dari kabur dari masalah. Aku hanya sedang mencari cara agar bisa tetap berdiri, sambil menunggu pikiran siap dibereskan.

Mungkinkah menjadi ibu rumah tangga itu rasanya seperti siput? Rumah adalah tempat tinggal, tempat mencari pahala, tempat bertumbuh, bahkan aku mendapat, memproses, mengurai masalah juga di dalamnya. Maka jika demikian, rumah adalah objek yang paling pantas dan memungkinkan untuk lebih dahulu kubereskan.

Jika hari ini aku belum mampu membereskan hidup, setidaknya aku sudah menjaga rumah tempat aku belajar bertahan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

15 Kata-Kata Bahasa Arab Sedih dan Artinya [+Gambar]

35 Quotes About Love dan Artinya

Review: All Creatures Great and Small by James Herriot