Rumah yang Kusebut Blog

Kadang aku bertanya, dengan bermacam jenis media sosial yang ada, mengapa aku masih menulis di blog.

Padahal di media sosial kemungkinan tulisanku dibaca lebih besar dibanding blogku,yang mayoritas tulisannya mengalir tanpa kata kunci, teknik SEO (Search Engine Optimization) dan sebagainya.

Mungkin jawabannya adalah, bagiku blog bukan sekadar tempat menulis. Blog adalah rumah yang bisa membuatku merasa pulang, kembali menjadi diriku tanpa pencitraan. Tanpa takut dikomentari dan dihakimi. 

Aku memulai perjalanan menulisku di buku diary. Dimulai saat kelas tiga SD. Saat itu aku menulis jurnal emosiku, menceritakan apa yang terjadi tiap hari, dan bahkan kadang aku membuat puisi.

Saat diary book yang ada kuncinya mulai ngetren, aku tak pernah tak punya buku itu. Seperti sebuah item yang menjadi ciri khasku. Diary book milikku saat itu selalu kuisi dengan berbagai hal yang aku suka.

Aku kadang jugamenulis jurnal refleksi di binder, yang kerap dipinjam dan dibaca oleh kawan-kawanku di pesantren. It’s oke. Aku suka tulisanku dibaca orang, kendati aku tidak punya kesempatan untuk mempublikasikannya lebih luas. Aku bahkan dahulu minder untuk sekadar mengirim tulisan ke mading pesantren. Apakah karena aku tidak menyukai spotlight? Aku lebih senang mengirim tulisan ke majalah, dengan nama samaran pula. Aku tak peduli selama hadiah apresiasinya sampai padaku. 

Mengenal blog beberapa tahun kemudian rasanya seperti anugerah. Di sana aku seperti memiliki platformku sendiri, menulis apa saja dengan gayaku, tapi tetap punya kemungkinan dibaca orang nun jauh di sana, entah lewat Google, atau sekadar dari tautan yang kusebar.

Menjadi istri dan ibu kini menjadi aktivitas rutinku. Meski di situ-situ saja, aku punya banyak cerita. Bayangkan, mengelola rumah dengan tiga anak yang usia dan kepribadiannya berbeda. Banyak cerita yang ingin kusimpan, kukenang, dan dibaca oleh anak-anakku kelak. Maka bagiku, blog lah tempat yang paling ideal untuknya.

Aku menulis di kala senggang, sering bolong, namun aku sadar bahwa dengan menulis, hatiku menjadi plong. Aku seperti bercerita kepada banyak orang. Padahal blogku tidak banyak dikunjungi. Padahal aku tak tahu sedang bercerita kepada siapa.

Rasanya seperti membuat kapsul waktu. Aku bercerita pada diriku di masa depan, dan siapapun yang membacanya kelak.

Mungkin dunia berubah, tapi aku ingin terus menulis, agar kata-kataku punya rumah untuk kembali.

Aku ingin tetap membuat blogku hidup, berfungsi sebagaimana mestinya. Menyimpan kenangan sekaligus harapan. Menjadikannya tempat pulang, dan siapa tahu bisa sedikit menginspirasi.

Selamat Hari Blogger Nasional.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

15 Kata-Kata Bahasa Arab Sedih dan Artinya [+Gambar]

35 Quotes About Love dan Artinya

Review: All Creatures Great and Small by James Herriot