Memfasilitasi Rasa Malu Anak

Hari ini aku akan bercerita sedikit tentang rasa malu pada diri anak. Sebagai bahan refleksi bagi diri sendiri dan juga para pembaca yang berbahagia. 

Romi, anak ketigaku, adalah anak yang cukup pemalu. Terutama saat bertamu ke rumah orang lain, termasuk rumah nenek saat mudik. Ia butuh waktu sedikit lebih lama untuk bisa terbiasa dengan suasana baru, meski sebetulnya ia ekstrovert, ceria, dan mudah akrab dengan anak seusianya. 

Umurnya baru lima tahun. Tapi setiap ke kamar mandi untuk BAK, BAB, atau mandi, ia minta ditunggui oleh aku atau abahnya di depan pintu. Ia belum bisa mengunci pintu sendiri, atau menggantungkan pakaiannya di gabtungan yang tinggi. Keberadaanku atau suami di depan pintu kamar mandi adalah untuk memegangi celana atau pakaiannya, atau menjaga agar tidak ada orang yang masuk  sampai ia selesai. Ia berusaha memastikan agar tidak ada seorang pun --meski masih keluarga-- yang melihat auratnya.

Sebagai orang tua, kadang ada perasaan malas mengantarnya ke kamar mandi. Terutama ketika sedang menyusui bayi atau sedang sangat mengantuk. Apalagi ketika kondisi rumah kakek-neneknya sedang sepi karena penghuninya tidur atau sedang pergi. 

Namun si kecil Romi ini, ketika berada di tempat yang bukan rumahnya sendiri, justru makin protektif. Ia semakin keras menjaga auratnya. Maka meski kadang terasa berat, aku tetap menemaninya. Bagiku, ini adalah bentuk "memfasilitasi" rasa malu anak.

Suatu hari, aku dan keluarga besar berkunjung ke pantai tanpa suamiku. Papaku--yang juga kakek anak-anak-- menyiapkan air di galon kosong di dalam mobil untuk digunakan membilas badan setelah main air. Tujuannya agar lebih praktis, dekat dengan mobil, dan tidak perlu membayar toilet umum.

Rencananya, anak-anak yang masih “kecil” mandi dari galon, termasuk Romi. Sementara anak-anak yang sudah “besar”, seperti Jihan dan Umar, tetap mandi di toilet umum.

Namun saat tiba waktu membilas, Romi dengan keras kepala meminta mandi di toilet umum. Aku sempat membujuknya agar tetap mandi di dekat mobil. Toh yang membantunya juga kakeknya--sama-sama laki-laki. Di lain sisi aku juga sudah cukup repot mengantarkan dua anak. 

Tapi ia terus kekeuh, sampai hampir menangis.

Akhirnya, aku mengizinkannya mandi di toilet umum, bergantian dengan kakak-kakaknya. Meski terasa lebih ribet berkali lipat, ada rasa bangga yang diam-diam terselip di hatiku.

Di momen itu, aku sedang diingatkan bahwa menjaga rasa malu anak memang kadang tidak mudah, tidak santai, repot. Tapi justru di situlah nilai dan pahalanya. 

Anak yang belum baligh atau tamyiz, seringkali dianggap masih wajar jika membuka pakaian di area yang dianggap aman. Seperti rumah kakek atau keluarga dekat. Sehingga saat mereka menyuarakan rasa malu atau ketidaknyamanan, kita justru abai dan menganggapnya berlebihan, “Ah, nggak papa, semua di sini keluarga, kok”, "Ih, santai aja, kamu kan masih kecil."

Padahal bukan itu poinnya. Poinnya adalah, anak kita sedang berperilaku sesuai dengan fitrahnya yang suci. Maka jangan sampai kita merusak dan menganggap perilaku ini berlebihan. Rasa malu itu bukan untuk dikoreksi, tapi diapresiasi.

Di tengah kebiasaan anak-anak seusianya yang masih sering kencing sembarangan, aku justru bangga dengan anakku yang riweuh dan selalu kekeuh meminta orang tua atau kakaknya untuk berjaga di depan pintu toilet.

Bagiku, rasa malu itu mahal. Dalam sebuah hadis, Rasulullah ﷺ bersabda:

الحياء لا يأتي إلا بخير

Artinya: “Rasa malu tidaklah datang kecuali membawa kebaikan.”

(HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Rasa malu di sini konteksnya malu uang positif, bukan minder ataupun gengsi. Meski sekilas tampak mirip, aku berusaha menjelaskan kepada anak-anak perbedaannya.

Ketika Umar pernah bilang “malu” menjadi imam salat dhuha di sekolah atau presentasi, aku mengajarkannya untuk melawan rasa itu. Aku menyarankan ia meminta kepada gurunya untuk diundur urutan tampilnya ke paling akhir, sampai cukup tenang dan percaya diri untuk melakukannya. Alhamdulillah, setelah beberapa kali mencoba, ia akhirnya terbiasa menjadi imam dan tidak lagi merasa minder atau "tawar-menawar" lagi saat tampil di depan publik.

Saat Jihan merasa minder pada warna pakaian tertentu, misalnya ketika dikomentari temannya, “Warna bajumu ngejreng banget!”, aku akan memujinya dan mengatakan bahwa warnanya cantik, tidak ada yang salah dengan itu. Beberapa pekan setelahnya, ia pun mau mencoba mengenakannya kembali. Temannya yang terkesan mengejeknya mungkin memang takjub melihatnya, dan lambat-laun ia akan bosan mengomentari lagi. 

Sebagai orang tua, aku belajar untuk berdialog dengan anak-anak, tidak memaksa dan tidak menghakimi. Karena rasa malu itu sebenarnya rasa yang positif. Bukan untuk digembosi, tapi diarahkan dan disortir.

Adapun rasa malunyang positif, aku banyak sounding dan menjelaskan standarnya pada anak-anak. Seperti mengenalkan batasan aurat, bagian tubuh yang boleh dan tidak boleh disentuh, serta dalam kondisi apa dan oleh siapa hal itu diperbolehkan.

Untuk anak perempuanku yang mulai beranjak remaja, aku juga mengingatkan tentang menjaga jarak dengan lawan jenis, menjaga pandangan, sikap, dan bagaimana emanggapi sesuatu dengan tetap mempertahankan harga diri sebagai seorang muslimah.

Di dunia di mana batasan Islam kerap ditertawakan dan dianggap asing, menjaga rasa malu anak mungkin terasa merepotkan. Tapi justru di situlah letak nilainya. Karena tidak semua yang terasa ribet itu berlebihan. Bisa jadi, itu adalah fitrah yang sedang kita jaga.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

15 Kata-Kata Bahasa Arab Sedih dan Artinya [+Gambar]

35 Quotes About Love dan Artinya

Review: All Creatures Great and Small by James Herriot