Me-nol-kan Ekspektasi (Kembali)

Hidup dengan ekspektasi itu melelahkan. Setidaknya itu yang aku rasakan.

Sesekali, ketika sedang muhasabah diri, aku mendapati bahwa sumber kelelahan yang sering datang justru berasal dari terlalu percaya dan bertumpu pada ekspektasi.

Mungkin bagi sebagian orang, kecewa oleh ekspektasi yang tidak terpenuhi terdengar klise, naif, bahkan bodoh. Namun nyatanya, banyak orang yang tidak benar-benar bisa membedakan antara harapan dan ekspektasi. Batasnya tipis, samar, dan mudah sekali membuat kita nyasar. Dan di antara orang-orang itu, adalah aku.

Itulah mengapa aku pernah menulis tentang “nol ekspektasi” beberapa waktu lalu. Namun hari ini, pembahasannya ingin aku persempit pada tentang ekspektasi kepada anak.

Sebagai orang tua dengan anak-anak yang berbeda watak dan bakatnya, aku menyadari bahwa aku memiliki ekspektasi yang berbeda pula pada masing-masing dari mereka.

Pada anak yang terlihat tekun belajar dan cepat menghafal, misalnya, aku berekspektasi ia akan meraih peringkat tinggi di kelasnya. Aku ingin ia punya hafalan Qur'an yang bagus, ikut lomba, dan mengamalkannya. 

Pada anak yang berjiwa pemimpin, aku berharap ia akan mampu memimpin teman-temannya dengan baik, memiliki nilai yang bagus, membantu gurunya mengondisikan kelas, dan menjadi contoh bagi saudara-saudarinya di rumah.

Pada anak yang lembut, ceria, dan soft spoken, aku pun memiliki ekspektasi ia akan lebih patuh, memiliki lingkungan pertemanan yang baik, tidak melanggar aturan, dan tumbuh menjadi adik yang menyenangkan.

Kadang aku lupa bahwa anak adalah manusia yang memiliki jalannya sendiri. Allah yang menciptakan mereka selaligus yang paling berhak menentukan takdir mereka. Aku sebagai ibu, hanya bisa mengusahakan yang terbaik. Namun seberapapun kerasnya kita berusaha mengarahkan mereka sesuai keinginan kita, pada akhirnya Allah-lah Yang Maha Membimbing mereka menuju jalan yang Dia kehendaki.

Aku jadi teringat satu peristiwa.

Suatu hari, anakku mengikuti lomba tahfidz. Sebelumnya selama kurang lebih sebulan, ia berusaha keras. Pagi, siang, sore, ia mengulang hafalannya. Bahkan ia rela mengurangi waktu bermainnya.

Tentu saja, dengan apa yang kami usahakan dan doakan, aku ingin ia mendapatkan hasil yang baik. Setidaknya lolos ke babak final dan tampil di hadapan banyak orang.

Namun saat hari perlombaan tiba, di babak penyisihan yang dilakukan secara privat, aku melihat ia gugup. Qadarullah ia tidak mampu menjawab beberapa soal dengan baik. Ia tidak lolos ke final.

Ia kecewa. Dan meskipun aku juga merasa kecewa, aku tahu bahwa kekecewaanku tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan yang ia rasakan.

Padahal, dari hasil penilaian, nilainya hampir sempurna, tidak jauh dari lima peserta yang akhirnya lolos ke babak final.

Namun begitulah. Nyatanya lima peserta itu memang lebih baik dalam hafalan dan makhrajnya. Dan tentu menjawab soal penyisihan dengan tuntas tanpa salah sedikitpun. 

Tidak ada yang bisa dilakukan selain menerima, lalu menguatkan. Memberinya semangat untuk mencoba lagi, dan mempersiapkan diri dengan lebih matang di kesempatan berikutnya. Setidaknya pada hari itu, ia belajar menerima kegagalan. 

Aku belajar bahwa sebelum membesarkan hati anak, aku harus memiliki hatibyang lapang terlebih dahulu. Untuk dapat menenangkan anak, aku harus seratus kali lebih tebang dan stabil. 

Cerita lain datang dari anakku yang sedang belajar puasa setengah hari.

Aku mengenalnya sebagai anak yang penurut. Ia jarang melanggar aturan, tidak banyak menuntut, dan cenderung mudah diarahkan. Dalam bayanganku, puasa setengah hari bukanlah hal yang sulit baginya. Dibhari pertama hingga ketiga, semuanya lancar. 

Aku mulai merasa bahwa ekspektasiku berlebihan ketika ia masuk sekolah di hari keempat. 

Saat di sekolah, ia terbujuk oleh temannya untuk diam-diam jajan. Padahal saat itu ia takembawa uang saku. Anak kecil mana pula yang bisa menolak traktiran seorang teman, dengan syarat makan bersama sembunyi-sembunyi? Saat itu baru pukul sembilan pagi, waktu yang sangat dini untuk merasa lapar jika dibandingkan dengan hari-hari biasanya.

