Membangun Negeri Dari Rumah Bag.2

Sebagai lanjutan dari tulisan kemarin tentang membangun negri dari rumah, hari ini aku ingin membahas nilai-nilai lain yang rasanya makin relevan untuk ditanamkan pada anak-anak kita. Nilai-nilai sederhana yang berasal dari keresahan hati seorang anak bangsa, anak yang sudah menjadi ibu dan merasa punya tanggung jawab besar. 

3. Berwawasan dan Berpikir Kritis

Mendengar seorang pemimpin berkata di hadapan publik, “sawit kan juga pohon, ada daunnya, bisa menyaring karbon dioksida,” atau “sawit adalah karunia, bisa dijadikan bahan bakar bla bla bla,” "kota akan mencabut ozin tambang-tambang ilegal," tawaku sering terpancing. Tawa pahit, tentu saja. Rasanya seperti menonton stand up comedy, hanya saja yang ditertawakan adalah akal sehat kita bersama.

Yang lebih membuat miris adalah para audiens yang konon cerdas, hanya mengangguk mengiyakan pernyataan yang jelas-jelas keliru. Seperti kerbau dicucuk hidungnya. 

Dari situ aku makin sadar bahwa anak-anak perlu dibesarkan dengan wawasan yang luas dan kemampuan berpikir kritis. Mereka perlu membaca buku, menonton tayangan edukatif, mencari informasi dari sumber yang benar, bertanya, dan tidak malu mengakui ketidaktahuan. Orang tua pun sebaiknya mendukung anak menyampaikan pendapat dengan adab, tanpa membungkam mereka hanya karena “yang tua harus selalu benar.”

Anak-anak yang berwawasan dan kritis akan menjadi aset bagi keluarga dan negara. Dalam Islam, konsep amar ma’ruf nahi mungkar, mengajak pada kebaikan dan melarang dari keburukan. Agama mengajarkan kita untuk saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.

Negara tidak hanya butuh orang baik, tapi juga orang cerdas. Dan kecerdasan itu, selayaknya semua nilai penting lainnya, ditanamkan pertama kali di rumah.

4. Bersosialisasi, Membumi, dan Tidak Banyak Gaya

Pemimpin yang baik harus berpijak di atas tanah. Tidak hanya tampil rapi dengan rompi anti peluru, pencitraan, dan gaya bak selebritas saat bencana.

Anak-anak perlu belajar bersentuhan dengan dunia nyata. Berani kotor, mencuci piring, membersihkan kotoran hewan peliharaan,  menyikat kamar mandi, menyapu halaman, mengepel, atau membuang sampah ke tempat penampungan. Rasa jijik, bau, dan gengsi perlu diletakkan di belakang.

Membersihkan itu pekerjaan mulia, menjaga lingkungan, menghasilkan keindahan. Petugas kebersihan, petugas drainese, tukang sedot WC, peternak, petani, yang sehari-hari berurusan dengan kotoran jauh lebih mulia daripada mereka yang tampil necis, wangi, dan serba putih… tetapi “bermain kotor” dalam hidupnya.

5. Bekerja dalam Tim

Sering kali negara ini gagal bukan karena kurang sumber daya, tetapi karena pejabatnya sibuk pencitraan dan miskin koordinasi. Saat rakyat bergotong royong membantu korban bencana, mereka malah merasa tersaingi. Bergeraknya lambat, tetapi mudah tersulut emosi ketika melihat masyarakat terlebih dahulu datang menjadi pahlawan.

Padahal membantu sesama tidak pernah dimaksudkan untuk menyaingi siapa pun. Gotong royong adalah jiwa bangsa ini sejak lama.

Di rumah, aku sering meminta anak-anak bekerja sama dalam hal-hal sederhana. Misalnya saat membersihkan halaman, ada yang menyapu, ada yang mengepel teras, ada yang merapikan sandal. Dikerjakan seorang diri terasa berat dan ogah-ogahan. Namun jika dilakukan bersama akan lebih ringan dan menyenangkan.

Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Bukankah itu peribahasa yang kita hafal sejak kecil dulu? Namun ternyata saat dewasa, kita lebih mendahulukan ego dan persaingan yang tidak sehat. Ingin merasa menang, maruk pujian, dan haus validasi. 

Meminta bantuan bukan berarti lemah. Membantu bukan berarti menjadi babu.

Itu nilai yang ingin kutanamkan: bekerja sama berarti berkoordinasi, membagi tugas sesuai kemampuan, dan belajar menjadi pemimpin sekaligus pengikut yang baik.

Perubahan besar sering dimulai dari rumah, dari percakapan kecil, dari kebiasaan sederhana yang kita ulang setiap hari. Semoga anak-anak kita tumbuh menjadi generasi yang tidak mudah diarahkan seperti kerbau dicucuk hidungnya, tetapi mampu memimpin dirinya sendiri menuju kebaikan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

15 Kata-Kata Bahasa Arab Sedih dan Artinya [+Gambar]

35 Quotes About Love dan Artinya

Review: All Creatures Great and Small by James Herriot