Hujan
Belakangan, cuaca tak menentu. Terkadang siang hari panas menyengat, kipas angin, alih-alih mendinginkan udara, justru terasa seperti meniupkan angin hair dryer. Lalu sore hingga malam, hujan mengguyur deras, kadang sampai membangunkanku dari tidur lelap.
Konon, inilah musim pancaroba, masa peralihan. Saat imunitas tubuh diuji habis-habisan untuk beradaptasi dengan perubahan suhu dan cuaca yang tak menentu.
Sebetulnya, aku lebih menyukai musim penghujan dibanding kemarau. Ada ketenangan dalam mendengar tetes hujan. Sebagaimana tanah yang basah, hatiku pun ikut terasa sejuk setiap kali mendengar rintiknya.
Aku teringat masa kecil dulu betapa senangnya berangkat sekolah di bawah hujan. Naik motor sambil berlindung di balik mantel, atau berjalan bernaung payung bertelinga yang saat itu sedang tren.
Tapi musim hujan di masa dewasa, dan karirku sebagai ibu rumah tangga, membawa keresahan yang berbeda. Aku sering deg-degan dengan beberapa bagian rumah yang bocor —khawatir anak-anak terpeleset. Jemuran pun lebih lama kering, antrean cucian menumpuk, dan jadwal menyetrika harus disesuaikan ulang. Biasanya cukup seminggu sekali, kini dua kali, karena seragam anak-anak dan suami tak bisa kering berbarengan.
Ayam-ayam liar berlindung di bawah teras setiap kali hujan turun. Bisa ditebak, kotorannya pun berhamburan aduhai. Mengepel teras sekali sehari tak lagi cukup, karena mereka datang lagi dan lagi.
Ayam-ayam itu tak bertuan. Mereka berkeliaran, memakan limbah dapur kami, buang hajat di sekitar rumah, lalu beranak pinak tanpa beban. Namun, aku dan para tetangga tak pernah berani menikmati telur atau daging mereka. Kendati keinginan itu ada -hitung-hitung simbiosis mutualisme, bukan?Sungguh, ayam-ayam yang diberkahi kehidupan slow living.
Meski banyak sambatku, sejatinya aku tetap mencintai suara air dan aroma tanah yang menenangkan.
Di musim hujan, anak-anak lebih suka bermain di dalam rumah. Meski begitu, kadang mereka meminta izin mandi hujan dan hampir selalu kuizinkan, selama tubuh mereka sehat, hujan tak berangin, dan langit tak berpetir.
Sepatu basah -kadang bercampur lumpur, tas yang rembes, baju yang lembab, semuanya kini jadi hal yang bisa dimaklumi. Tak lagi kupermasalahkan. Belajar untuk legowo dan hidupku bisa slow living-seperti ayam liar yang kuceritakan tadi.
Pada akhirnya, hidup memang seperti cuaca. Kadang cerah, kadang mendung. Kadang penuh semangat, lalu ingin rehat. Suka dan duka datang silih berganti, layaknya angin yang berhembus. Sebagaimana bumi tak pernah menolak hujan, aku pun ingin belajar menerima perubahan dengan hati tenang: sabar, pasrah, tumbuh dalam diam.
Konon, manusia berada di puncak karena kemampuan beradaptasi dalam banyak situasi dan kondisi. Kita memang diberi Allah keistimewaan untuk menjadi khalifah di muka bumi:
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi…’”
(QS. Al-Baqarah: 30)
Dan sebagaimana amanah itu disematkan, sikap seorang pemimpin haruslah benar; mengedepankan iman dan takwa, menjaga hak sesama makhluk, saling menyayangi, mengayomi, dan berbuat ihsan di mana pun berada.
Hujan datang membawa pesan, bahwa setiap hal di dunia ini punya waktunya sendiri. Tak ada yang abadi. Panas akan reda, mendung akan pergi, hujan akan berhenti. Tugas kita hanyalah meneduh sejenak, menguatkan diri, lalu melangkah lagi saat langit mulai terang. Karena di balik setiap rintik yang jatuh, selalu ada kehidupan baru yang tumbuh.

Komentar
Posting Komentar