Namaku Bag.2
Punya nama yang langka sekaligus rumit dibaca dan ditulis itu punya tantangan lain.
Setiap pembuatan ijazah, KTP, KK, paspor, buku nikah, bahkan akta kelahiran anak dan dokumen lainnya, aku harus benar-benar teliti memastikan tidak ada kesalahan dalam penulisan nama.
Yang sering terjadi dahulu adalah kesalahan penulisan dalam sertifikat lomba atau kegiatan non akademik. Jika zaman sekarang panitia bisa meng-copy paste nama peserta dari formulir digital, dahulu semuanya ditulis manual. Ada saja kesalahan tulis di sertifikat yang terjadi, dan selagi bukan merupakan dokumen resmi, mau tidak mau kuterima apa adanya.
Apakah hanya sampai situ? Tentu tidak.
Saat masuk pesantren dan harus menuliskan namaku dalam bahasa Arab, aku kesulitan. Bertanya sana-sini bagaimana penulisan yang tepat. Dan setelah ditulis dengan teoat, tentu yang membaca juga masih sana kesulitan, karena namaku sangat non-Arab sekali. Wkwk.
Saat kuliah di lembaga yang berinduk di salah satu negara Arab, di mana daftar nama mahasiswi harus dituliskan dalam bahasa Arab, di awal masuk aku harus mengonfirmasi cara membaca namaku kepada semua dosen yang mengajarku. Namun asiknya, setelah itu namaku jadi sangat dihafal oleh para dosen. Tanpa disadari, namaku seperti punya spotlight sendiri. Dengan banyaknya mahasiswi di kelas, aku menjadi salah satu yang dikenal dosen hanya dengan namaku. Dan lagi-lagi, aku tidak keberatan dengan hal itu.
Masalah arti nama, banyak sekali orang menanyakannya. Apakah itu singkatan nama orang tua, ataukah nama yang sengaja dibikin rumit. Beberapa orang bahkan mengira namaku sekilas terdengar seperti bahasa Jepang (mungkin seperti Nobita, tokoh di kartun Doraemon), wkwk.
Padahal sebenarnya, namaku diambil dari bahasa Jawa Kawi (kuno), begitu kata kakakku yang juga punya nama unik sepertiku.
Nimitta artinya pertanda. Widhari dan Apsari kurang lebih sama artinya, yaitu bidadari. Jadi tidak heran jika Mami mengartikannya secara non-harfiah sebagai “gadis cantik dari surga”.
Namun, ada satu hal yang kadang membuatku kurang nyaman.
Ada orang-orang yang asal mengartikan namaku tanpa menanyakannya terlebih dahulu. Dipaksakan dimirip-miripkan dengan bahasa Arab, misalnya:
“Nimitta? Mitta??” (artinya: kamu mati)
“Atau dari nimta? nimti? nimtu?” (yang berkaitan dengan kata tidur)
Bagi yang mendengar mungkin terasa lucu dan sekadar guyonan. Namun bagi yang memiliki nama, hal-hal seperti ini bisa cukup sensitif, loh...
Karena pengalaman itu, aku belajar untuk tidak mengomentari nama orang lain, seaneh apa pun terdengarnya.
Nama adalah doa yang diringkas, dipanjatkan orang tua saat memberikannya pada buah hati. Nama itu bukan lelucon yang ditertawakan dan bahan cemooh.
Dalam Islam pun, ada larangan untuk saling merendahkan, termasuk melalui panggilan atau sebutan. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain… dan janganlah kamu saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.”
(QS. Al-Hujurat: 11)
Dari pengalaman pahit, asem, dan enyoy ini, aku justru belajar hal baru saat memberi nama anak-anakku.
Aku memilih nama yang simpel. Dua suku kata, bahasa Arab yang mudah disebutkan bahkan oleh lidah Indonesia, dan minim celah untuk dipelintir atau diubah maknanya.
Jadilah nama Jihan, Umar, Romi, dan Ulya dengan kriteria tersebut.
Kembali ke namaku, suamiku pernah bercerita bahwa saat pertama kali mendengar namaku dalam proses ta’aruf, ia sempat terkejut dengan nama yang (cukup) panjang dan rumit ini. Katanya semalam sebelum akad, ia melatih pengucapan namaku berkali-kali agar tidak salah sebut.
Kalau diingat, lucu juga ya. Mendengar kesan pertama orang lain terhadap namaku. Jarang-jarang ada yang mengutarakannya secara langsung.
Suatu hari aku pernah pergi ke bank untuk mengurus sesuatu. Customer service yang melayaniku saat itu punya nama yang unik juga, Tabita. Setelah urusan selesai, aku pulang.
Beberapa bulan kemudian, aku kembali ke bank yang sama dan diarahkan ke customer service yang sama. Baru saja nomor antreanku dipanggil, bahkan sebelum aku menyerahkan identitas, ia langsung berkata,
“Mbak Nimitta ya? Ada yang bisa dibantu?”
Padahal itu baru pertemuan kedua kami.
Ternyata, pemilik nama unik bisa saling mengenali. Wkwkwk.
Kembali lagi, aku tidak pernah menyesali punya nama ini. Menurutku, namaku cantik. Artinya baik. Unik dan langka pula. Sebuah privilege yang tidak dimiliki semua orang.
Suatu hari saat SMA, guruku di pesantren pernah menganjurkan santriwati yang namanya “tidak islami” untuk membuat nama hijrah. Tapi bagiku, aku lebih mencintai namaku yang “terdengar tidak islami” selama maknanya baik.
Jika diarabkan, mungkin namaku bisa menjadi Hur’in. Namun aku percaya, Allah memahami bahasa hamba-Nya.
Tidak penting dalam bahasa apa, selama nama itu tidak mengandung unsur kesyirikan, maksiat, atau makna buruk, doa dalam nama itu tetap melangit… dan semoga didengar oleh-Nya.
Aku pernah mendengar hadis, yang maknanya
Ketika roh orang yang shalih dicabut nyawanya, para malaikat berkata: “Ruh siapa yang baik ini?”
Maka mereka menyebutnya dengan nama terbaik yang biasa dipanggilkan kepadanya di dunia…
Saat mendengar hadis itu, aku berharap ketika meninggal--semoga dalam keadaan husnul khatimah-- nama yang disebutkan malakikat adalah nama terbaik aku miliki di dunia:
Nimitta Widhari Apsari.

Komentar
Posting Komentar