Perjalanan Panjang Bag.6

Mungkin pembaca penasaran dengan lanjutan cerita tentang kondisi Umar. Jadi menurut dokter ortopedi saat itu, berdasarkan hasil rontgen, tidak ada masalah—iya, tidak ada masalah apapun pada kakinya. Bahkan tanpa memeriksa lutut Umar yang sangat jelas terlihat panjang sebelah, dan cara berjalannya yang jelas sekali pincang itu!!

Kami diminta mencari rumah sakit yang peralatannya lebih lengkap. Jujur saja, tanpa bermaksud merendahkan profesi dan keahlian sang dokter, kami agak trust issue dengan beliau, karena memberikan diagnosa yang sama persis pada 2023 dan 2025, padahal kondisi Umar saat ini sudah jauh terlihat lebih parah. Tapi bagaimana lagi, itu rumah sakit terdekat dari rumah. Wajar jika awal kali periksa, rumah sakit itu yang dituju lebih dahulu. 

Setelah mencari masukan dari teman kantor, suami ingin membawa Umar ke terapis pijat, aku setuju selagi itu dinilai terbaik. Suamiku ditemani temannya yang dulu pernah memeriksakan anaknya di klinik pijat itu dan Alhamdulillah sembuh.

Bukan tanpa alasan, kami sudah parno duluan. Tampaknya jika membawa Umar ke rumah sakit, akan ada opsi operasi dan lainnya. Mengingat jarak rumah dengan rumah sakit yang puluhan KM, ditambah proses recovery yang mungkin lama, keterbatasan tenaga alat transportasi untuk bolak-balik... Bismillah, kami mencoba opsi yang lebih tradisional dahulu --dan insya Allah aman tentunya--. Kami juga tidak sembarang memutuskan. Butuh diskusi panjang. 

Dengan membawa hasil rontgen sebelumnya, Umar diantar ke klinik itu. Kata terapis, dari hasil rontgen terlihat bahwa sendi Umar mengalami dislokasi sejak dua tahun lalu --tidak kembali ke tempatnya secara ajaib. Karena dibiarkan dan tidak diperbaiki, rongga yang seharusnya diisi sendi malah ditumbuhi daging. Untuk memperbaikinya, kaki Umar harus dipelintir cukup ekstrem. Tentu saja ia berteriak kesakitan, bahkan sempat bilang takut mati, dan sangat trauma saat itu. Aku yang hanya mendengar ceritanya sampai menangis sesenggukan membayangkan bagaimana sakitnya.

Umar pulang dengan kaki diperban, menangis saat sampai rumah --karema shock, sedih, sakit-- dan ia menahan tangis selama perjalanan pulang karena malu pada teman kantor suamiku. Ia membawa "oleh-oleh" daftar pantangan makanan yang harus dihindark agar lukanya cepat pulih. Ia juga diberi PR untuk latihan berjalan dan melompat selama pemulihan.




Dua pekan yang mendebarkan bagiku. Alhamdulillah Umar mau mengikuti pantangan dan rutin latihan, sehingga progresnya sangat signifikan. Ia kembali bisa berjalan, bahkan berlari, dan kembali ke sekolah. Semangatnya bangkit. Aku sampai harus menitip pesan ke para guru untuk mengawasinya agar tidak banyak melompat dan berlari sementara waktu. 

Dua pekan kemudian, Umar kembali melakukan rontgen dan lanjut kontrol ke klinik pijat. Alhamdulillah meski ia sangat ketakutan saat itu, terapis mengatakan kondisinya sudah pulih. Semoga ini menjadi kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit apapun. 

Ada hal yang membuatku dalam kurun waktu pemulihan. Seorang teman Umar lewat di depan rumah dan melihat Umar duduk di teras bermain dengan kucing. Ia berkomentar, “Ih, Umar, katanya kakinya sakit, kok bisa keluar rumah? Kamu pura-pura sakit ya...?”

Celetukan anak kecil yang polos, tapi bagiku menyakitkan—ditambah aku yang sedang begitu sensitif. Lagi-lagi aku menangis saat mendengarnya.

Namun ada juga kejadian yang menghangatkan hatiku. Saat sahabat dekat Umar lewat di depan rumah, ia menyapa, “Mar, besok masuk sekolah ya… sepi rasanya kalau nggak ada kamu.”

Begitulah, mungkin memang teman itu masalah kecocokan. Aku tidak men-judge anak atau orangtuanya, hanya saja kita memang cenderung nyaman dan lebih berlemah lembut pada teman yang cocok dan sefrekuensi. Aku bersyukur teman dekat Umar punya positif vibes, semoaga bisa membawa Umar menjadi lebih baik akhlaknya. 

Kalau pembaca penasaran apakah teman-teman Umar ada yang datang menjenguk—jawabannya tidak. Jujur, dengan kondisiku yang sedang hamil, sedikit mual dan banyak meludah, serta kondisi Umar yang masih pincang, aku juga lebih nyaman tidak dijenguk. Rasanya lebih tenang menghadapi semuanya sendiri. Apalagi beberapa kali aku mendengar hal-hal yang tidak nyaman tentang anakku saat itu.

Aku dan suami juga bukan tipe orang yang banyak menceritakan kesusahan kami ke banyak orang. Hanya tetangga, teman dekat suami di kantor, dan teman dekat anak-anak yang paham kondisi Umar saat itu. Bahkan keluarga baru kukabari setelah kondisi Umar membaik, agar tidak menimbulkan kekhawatiran. 

Trimester kedua adalah trimester paling berat bagiku. Perasaanku sangat sensitif, aku mudah tersulut, dan aku bahkan sempat marahan dengan suami selama sepekan—marahan terlama antara kami. Kami tidak ribut, tidak main tangan, hanya saling diam. Tapi dari pertengkaran itu, akhirnya kami punya kesempatan untuk benar-benar terbuka dan berbicara dari hati ke hati.

Trimester kedua ini, aku banyak meminta maaf pada janinku. Karena mungkin hormon stressku sangat sering muncul dibanding hormon bahagia. Aku hanya banyak berharap, semoga janin di perutku tetap tumbuh dengan baik. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

15 Kata-Kata Bahasa Arab Sedih dan Artinya [+Gambar]

35 Quotes About Love dan Artinya

Renungan Anak Santri