Privilege
Privilege, kata yang tidak asing bagi kebanyakan dari kita. Sekilas, privilege terdengar seperti hidup mewah tanpa kesulitan. Orang dengan privilege seakan jalannya selalu mulus dan semua kebutuhannya terpenuhi tanpa kerja keras. Setidaknya, itu gambaran awal yang dulu aku pahami.
Ternyata, privilege jauh lebih luas dari sekadar harta dan kemewahan. Privilege adalah keistimewaan atau kemudahan bawaan yang tidak dipilih seseorang sejak lahir. Tak ada yang bisa memilih lahir di lingkungan seperti apa, dalam kondisi apa, dengan watak seperti apa, dan modal alamiah apa yang diwarisi dari orangtuanya.
Aku belakangan belajar, privilege bentuknya sangat umum.
Kecerdasan adalah modal bawaan yang membuat seseorang lebih cepat belajar. Tidak heran anak yang punya privilege ini cenderung mencatat prestasi di sekolah, dikagumi dan dipuji. Betapa banyak murid yang sebetulnya belajar keras, namun hasilnya tidak sebaik si cerdas.
Kecantikan juga privilege. Kita pun tahu istilah beauty privilege: orang-orang good looking cenderung lebih mudah diterima, lebih dimaklumi, lebih dilihat. Daya tarik fisik membuka pintu yang tidak selalu terbuka bagi orang lain.
Ketekunan pun menurutku privilege. Tidak semua orang lahir dengan “mesin internal” untuk bertahan dan fokus pada tujuan. Ada yang benar-benar berusaha menurunkan berat badan, misalnya rutin olahraga, menahan craving, menjaga pola makan. Ketekunan seperti itu memberi peluang berhasil yang lebih besar dibanding mereka yang cepat menyerah.
Privilege-privilege tadi mungkin muncul dari bibit bawaan, tapi tetap perlu diasah. Berbeda dengan harta, tahta, atau status sosial yang bisa diwariskan begitu saja. Lahir sebagai anak orang kaya, anak tokoh terkenal, atau keluarga yang memiliki jabatan tertentu adalah privilege struktural. Bukan salah siapa-siapa, karena sekali lagi, tidak ada orang yang bisa memilih terlahir dari rahim yang mana.
Anak-anakku alhamdulillah dengan izin Allah punya sedikit privilege. Kakek dari ayahnya seorang ustadz yang cukup dikenal di daerah, ayahnya sendiri punya "nama" di pesantren, punya banyak kawan yang bisa membantu, kami tinggal di rumah dinas meski sederhana--tidak perlu membayar kontrakan sehingga bisa punya sedikit investasi.
Jika dari bawaan lahir, mereka—insya Allah—diberkahi kecerdasan, lumayan tekun, punya visual, dan memiliki ambisi yang mereka kejar.
Privilege mereka bukan harta dan tahta yang mentereng sebagaimana bayangan banyak orang, tapi tetap sebuah keistimewaan yang perlu disyukuri.
Bagaimanapun, tugasku sebagai orang tua adalah memastikan bahwa kemudahan yang mereka miliki tidak berubah menjadi sikap petentang-petenteng.
Sebagai orang biasa-biasa saja, jengah rasanya melihat sebagian orang berprivilege melenggang santai, menerobos antrean, membeli hukum, dimaklumi karena kecantikannya, atau bersikap semena-mena seolah berkuasa, padahal aslinya tidak sehebat itu juga.
Karena itu, anak-anak perlu memiliki kesadaran bahwa privilege bukan untuk disombongkan. Tetap diakui, disyukuri, dan dijadikan pengingat agar tidak berbuat zalim. Privilege adalah sebuah amanah, nikmat yang nanti akan Allah perhitungkan di akhirat.
Setiap orang memulai dari titik yang berbeda.
Salah satu hal pertama yang ingin aku ajarkan pada anak-anak adalah bahwa setiap orang memulai hidup dari titik yang tidak sama. Ada yang menabung dari uang jajan pas-pasan, ada yang menabung dari uang saku berkelimpahan. Ada yang belajar dengan fasilitas lengkap, ada yang hanya mengandalkan buku pinjaman.
Dengan memahami hal ini, mereka bisa melihat dunia dengan lebih jernih, bahwa tidak semua orang yang belum berhasil itu malas, dan tidak semua yang sukses itu benar-benar bekerja lebih keras.
Aku ingin mereka tahu bahwa kemudahan yang mereka punya bukan standar umum. Itu keistimewaan. Dan karena itu, melihat orang lain harus dengan empati, bukan dengan penghakiman.
Jangan meremehkan orang lain.
Usaha tidak linear dengan hasil. Ada anak yang belajar sampai malam, tapi tetap remedial. Ada yang serius mengerjakan tugas, tapi nilainya tidak mencolok.
