Belajar Dari Cucian Piring

Momen Ramadan kemarin mengingatkanku pada satu hal memorable di masa muda. Ciye…

Selama bertahun-tahun, di RW rumah orangtuaku selalu ada giliran menyediakan takjil. Sifatnya tidak wajib. Siapa yang berkenan, bisa mendaftar lalu dibuatkan jadwal. Takjil ini disediakan di mushalla RW, menjadi menu berbuka untuk anak-anak, remaja, hingga orang dewasa yang datang sekaligus menunaikan salat magrib berjamaah.

Dan entah bagaimana ceritanya, sejak dulu hingga sekarang, rumah orangtuaku selalu menjadi tempat pengumpulan takjil sebelum dibawa ke mushalla.

Dari situlah cerita kecil ini dimulai.

Setiap hari, ada nampan-nampan bekas wadah takjil yang harus dicuci. Aku mengambil peran mencucinya setiap selepas salat subuh.  saat mulai rutin melakukannya, usiaku remaja menuju dewasa, SMA hingga awal masa kuliah kira-kira. Usia di mana aku lebih memilih berinisiatif melakukan sesuatu daripada disuruh. Ya, seperti itulah pola pikir anak remaja pada umumnya 

Masalahnya, aku sebenarnya sangat membenci mencuci piring.

Di pesantren, aku sampai melapisi piring dengan kertas minyak hanya untuk menghindari cuci piring. Saat ngekos, aku rela mengambil alih tugas menyapu dan mengepel kamar setiap hari, asalkan tidak perlu mencuci piring. Tapi nasib, setiap pulang ke rumah, justru aku dihadapkan pada pekerjaan cuci piring yang tiada akhir.

Terlebih saat akhir pekan. Hari Sabtu dan Minggu, ada kajian buka puasa di mushalla. Orang yang datang lebih banyak, dan otomatis nampan serta piring kotor pun bertambah berkali lipat.

Saat itu, di rumah orangtuaku belum ada wastafel. Aku mencuci menggunakan ember besar yang diisi penuh air, sambil berjongkok, mencuci dengan teknik dua kali bilasan agar bersih. Di hari-hari itu, setelah selesai mencuci, rasanya energiku benar-benar terkuras habis.

Pernah terlintas keinginan untuk membiarkan saja nampan-nampan berminyak itu tetap di tempatnya. Tapi ada satu hal yang menahanku, aku tidak suka disuruh-suruh. Padahal, aku bahkan tidak tahu apakah benar-benar akan disuruh andai aku membiarkannya.

Di tengah tumpukan piring kotor yang menjulang, sambil bergelut dengan rasa benci, aku kerap berkata pada diriku sendiri:

“Paksakan dirimu untuk melakukan hal yang kau benci atau terasa berat. Hingga perlahan menjadi ringan dan terbiasa dengannya. Sampai tidak ada lagi ruang untuk mengeluh dan mengaduh.”

Seperti terhipnotis oleh kata-kataku, aku benar-benar melakukannya.

Hari demi hari, aku terus mencuci. Melawan rasa benci itu, sampai akhirnya… aku lelah untuk membenci. Tanpa sadar, pekerjaan yang dulu terasa begitu menyiksa, perlahan menjadi biasa saja. Aku masih tidak menyukainya. Tapi tidak lagi membencinya. Aku menerimanya.

Dari situ aku belajar bahwa melawan rasa malas adalah keterampilan yang bisa dilatih.

Memaksakan diri untuk tetap melakukan sesuatu yang berat, adalah bentuk kemajuan itu sendiri. Tidak besar, tidak harus sempurna. Tapi bergerak, itu cukup berarti.

Karena jika kita terus berada di zona nyaman, tanpa usaha melawan diri sendiri, kita akan tetap di tempat yang sama. Sejatinya, tidak ada yang benar-benar bisa mendorong kita selain diri kita sendiri.

Prinsip sederhana dari “mencuci piring” itu, ternyata terbawa hingga kehidupanku sekarang.

Punya banyak anak, hidup mandiri sebagai IRT tanpa asisten, membuatku harus mencuci piring hingga tiga kali sehari. Aku mungkin tidak akan pernah menyukai aktivitasnya. Tapi aku berusaha untuk ikhlas menjalaninya. Sayang rasanya, jika lelah dalam melakukan kebaikan tidak disertai niat mencari ridha Allah.

Dalam membangun kebiasaan membaca pun begitu. Awalnya berat, melelahkan, bahkan membosankan. Tapi aku berusaha menampik berbagai excuse yang datang. Sampai akhirnya, justru terasa ada yang kurang jika sehari saja tidak membuka buku. Menulis pun sama.

Dalam ibadah, aku juga masih terus belajar memaksakan diri. Seolah sedang menyemangati diri sendiri untuk terus berjalan menuju ridha Allah. Sebuah “pemaksaan” yang tidak pernah merugikan, lelah yang paling banyak menghasilkan.

Dalam parenting, aku pun sering merasa sedang memaksakan banyak hal. Mendidik anak jelas lebih melelahkan dibanding membiarkan mereka mengalir apa adanya. B rdebat dan memberi pengertian tentu lebih menghabiskan energi ketimbang membiarkan mereka melakukan apa yang dimau. Tapi aku paham, anak adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban. Maka aku lakukan semampuku.

Seperti mencuci piring. Hasilnya mungkin tidak sempurna. Bisa saja masih ada noda yang terlewat, atau kebersihan yang tidak maksimal. Tapi dengan melakukannya, setidaknya aku bergerak. Tidak diam. Tidak menyerah.

Aku sadar ternyata realita hidup itu begini. Tidak melulu hal yang kita sukai. Banyak topping nano-nano kehidupan yang kadang asam kadang asin. Jika tidak bisa dihindari, berusaha dinikmati. Jika berat, dipaksakan untuk tetap dihadapi. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

15 Kata-Kata Bahasa Arab Sedih dan Artinya [+Gambar]

35 Quotes About Love dan Artinya

Review: All Creatures Great and Small by James Herriot