Namaku

Nimitta Widhari Apsari, nama yang unik di telinga dan mata sebagian orang. Dan kadang masih nggak percaya kalau nama se-rare Nimitta bisa jadi namaku, wkwk. Sekarang, kalian bayangkan aku sedang berbicara dengan full senyum ya. Karena topik ini benar-benar membuatku excited!

Oh iya, aku terpikirkan menulis tentang nama, karena belakangan di Thread ramai pembahasan nama-nama anak gen alpha yang penulisannya rumit. Warga Thread mengomentari dengan:

“Duh, kasian anaknya nanti kalau bikin paspor”

“Repot nih nanti kalau ada salah tulis di kartu identitas”

“Kasian gurunya, susah baca namanya”

“Apa nggak takut jadi bahan bullyan?”

Dan sebagainya. Yang lucunya, semua relate denganku, si pemilik nama unik ini.

Jawab jujur. Selama hidup pembaca, berapa kali kalian mendengar nama yang sama denganku? Bisa jadi hanya aku the only one manusia bernama Nimitta yang kalian kenal.

Sejak kecil, aku sadar namaku ini “rare”. Maka aku tanya lah ke budheku yang kupanggil Mami, tentang arti namaku. Katanya, artinya “gadis cantik dari surga”. Mendengarnya saja aku sudah senyum-senyum sendiri. Sadar bahwa ayahku begitu mencintaiku. Bagaimana tidak, setelah ibuku wafat pasca melahirkanku, ayahku masih memberikan nama seestetik ini untukku.

Aku bersyukur aku tidak diberi nama yang mengandung arti kesedihan seperti Prihatin atau Lara. Melainkan nama yang mengandung makna surgawi. 

Aku teringat sebuah momen ketika membuka album foto lawas milik Mami. Ada foto Mama di sana, dan ada selembar kertas yang disematkan. Isinya daftar calon nama yang akan diberikan padaku. Beberapa nama anak laki-laki, dan beberapa perempuan. Dan di situ tertera namaku, ditandai dengan stabilo, “Nimitta Widhari Apsari”. Sebetulnya masih ada kepanjangannya lagi. Kalau tidak salah ada lima suku kalimat. Namun katanya sengaja diambil tiga kata agar tidak terlalu panjang. Aku sungguh bersyukur yang diambil hanya tiga terdepan saja.

Punya nama unik sepertiku ada suka dukanya sendiri.

Aku tidak pernah punya teman yang namanya sama denganku. Menyenangkan, bukan? Ketika mendengar nama Nimitta, hampir bisa dipastikan yang dipanggil adalah aku. 

Tapi tunggu dulu.

Keunikan itu datang sepaket dengan kejadian lain yang terus terulang tiap aku memperkenalkan diri.

“Halo, saya Nimitta.”

“Hah? Nirmita?”

“Bukan… Nimitta.”

“Oh, Limita?”

“N I M I T T A, Nimitta.” ☺️☺️

Lama-lama aku jadi hafal alurnya. Antara mengeja, menyebut ulang, kadang menyerah saja kalau tidak terlalu penting.

Dulu, pada masa kartu provider telekomunikasi belum menggunakan KTP untuk mendaftar, tiap menelepon pusat informasi, mereka menanyakan nama. Kerap kali aku menjawab dengan nama-nama yang mainstream seperti Ani dan Wati, karena malas berlama-lama memperkenalkan diri.


Bersambung dulu, ya. Masih banyak keseruan lain, insya Allah. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

15 Kata-Kata Bahasa Arab Sedih dan Artinya [+Gambar]

35 Quotes About Love dan Artinya

Review: All Creatures Great and Small by James Herriot