Lalu, siapa yang harus disalahkan? Tidak ada.

Anakku tidak salah. Ia sedang belajar. Ia bahkan belum memiliki kewajiban penuh untuk berpuasa.

Temannya pun tidak salah. Ia hidup dalam pola asuh yang mungkin berbeda dengan yang kuanut.

Orang tua temannya juga tidak salah. Puasa memang baru diwajibkan ketika sudah baligh. Orangtuanya boleh saja memilih unyuk tidak mengajarkan anaknya puasa di usia dini. 

Maka yang tersisa adalah muhasabah. Aku harus mulai menurunkan ekspektasi, karena akan banyak kejadian yang tak terduga di pengalaman pertama puasa anakku.

Dengan menurunkan ekspektasi, setidaknya hal-hal yang tak terduga tak terlalu terasa mengejutkan dan mengecewakan lagi. Tak ada proses belajar yang mudah. Dan seperti pepatah yang kita kenal selama ini, "kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda."

Ada lagi cerita tentang anakku yang kebetulan ditunjuk menjadi ketua kelas tahun ini.

Ia bercerita dengan bangga bahwa ia diberi amanah oleh gurunya untuk mengondisikan teman-temannya, menegue, dan mencatat nama-nama yang melanggar aturan.

Aku pun merasa, “Ya, ini memang cocok untuknya.”

Namun suatu hari, gurunya bercerita bahwa dengan segala aura pemimpinnya, anakku ini juga sering membuat gaduh di kelas. Bahkan, kadang justru menjadi orang pertama yang memulai keributan.

Saat guru hendak menjelaskan, misalnya, ia membuka obrolan dengan teman-temannya, membuat kelas menjadi tidak kondusif beberapa saat.

Di situlah aku belajar bahwa anak yang kuanggap akan sempurna dalam perannya sebagai pemimpin, ternyata tetaplah anak-anak. Kadang bisa memimpin dalam kebaikan, kadang memimpin dalam konteks yang kurang baik. Meski tidak dibilang buruk juga. 

Ekspektasiku lagi-lagi runtuh. Ternyata idealisme itu tidak bisa diterapkan pada semua orang. Ada masanya semangat naik dan turun. Ada kalanya manusia berbuat salah dan khilaf. Termasuk anak-anak yang bahkan belum mencapai akil baligh. 

Menurutku, ekspektasi bisa saja berubah menjadi ambisi yang tidak sehat. Berapa banyak orangtua yang marah-marah dan badmood hanya karena anaknya tidak bisa memenuhi ekspektasinya yang menurutnya sederhana. 

Misal, "Duh, masa puasa sampai jam 12 aja nggak bisa?!", "Coba kamu berusaha lebih keras, harusnya bisa, loh, masuk final", atau "kamu nih jadi ketua kelas yang bener, dong. Jangan bikin Mama malu". 

Alih-alih demikian, aku berusaha menasihati diriku sendiri untuk tidak memaksakan hasil, dan belajar menyerahkannya kepada Allah. Bersabar, bersabar, dan berusaha untuk selalu bersabar. 

Kadang saat aku merasa kecewa pada anak-anak, karena kamar berantakan misalnya, ditambah aku yang sedang burn out, aku bisa sampai menangis menceritakan perasaanku pada suamiku. Suamiku selalu mengingatkan untuk legowo pada tingkah anak-anak kami, bersabar mendidik mereka meski tidak mudah dan penuh cobaan. 

Kita perlu menahan diri dari reaksi yang berlebihan. Menahan kecewa yang mungkin ikut muncul dalam diri kita. Dan belajar hadir sebagai tempat pulang yang aman.

Akubperlu banyak mengingatkan diri bahwa anak-anak tumbuh di atas jalan yang telah Allah tetapkan untuk mereka.

Dan sebagai hamba yang meyakini bahwa Allah Maha Baik, Maha Kaya, Maha Bijaksana, dan Maha Mengetahui, aku harus percaya bahwa setiap takdir yang Allah gariskan untuk anak-anak adalah takdir yang terbaik, meski sering kali tidak sesuai dengan harapan kita.

Manusia boleh berekspektasi. Boleh berusaha dengan sungguh-sungguh. Boleh berharap dengan sepenuh hati. Namun pada akhirnya, Allah-lah yang menentukan hasilnya.

Yang kita tanamkan adalah keyakinan bahwa tidak ada doa yang sia-sia. Tidak ada usaha yang benar-benar terbuang percuma.

Semua yang kita ikhtiarkan, semua yang kita langitkan dalam doa, akan tetap bernilai di sisi-Nya.

Jika tidak berbuah pada hasil yang kita inginkan di dunia, ia akan menjelma menjadi pahala yang kelak menuntun kita menuju surga. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

15 Kata-Kata Bahasa Arab Sedih dan Artinya [+Gambar]

35 Quotes About Love dan Artinya

Review: All Creatures Great and Small by James Herriot