Tak Tampak Bukan Berarti Tak Ada

 "Enak ya jadi ibu rumah tangga, nggak ngapa-ngapain di rumah doang."

Itu salah satu kalimat yang pasti bikin ibu rumah tangga terbakar emosinya. Jangan mentang-mentang di rumah yang tertutup, seolah kami ini hanya diam saja seharian.

Gedubrakan dan jatuh bangunnya kami --para ibu rumah tangga-- kerap tidak tercium sampai luar, tangis sedih dan lelah mental nggak ada yang mendeteksi.

Ketika seseorang berani bertanya, "Kamu ngapain aja di rumah? Enak ya, nggak ngapa-ngapain." Dulu mungkin aku akan terkejut, sedikit sakit hati. Namun ketika makin dewasa, aku berusaha memahami bahwa orang yang bertanya seperti itu ia tidak tahu. Tidak melihat bagaimana peran ibu rumah tangga. Mungkin ia tidak tumbuh bersama ibu yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga.



Nggak perlu merasa heran, manusia memang cenderung mengukur nilai sesuatu dari yang nampak di depan mata. Jika tidak terlihat, nilainya menjadi kerdil dan tidak diakui.

Coba bayangkan oksigen yang kita hirup seumur hidup, tidak nampak, namun sangat dibutuhkan. Aku teringat bagaimana aroma oksigen tabung yang harus kuhirup selama operasi. Rasanya sungguh tidak nyaman, berbau obat, dan berbayar pula.


Begitu pula ketika menilai anak, kerap kita menghakimi mereka dari apa yang kita lihat. Aku pernah salah ucap pada anakku, "Ayo, baju yang dari jemuran dilipat ya. Daripada ngganggur dari tadi".

Kalau aku jadi anak-anak, pasti aku ngebatin, "Nganggur? Nganggur??? Aku kan baru pulang dari sekoah tiga jam yang lalu."


Kadang sebaliknya, anak-anak pulang sekolah, lalu protes karena menu makan siang tidak sesuai selera. Mereka tidak tahu bahwa  hari ini mamanya memasak sambil terburu-buru, bolak-balik dapur dan kamar untuk mengawasi bayi yang sedang belajar tengkurap, yang jika ditinggal sebentar saja langsung menangis.


Kadang ketika suami sampai rumah, merebahkan diri dan fokus sejenak pada gawai, aku bete dan memintanya berhenti. Padahal meski sepanjang hari ia selalu "online", sebetulnya pikirannya lelah dengan pekerjaan di kantor. Maka saat pulang, yang ia butuhkan adalah berbaring dan bersantai sejenak.


Tidak ada yang salah, semua orang merasa lelah. "Nggak capeknya nanti kalau udah di surga."


Yang tidak terlihat bukan berarti tidak ada. Ada usaha seorang anak untuk menjadi baik di sekolahnya, meski tidak terlihat oleh ibunya.

 Ada ibu yang berdoa dalam sepi, untuk kebaikan anak-anaknya. Ada istri yang memohon pada Allah agar suaminya selalu sehat.

Ada suami dan ayah yang ketika sampai rumah mengucap salam dengan ceria, seolah semua baik saja. Padahal ia menyembunyikan rasa suntuk yang ia rasakan sepanjang hari.


Meski bisa dimaklumi, menilai hanya dari apa yang dilihat tidak boleh dinormalisasi. Jika ini terjadi dalam lingkup keluarga, tanpa berusaha tabayyun dan menjelaskan secara terbuka, kesalahpahaman akan berulang sehingga membuat hubungan yang hangat perlahan menjadi retak dan dipenuhi prasangka.


Pandangan kita yang terbatas, dalam melihat, memahami, dan mengetahui hal-hal yang terjadi di balik layar kehidupan orang lain--termasuk anak dan suami--. Maka di sinilah penting komunikasi. 

"Hari ini Mama deep cleaning dapur sambil jagain bayi. Jadi Mama cuma bisa masak simple ya."

Jangan salah, deep cleaning itu pekerjaan yang melelahkan bagi pelakunya, tapi hasilnya tidak terlihat jika tidak betul-betul diperhatikan.

"Hari ini aku capek, tadi di sekolah kerja bakti."

"Aku tadi ada masalah sama temen aku."

"Hari ini di kantor non-stop rapat dan nemuin tamu. Jadi baru sekarang bisa istirahat"


Dengan komunikasi, saling mengungkap keadaan perasaan, bercerita tentang hari ini, setidaknya pihak lain bisa mamaklumi dan menunggu sejenak. Memberi ruang untuk validasi perasaan.

Dengan percakapan ringan, hati tidak lagi dipenuhi prasangka dan rasa kesal yang berkepanjangan. Justru saling memahami dan menguatkan. 

Yuk, mari usahakan keluarga yang berkomunikasi produktif. Tidak hanya tinggal bareng, namun hidup bareng. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

15 Kata-Kata Bahasa Arab Sedih dan Artinya [+Gambar]

35 Quotes About Love dan Artinya

Review: All Creatures Great and Small by James Herriot