Penulis Palsu
Akhir-akhir ini, karena harus memenuhi target menulisku, aku banyak merenungkan pekerjaanku sebagai seorang penulis “konten” reflektif.
Seperti yang pembaca tahu, aku sering berbagi cerita harian yang kukemas dengan hasil-hasil pemikiranku, yang aku tahu, kadang masih sangat mentah dan belum tentu sepenuhnya valid.
Pada asalnya, aku memang seorang pemikir. Di sela pekerjaan rumah sebagai ibu rumah tangga, saat menyusui bayi, atau bahkan ketika hanya berdiam, pikiranku terus bergerak. Ada saja yang melintas, diproses, dan dipertanyakan. Dari sanalah tulisan-tulisan itu lahir.
Sebagian kupilah, kugodok melalui bacaan, kajian yang kusimak, diskusi dengan suami, teman, anak, atau bahkan AI, baru setelahnya kutuangkan dalam tulisan.
Namun kadang, ketika menulis tentang parenting khususnya, aku sadar bahwa aku tidak sebaik itu. Kadang sikapku justru melenceng jauh dari apa yang kutulis. Tulisanku adalah versi ideal yang kuinginkan, namun bukan aku. Rasanya seperti sedang berjalan di jalanan licin, berpegang pada sebuah tali. Kadang tersungkur lalu bangkit lagi. Berulang kali.
Aku juga tahu, aku tidak selalu se-positive vibes itu. Aku hanyalah seorang emak-emak yang sering mengomel, istri yang kadang ngeyel, dan sosok yang masih butuh banyak perbaikan. Jujur, ada masa di mana aku merasa tulisanku penuh kepalsuan.
Lucunya, ketika berdiskusi dengan AI yang tidak mengenalku apa adanya, aku sering digambarkan sebagai ibu yang teguh, penyabar, bijak, dan lembut. Dan hampir selalu, aku membantah dengan lugas, “Kamu terlalu husnuzhan. Tulisanku bukan aku.”
Di situ aku mulai bertanya-tanya, apakah semua orang di dunia ini juga memakai “topeng” ketika berada di ruang publik? Apakah itu salah? Atau justru sebuah keharusan untuk menjaga kondusifitas pergaulan?
Semakin kupikirkan, semakin ruwet rasanya.
Lalu aku mencoba menenangkan diri. Aku kembali men-tracking niatku menulis.
Aku menulis untuk bercerita.
Untuk bersyukur.
Untuk mendokumentasikan kehidupan.
Untuk menyimpan buah pemikiran yang melintas di benakku. Seperti memiliki pensieve dalam bentuk nyata.
Aku menulis karena aku mencintai bahasa Indonesia.
Aku menulis karena sejak dulu aku ingin melakukannya. Ini cita-citaku. Punya tulisan yang dibaca banyak orang.
Pertanyaan selanjutnya, apakah aku ingin menginspirasi orang lain?
Sejak dahulu aku hanya berharap, siapa tahu bisa menginspirasi. Namun itu bukan tujuan utamaku. Menulis bagiku seperti menghembuskan napas. Bagaimanapun bentuknya, ia sudah membuatku lega.
Aku belajar memahami bahwa ketika aku membagikan kebaikan, aku tidak sedang membagikan kepalsuan. Aku sedang membagikan sesuatu yang sudah terkurasi. Versi yang sudah kupilih, kupikirkan, dan kuupayakan.
Mungkin memang benar, setiap orang memiliki “etalase” dan “backstage” dalam hidupnya. Yang kita tampilkan ke publik adalah bagian yang sudah kita rapikan. Seperti merapikan rumah sebelum menyambut tamu, padahal sehari-hari seperti kapal pecah.
Dan aku berharap, itu bukan sebuah kesalahan.
Aku tidak tahu apakah hanya aku yang merasa seperti ini. Namun jika kamu adalah penulis juga, kuharap kamu tidak berhenti.
Di luar sana, aku yakin ada orang-orang yang terhibur, yang merasa ditemani, atau mungkin terbantu oleh tulisan-tulisan kita. Mereka mungkin tidak selalu menekan tombol “like" atau meninggalkan komentar. Namun percayalah, apa yang dari hati akan sampai ke hati. Doa baik yang dipanjatkan seseorang yang hatinya mulai terisi bisa sangat jauh lebih berharga dari pujian manapun yang bisa kita dapati.
Jika kamu adalah pembaca, apa pendapatmu tentang seorang penulis yang terlihat bijak, yang nyatanya ia masih belajar untuk menjadi betul-betul bijak? Apakah masih akan tetap terinspirasi olehnya?
Komentar
Posting Komentar