Tidak semua yang hasilnya kurang baik adalah orang yang malas. Bisa jadi ia sakit, salah memahami materi, atau tidak ada yang mendampinginya belajar. Hasil tidak selalu mencerminkan perjuangan.
Itu sebabnya aku ingin anak-anak belajar untuk tidak meremehkan. Tidak cepat mengomentari. Tidak menganggap dirinya lebih baik hanya karena dia punya sedikit lebih banyak keistimewaan. Menahan diri dari ucapan "kalo aku bisa, kamu juga harusnya bisa."
Tidak memberi jalan mulus.
Sesayang-sayangnya aku pada anak, kami belajar bahwa tidak semua hal harus dipermudah.
Kalau barang mereka rusak karena kesalahan sendiri, tidak ada kalimat hiburan seperti, "oke nanti Mama belikan yang baru."
Aku cenderung mengajak mereka memilih, memperbaiki atau menabung lagi untuk membeli yang baru. Keduanya pilihan yang sah, tapi prosesnya berbeda. Dengan begitu mereka belajar menghitung, menunggu, dan mengusahakan.
Aku juga ingin mereka terbiasa dengan antrean, menahan diri, dan menghargai manusia tanpa melihat status. Di dalam Islam tidak ada kasta--dan betapa beruntungnya kami sebagai muslim karena diajarkan bahwa semua manusia setara. Yang membedakan hanyalah ketakwaan dan akhlak. Maka tugas kami adalah menanamkan nilai itu agar mereka tidak bertindak seakan dunia wajib memberi jalan hanya karena mereka punya sedikit privilege.
Privilege itu bukan hal yang absolut kita miliki. Itu titipan Allah, Ia yang memberi, Ia juga yang akan mengambilnya kembali.
Membangun karakter rendah hati.
Bagiku, kerendahan hati bukan berarti menyembunyikan nikmat, tapi menempatkan diri dengan bijak. Bersyukur tanpa perlu memamerkan. Anak-anak boleh kok bercerita tentang apa yang mereka suka, hal-hal kecil yang membuat mereka senang, minuman manis yang mereka beli, atau aktivitas yang membuat mereka bangga. Hanya saja, aku ingin mereka belajar membaca situasi—kapan bercerita itu wajar, dan kapan itu hanya akan menimbulkan iri atau salah paham.
Di masa sekarang, hampir apa pun bisa dianggap pamer. Apalagi usia teman anak-anak masih dini. Segelas minuman saja bisa dianggap menyombongkan diri.
Aku sadar sampai dewasa pun, komentar buruk bisa datang dari mana saja. Karena itu aku erasa perlu mengajarkan mereka untuk menikmati nikmat Allah dengan hati yang tenang, tapi tetap membumi. Tidak perlu menonjolkan apa yang mereka miliki hanya demi validasi.
Tidak Gampang Nggumunan
Nggumunan itu istilah yang agak susah diungkapkan dalam bahasa Indonesia. Maksudnya adalah mudah merasa silau dengan apa yang dimiliki oleh orang lain. Impactnya bukan ke iri atau dengki, namun lebih ke sikap udik.
Sebagai orang tua, kita perlu membiasakan diri melihat privilege orang lain sebagai sesuatu yang biasa aja. Ada orang yang hidupnya lebih mudah, lebih kaya, lebih terkenal, lebih diuntungkan keadaan, dan itu nggak apa-apa. Yang perlu dikontrol adalah bagaimana kita meresponsnya.
Kita nggak perlu mendewakan, mengidolakan secara berlebihan, menjilat, atau bersikap manis hanya supaya bisa kecipratan kemewahan mereka. Sikap begitu malah bikin diri sendiri kecil dan mudah goyah.
Kalau kita gampang terpukau sampai merendahkan diri, anak pun akan menangkap sinyal bahwa nilai seseorang bergantung pada apa yang ia punya. Sebaliknya, ketika kita bersikap sewajarnya, tetap menghargai tanpa minder, menghormati tanpa menjilat, anak belajar bahwa kemewahan itu bukan sesuatu yang harus dikejar untuk validasi, dan privilege orang lain bukan ancaman bagi harga dirinya.
Kita ingin membesarkan anak yang punya karakter kuat, yang tahu dirinya berharga tanpa perlu “nebeng” siapa pun. Wallahu a'lam.
Pada akhirnya, setiap kemudahan adalah amanah, setiap kelebihan adalah ujian akhlak. Aku hanya berharap anak-anak tumbuh menjadi manusia yang tetap membumi, yang tahu dari mana mereka berasal, yang menghargai orang lain tanpa memandang latar belakang, dan yang menggunakan setiap keistimewaan sebagai jalan untuk berbuat baik.
Komentar
Posting Komentar