Perlahan Menemukan (Kembali) Ritmeku
Setiap menjalani peran tambahan dalam hidup, hampir semua orang akan mengalami gangguan pada ritme hariannya. Contohnya orang yang semula bekerja di rumah lalu harus ke kantor. Atau seseorang yang naik pangkat atau mendapat jobdesk baru. Bisa juga ketika ikut program baru, memulai membangun kebiasaan baik, atau pindah ke lingkungan yang asing.
Semua itu ujian penyesuaian. Normal dan sering terjadi.
Aku pun merasakannya sebagai seorang ibu yang baru melahirkan bayi.
Meski ini anak keempatku, tetap saja ada rasa yang berbeda. Sebab hadirnya satu anggota keluarga baru selalu mengubah banyak hal.
Hamil besar, melahirkan, dan pemulihan pasca operasi sesar adalah rangkaian peristiwa yang membuat jadwal harianku harus disesuaikan dengan kondisi yang ada.
Satu bulan berlalu setelah melahirkan, alhamdulillah perlahan ritme hidupku mulai lebih teratur.
Berikut ini adalah cara-cara yang kulakukan dalam proses OTW mengembalikan ritmeku. Bukan ke ritme lama, tapi ritme yang membuatku nyaman.
1. Melakukan apa yang dimampu, sedikit demi sedikit
Pada awalnya aku hanya banyak berbaring. Suami lebih banyak melakukan semua pekerjaan rumah dan mengurus bayi. Saat aku mulai bisa duduk, aku mulai mengambil peran dengan mengganti popok bayi, menemaninya begadang, dan memangkunya saat menangis.
2. Menurunkan standar
Dalam kondisiku yang masih lemah, suami mengambil alih dapur. Ia memasak menu harian, menyiapkan bekal, dan melakukan oembersihan dapur.
Suamiku masih harus bekerja ke kantor setelahnya (karena masa cuti berakhir). Kadang dapur ditinggalkan dalam keadaan masih berminyak, perabot bergelimpangan, dan kilukit bawang yang belum dibuang ke tempatnya.
Di fase "ketidakberdayaan", aku memilih menutup mata. Menganggap semua itu normal.
Namun saat bayi tidur dan tubuh memungkinkan, aku mencoba membersihkan pelan-pelan. Jika bayi menangis atau luka jahitan terasa nyeri, aku berhenti.
3. Tidak merasa bersalah
Belajar no feeling guilty adalah kunci penting.
Merasa bersalah berlebihan justru bisa menambah stres dan memengaruhi peran kita sebagai ibu.
Alih-alih menyalahkan diri, aku memilih fokus pada pemulihan. Aku mengingatkan diri bahwa perubahan ritme ini, insya Allah, hanya sementara.
4. Memberi pemahaman pada keluarga
Musim hujan, cuaca dingin, pengering mesin cuci sedang rusak. Aku harus memeras manual dan menjemur di teras bawah kanopi.
Akibatnya, pakaian anak-anak lama kering.
Saat mereka bertanya, “Mah, celanaku kenapa belum kering?”, aku menjelaskan kondisi apa adanya.
Solusinya, celana yang baru dipakai siang hari, dipakai ulang pada sore harinya. Kebetulan di musim hujan kali ini, anak-anak tidak banyak minta izin mandi hujan.
Keluarga diajak memahami kondisi dan melakukan langkah untuk "survive".
5. Tidak menunda saat mampu
Selain urusan rumah, aku punya tugas online: menyimak materi kuliah, mengerjakan tugas, dan menulis blog.
Karena setiap tugas punya deadline, aku memilih mengerjakannya selagi mampu.
Seperti target menulis KLIP, aku usahakan menulis di awal bulan semampuku. Kadang selesai cepat, kadang tertunda. Yang penting ada ikhtiar lebih awal, karena kita tidak tahu kesibukan apa yang datang belakangan.
6. Menyusun ulang prioritas
Aku belajar memilah mana yang wajib, mana yang bisa ditunda, mana yang sebenarnya bisa dihapus. Seperti mengiklankan dagangan, sejak melahirkan aku hiatus dari dunia perbakulan.
Dalam kondisi yang tidak ideal, skill memilah prioritas sangat dibutuhkan.
7. Fleksibel dengan waktu
Aku tidak lagi kaku dengan jam. Yang kupakai adalah blok energi.
Saat badan terasa enak, aku kerjakan hal berat. Saat energi turun, aku istirahat atau mengerjakan yang ringan.
Bagiku saat ini, menyetrika masuk kategori berat. Karena cuaca, pakaian yang seharusnya bisa kering alami harus dibantu dengan panas setrika. Alhasil tumpukan baju setrikaku bertambah. Yang biasanya sekali menyetrika selesai semua, dalam kondisi ini, aku bisa melakukannya 2-3 kali sepekan, tentunya dilakukan sedikit demi sedikit.
8. Ikhlas dan legowo
Ritme baru tidak akan sama dengan ritme lama. Hal ini bukan kegagalan.
Ritme setelah melahirkan tentu akan berbeda. Lebih lambat, lebih banyak jeda, dan standar keberhasilannya lebih sederhana. Menerima dan merasa ridha dengan keadaan membuat hati lebih tenang dan bahagia.
Standar ideal itu fleksibel, disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada.
9. Menjaga kesehatan dan fokus pemulihan
Pulih adalah prioritas.
Tubuh adalah amanah, dan menjaganya bagian dari ibadah. Tanpa tubuh yang sehat, ritme apa pun sulit dijalani.
Seorang ibu boleh saja memikirkan anaknya lebih sering dari diri sendiri. Namun anak-anak juga butuh ibu yang sehat, bahagia jiwa dan raga untuk mendampingi mereka.
11. Tidak apa-apa merasa lelah
Lelah bukan tanda gagal. Tidak mengapa mengeluh ketika merasa kesulitan. Tak masalah beristirahat sejenak untuk mengambil nafas.
Ibu juga manusia.
Komentar
Posting Komentar