Jejak Cinta Yang Tersisa
Saat scrolling media sosial, aku melihat sebuah konten. Isinya tentang anak yang ibunya meninggal saat melahirkannya.
Ada narasi yang kurang lebih begini bunyinya, "Andai Mama tidak melahirkanku, mungkin Mama masih hidup sampai saat ini".
Aku mengalihkan pikiranku ke kolom komentar. Ternyata di luar sana ada banyak kisah yang sama sepertiku, ibu yang justru meninggalkan dunia tepat setelah melahirkan anaknya ke dunia. Aku, yang dilahirkan 34 tahun lalu. Sejenak rasanya seperti bercermin pada cerita orang lain.
Banyak komentar yang memberikan penghiburan, "Mamamu kini di surga, semoga ia syahid", "Mamamu pasti bangga", "Kamu hebat telah melewati ini semua"... komentar itu membuatku turut merasa terkuatkan.
Namun ada satu komentar yang membuatku tercekat. Membuat air mataku tak tertahankan, aku pun menangis tersedu begitu lama karenanya.
"Jika ibumu bisa mengulang waktu dan diberi pilihan, pasti ia akan kembali memilih untuk melahirkanmu".
Membaca komentar itu, rasanya seperti ada sebuah cahaya yang diletakkan di titik paling gelap hatiku. Air mataku tumpah ruah. Aku menangis bukan semata karena sedih dan rindu, aku lebih merasa dipeluk oleh kata-kata.
Untuk pertama kalinya, aku melihat diri bukan sebagai penyebab kehilangan, namun sebuah pilihan dari cinta.
Sebagai seorang anak yang ditinggalkan sekaligus menjadi penyebab ibuku pergi, aku juga kadang berpikir, andai aku tak dilahirkan, apakah hidup orang lain menjadi lebih mudah dan bahagia? Aku masih sering memikirkan itu meski telah belajar agama, mengulang puluhan kali bab menerima takdir.
Aku sering menyimpan kisah hidupku rapat-rapat. Bahkan dari teman-teman yang hidup seatap di pesantren bersamaku tujuh tahun lamanya. Di satu sisi aku ingin menghargai sosok ibu sambung yang telah menemani tumbuh kembangku, di sisi lain aku tak ingin dikasihani orang lain. Mungkin itu sebabnya tiap kali bercerita tentang ibu kandungku, air mataku tak dapat terbendung.
Kenangan tentangnya begitu tipis. Bisa dibilang aku tak mengenal apa pun tentangnya selain dari lembaran foto dan cerita yang dipotong-potong. Ada ruang yang tak bisa dijangkau oleh kenangan, membuat rindu terasa samar namun begitu pekat.
Aku pernah melalui masa-masa sulit. Sangat sulit sampai raung tangisku hampir meledak saat mengingatnya. Tapi aku juga berbangga dan berterima kasih pada tangan-tangan baik yang menaungiku dengan kasih sayang. Aku tahu Allah mengambil fisik ibuku, namun Ia seolah menitipkan cinta kepada banyak orang -keluarga besarku- untuk disampaikan kepadaku.
Aku menyadari bahwa aku ibarat jejak cinta ibuku. Tumbuh menggantikannya, mewarisi darahnya, meneruskan perjuangannya, meski aku tak tahu apa pun tentang cita-cita yang ingin ia gapai semasa hidupnya. Aku menjalani hidup dengan sebaik mungkin, menjadi seorang wanita cukup pantas untuk membuatnya bangga.
Mama, aku tahu Mama tak bisa membaca tulisan ini. Aku tahu jiwamu sedang berada dalam alam yang berbeda waktu dan dimensi. Namun kelak saat bertemu lagi, mari berpelukan, mencurahkan rasa yang tak sempat tersampaikan di antara kita. Aku harap Mama di sana bangga dengan kelahiran dan keberadaanku di dunia.
Terima kasih dan tak ada lagi yang dapat kukirim selain doa.
رب اغفرلي و لوالدي وارحمهما كما ربياني صغيرا
Ya Rabb, ampunilah aku dan kedua orang tuaku. Peluklah mereka dengan kasih sayang-Mu, sebagaimana mereka dulu memelukku dengan penuh cinta saat aku tak berdaya.

Komentar
Posting Komentar