Ramadhan di Rumahku



Ramadhan buatku bukan hanya menahan lapar dan haus. Ia seperti madrasah yang buka setahun sekali. Di sinilah anak-anakku belajar menghormati, empati, dan menjalankan aturan Allah tanpa perlu merasa lebih tinggi dari orang lain. Semua dimulai dari rumah, dari hal-hal yang kelihatannya kecil.

Di rumah ini, Romi belajar puasa setengah hari. Umar sudah memilih puasa full meski belum baligh. Jihan, sejak beberapa tahun sebelum baligh pun sudah terbiasa full, dan sekarang tentu sudah menjadi kewajiban baginya. Aku tidak menyamaratakan mereka. Karena aku percaya, ibadah itu berhubungan dengan kesiapan dan proses.

Anak yang puasa setengah hari bukan berarti setengah taat. Ia sedang berlatih. Yang biasanya bebas makan dan minum, kini harus menunda dan bersabar. Harus menerima bahwa tidak semua keinginan bisa langsung dipenuhi. Ketika dzuhur tiba dan Romi berbuka, aku tidak menyebutnya gagal. Itu bagian dari latihannya.

Aku juga tidak mengatakan "yey, kamu berhasil puasa setengah hari", puasa itu ketentuannya jelas, dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Aku selalu menekankan padanya bahwa ini latihan. Jika ia kelupaan, aku menegur tanpa amarah, pun jika ia terbawa oleh temannya yang belum mulai berlatih dan mengajaknya makan diam-diam. Memperkenalkan ibadah puasa ternyata juga merupakan sekolah sabar bagiku. Hanya Allah tempat memohon taufik dan kekuatan.

Drama? Tentu ada. Lapar, haus, kantuk, tangis, keluh, kadang skenario-skenario kecil yang terasa besar di mata mereka. Di situ aku belajar juga untuk tidak reaktif. Aku berusaha menanamkan bahwa di bulan ini, mayoritas orang muslim berpuasa, di seluruh penjuru dunia. Jika kamu lapar, semua orang juga merasakannya. Namun puasa adalah menahan. Dan nilai plus dari sabar adalah tetap memilih taat meski tidak nyaman. Aku juga memberikan penjelasan bahwa ketika berhasil, rasa berbuka itu jadi berkali lipat lebih nikmat. Allah yang memberikan kenaikmatan itu pada jiwa orang yang mau mengendalikan dirinya. 

Soal rispek, aku cukup tegas. Di rumah kami, tidak makan dan minum di hadapan yang berpuasa adalah bentuk hormat. Kebutuhan boleh dipenuhi, tapi tidak perlu dipertontonkan. Kami punya zona makan khusus, yaitu dapur. Kalau ada yang tidak berpuasa, maka hanya boleh makan di sana. Bukan sembunyi karena malu, tapi untuk menjaga suasana. 

Kalau ada yang punya uzur seperti haid atau sakit, ia tetap punya hak penuh untuk makan dan minum kapan pun dibutuhkan. Tidak perlu merasa tidak enak. Tidak perlu pura-pura puasa demi terlihat sama. Di rumah ini, aku ingin mereka paham bahwa aturan Allah dijalankan secara utuh. Ada kewajiban, ada juga rukhshah (keringanan).

Aku juga jelaskan kepada anak-anak kenapa aku yang sedang menyusui boleh tidak berpuasa. Keringanan ini adalah kasih sayang Allah untuk menjaga kondisi ibu dan bayi yang kecil. Syariat tidak melulu perintah yang keras, ada juga keringanan yang penuh rahmat. Kami yang berhalangan tidak sedang melawan Allah, kami sedang menjalankan bagian aturan yang lain.

Karena itu di rumah ini tidak ada drama pura-pura puasa. Tidak perlu sandiwara demi citra. Lebih baik jujur pada kondisi diri, selama sesuai dengan ketentuan-Nya.

Aku juga membatasi mereka bermain terlalu lama di luar saat siang Ramadhan. Selain untuk menghemat energi, aku tahu, di luar tidak semua nilai yang kami pegang akan sama. Saat terlalu banyak main di luar, mereka akan bertemu teman yang makan dan minum di depan mereka, bahkan mengajak makan bersama, atau membawakan fatwa "tidak mengapa, yang kecil boleh tidak berpuasa". Dan itu nyata terjadi.

Idealnya menurutku memang pendidikan Ramadhan ini dilakukan serempak oleh suatu lingkungan, tidak cukup dari satu rumah. Namun aku sadar bahwa hidup tak selalu ideal, tidak bisa memaksakan preferensi orang lain.

Sambil mengucap "laa haula wa laa quwwata illa billah", aku tidak mau ambil pusing akan metode pendidikan di rumah lain. Toh anak-anakku tidak selamanya berada dalam lingkar yang sefrekuensi, kelak mereka akan banyak menemukan perbedaan dan bahkan anomali. Melihat hal itu bisa dijadikan sebagai pembanding dan bahan diskusi kami di sela-sela kegiatan. 

Puasabertujuan meningkatkan takwa. Jadi bagaimana saja kita membawa diri. H arapanku kelak ketika anak-anak di luar tanpa aku, mereka tidak mudah goyah hanya karena melihat orang lain makan di depan mereka, atau dalam hal apapun selain puasa. Aku berharap mereka paham bahwa pilihan orang lain tidak menggugurkan pilihan mereka. Mereka kuat tanpa perlu marah pada sekitar.

Dan ketika suatu hari mereka berada pada posisi tidak berpuasa karena uzur, aku berharap mereka tetap tahu adabnya. Tidak makan di depan orang yang berpuasa. Bukan karena takut dihujat, namun kesadaran dari dalam akan adab dan akhlak. 

Ramadhan di rumah ini sedang mengajarkan satu hal yang terus kuulang, rispek itu dua arah. Yang puasa tidak merasa lebih suci, dan yang tidak puasa tidak merasa lebih rendah. Semua sedang taat, meningkatkan takwa, dengan caranya masing-masing, sesuai aturan Allah.

Puasa adalah sekolah takwa, ketakwaan letaknya dalam hati. Aku ingin anak-anak belajar menjaga hati dengan berpegang pada prinsip sendiri, dan menjaga hati dari penyakit, sehingga tidak mudah menghakimi. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

15 Kata-Kata Bahasa Arab Sedih dan Artinya [+Gambar]

35 Quotes About Love dan Artinya

Review: All Creatures Great and Small by James Herriot