Menulis Adalah Pensieve Versiku

Pensieve adalah benda fiktif dalam novel Harry Potter, berupa mangkuk batu perak tempat menyimpan ingatan. Para tokoh mengeluarkan benang putih dari kepala mereka, menyimpannya di sana, lalu mengamatinya kembali bila diperlukan.

Sebagai generasi milenial -Potterhead- yang tumbuh bersama terbitnya novel ini di tahun 2000-an, aku sempat berkhayal betapa serunya memiliki Pensieve. Andai bisa meluangkan kepala yang penuh, tidak terbebani dengan banyak kenangan yang sebagian di antaranya tidak terlalu bagus. Seperti kejadian mengesalkan dengan teman, atau pikiran tak penting yang melelahkan… asal jangan hafalan Qur’an yang ikut hilang.

Terkadang pikiran itu berjubel seperti lemari penuh berkas. Sebagian penting, sebagiannya ingin dihapus. Kadang pikiran itu menghantui bahkan saat rebah, bahkan menjelma dalam bentuk bunga tidur. To-do list yang tak kunjung selesai, pesan yang belum terbalas, atau kekhawatiran kecil yang kita simpan rapat-rapat.

Banyak hal membuat senang, sedih, khawatir... rasa yang kita sembunyikan dalam dada. Kita pendam, tak terlihat, bahkan tak sempat kita ceritakan pada siapa pun. Kadang memang tak sempat, kadang karena tak mau.

Di dunia nyata, bagiku, menulis di blog adalah Pensieve-ku. Setidaknya aku menganggapnya begitu sejak tahun 2010-an, saat kuliah. Aku menulis diary dan puisi sejak usia SD, tapi bertemu dengan dunia blogging dan media sosial menjadi awal yang berbunga bagiku.

Aku pernah menulis tentang rasa bersalah pada ayahku. Tentang rasa syukur memiliki teman baik yang pengertian di kampus. Juga tentang masa-masa ketika aku down, kehilangan arah, dan hanya bergantung pada bimbingan Allah. Saat itu, menulis membuat hatiku lebih ringan. Seperti melowongkan satu ruangan di hatiku. Menulis jadi jalan sunyi yang membuatku tetap waras.

Layaknya sebuah Pensieve milik Dumbledore, Snape, dan Slughorn, aku sering mengintip kembali tulisan lama. Kadang aku menganggapnya kekanakan, kadang aku terkenang, kadang aku terhanyut dalam tawa dan tangis saat teringat alasan tulisan itu dibuat. Kadang aku tertawa geli membaca betapa polosnya aku dulu, tapi juga terharu, karena itu bagian dari diriku.

Membuka kembali Pensieve-ku membuatku melihat langsung proses pendewasaanku. Dari bahasa yang dulu blak-blakan, kini lebih halus dan reflektif. Dari pola pikir yang dulu sumbu pendek, kini lebih tertahan dan teratur.

Dulu menulis adalah pelarian dari hal membosankan, sekarang menulis adalah jalan pulang untuk menemukan diriku. Menulis itu terkadang seperti berdiri di luar diri sendiri. Seperti masuk ke dalam Pensieve, melihat diri kita di dalamnya, sekaligus bukan diri kita juga.

Mungkin, inilah caraku merangkul diri sendiri.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

15 Kata-Kata Bahasa Arab Sedih dan Artinya [+Gambar]

35 Quotes About Love dan Artinya

Review: All Creatures Great and Small by James Herriot