Air Hangat Tiap Pagi

Tiap pagi sebelum anak berangkat sekolah, aku selalu menyiapkan air panas untuk mereka mandi. Meski kadang bangun kesiangan, air hangat tetap jadi rutinitas yang kuusahakan sepenuh hati.

Awalnya, tak ada yang meminta. Niatku hanya menyiapkan hal kecil-namun istimewa- yang bisa menambah semangat anak-anak untuk bangun dan mandi tepat waktu. Di Bogor, suhu air pagi hari sering kali rendah, membuat siapa pun jiper untuk menyentuhnya.

Water heater kerap jadi opsi yang muncul di kepala tiap kali aku menyalakan kompor. Andai punya, mungkin pagiku tak perlu sesibuk itu. Tapi untuk saat ini, karena memikirkan dana untuk pengadaan dan biaya listrik, aku memilih berfokus pada apa yang ada. Aku percaya, setiap gerak dan amal baik yang kuniatkan ikhlas insya Allah tak akan sia-sia.

Kalau dipikir-pikir, sayang juga kalau pahala menyiapkan air hangat justru “diambil alih” oleh mesin. Ya... kalimat itu hanya usaha untuk menghibur diri. Wkwkwk. 

Tujuanku tetap sama, aku ingin anak-anak merasakan kehangatan di pagi hari. Hangat secara harfiah -nasi dan lauk hangat, air mandi hangat, minyak telon hangat- sekaligus kehangatan maknawi yang mengalir di hati. Aku ingin mereka merasa diperhatikan dan diladeni kebutuhannya, terutama di jam-jam hectic sebelum berangkat sekolah.

Pagiku sering sibuk dan heboh, tapi memasak air justru jadi momen paling tenang. Menunggu ketel mendidih rasanya seperti “reset” kecil sebelum hari dimulai -menarik napas panjang sebelum dar-der-dor menyerbu.

Anak-anakku punya selera yang berbeda. Umar paling suka air yang benar-benar hangat, disusul Jihan, lalu Romi yang kulitnya masih tipis. Tapi memasak air setiap hari tidak semudah yang dibayangkan. Ada kalanya suhu air lebih dingin dari biasanya, membuat takaran yang biasa kupakai jadi kurang pas.

Pernah, airnya terlalu dingin, anak ngambek, aku baper karena merasa tidak dihargai, lalu lahirlah keributan pagi karena hal sepele.

Aku jelaskan ke mereka bahwa pekerjaan Mama tak selalu sempurna. Kadang gagal karena airnya terlalu dingin, kadang karena Mama kurang fokus. Aku ingin mereka belajar memahami itu, belajar bersyukur. Setidaknya tetap ada air hangat yang tersedia -meski tidak sesuai selera, tapi lebih baik daripada air suhu ruang.

Di hari libur, aku jarang menyiapkan air panas. Sedingin apa pun cuacanya. Kalau mereka mau, mereka bisa menunda mandi atau memasak air sendiri (kecuali Romi yang masih terlalu kecil).

Alasanku, aku juga butuh istirahat dan ingin menikmati pagi dengan santai. Sekaligus mengajarkan anak-anak prosesnya dari menyiapkan air, menunggu mendidih, hingga mencampurnya dengan air dingin agar suhunya pas. Mereka perlu tahu, air hangat tak datang begitu saja.

Aku bukan ibu yang selalu hangat dan menebar cinta secara terang-terangan. Aku ibu yang apa adanya. Ladang dingin, kadang meledak. Maka bagiku, rutinitas sederhana bisa menjadi sangat berarti bagi penerimanya, menyalurkan ketulusan dan kasih sayang tanpa banyak kata.

Seperti kotak bekal sederhana yang selalu kusiapkan, seragam sekolah yang kusetrika dengan tulus, aku berharap cinta itu selalu sampai pada anak-anakku meski mereka sedang berada di luar rumah.

Aku ingin anak-anakku merasakan bahagianya mandi menggunakan air hangat, seperti dulu aku merasa hangat saat budheku memasakkannya untukku, atau seperti kini, ketika suamiku menyiapkannya untukku.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

15 Kata-Kata Bahasa Arab Sedih dan Artinya [+Gambar]

35 Quotes About Love dan Artinya

Review: All Creatures Great and Small by James Herriot