Melihat 'Siapa' di Balik Kenyamanan
Anak-anak sering mengira rumah berjalan sendiri.
Saat mereka bermain, piring tiba-tiba bersih, baju rapi muncul di lemari, dan kasur selalu kembali tertata. Bahkan bukan hanya anak-anak, anggota keluarga yang tidak mengerjakan pekerjaan rumah sangat mungkin merasa demikian. Belum pernah melakukan, belum pernah merasakan, belum pernah belajar bahwa setiap hal baik dan kenyamanan yang mereka nikmati dilakukan oleh seseorang.
Kenyataannya, mengajari lewat video, buku, atau media dua dimensi sering kali kurang memberi dampak. Sifatnya tidak praktis, tidak dirasakan langsung.
Itulah mengapa, sebagai ibu yang kini memegang peran sebagai “napas rumah tunggal” (orang yang mengerjakan sebagian besar tugas rumah tangga tanpa asisten), aku memilih untuk melibatkan anak-anakku. Bagiku, empati tumbuh dari rasa peduli. Dan rasa peduli tumbuh ketika seseorang pernah merasakan apa yang dirasakan orang lain.
Aku menormalkan memberi anak tanggung jawab sesuai usianya. Agar mereka tahu bahwa rumah tak bisa bersih dengan sendirinya, bahwa tempat bekal tidak akan mencuci dirinya sendiri, bahwa sepatu dan tas tidak dapat “pulang ke rumahnya” tanpa diletakkan oleh pemiliknya, dan bahwa seragam serta kaus kaki kotor hanya akan tetap kotor bila tidak ditaruh di keranjang cucian.
Jika anak lupa, aku menegur. Mengulang teguran hingga mereka bosan. Jangankan mereka, aku pun sering merasa jengah harus menegur. Namun aku percaya, repetisi dan ketegasan dapat menumbuhkan kebiasaan. Awalnya lupa, berat, lalu akan menjadi rutinitas.
Sesekali aku bercerita kepada anak--dan juga kepada suamiku tentang kelelahan yang kurasakan. Berapa banyak pakaian yang kucuci, seberapa lelah aku memasak untuk mereka, dan apa saja yang sudah kulakukan demi menjaga pakaian putih mereka tetap bersih… agar tumbuh rasa hormat terhadap usaha yang dilakukan orang lain. Rumah ini bukan The Burrow, dan aku bukan Molly Weasley yang bisa membuat wastafel bekerja dengan satu lambaian tongkat.
Aku memberi tugas sesuai kemampuan masing-masing anggota keluarga. Agar mereka paham bagaimana lelahnya melipat pakaian. Seperti apa usaha memasang seprai dan merapikan kasur. Bagaimana rasanya menggoreng telur untuk disantap, dan bagaimana mengoperasikan mesin cuci.
Aku bukan pemimpin keluarga, tapi anggaplah aku manajernya--punya otoritas untuk membagi pekerjaan.
Aku juga berusaha mengajarkan konsekuensi alami. Baju yang tidak ditaruh di keranjang cucian tidak akan tercuci. Sepatu yang ditinggalkan di teras pasti basah jika hujan turun. Mainan yang tidak dibereskan akan terinjak, hilang atau kadang tersapu ke tong sampah.
Dan tentu saja, aku tidak berjalan sendiri.
Suamiku, meski sibuk bekerja di luar rumah, tetap punya bagian tugas di rumah ini. Ia yang memastikan sampah selalu terbuang, kebutuhan anak-anak terpenuhi, dan tanpa diminta ia mengambil alih tugasku ketika aku sakit, kelelahan, atau butuh jeda sejenak dari rutinitas.
Aku selalu bersyukur dan berterima kasih untuk itu. Karena aku tahu, rumah ini bisa berjalan lebih hangat karena kami sama-sama berusaha menjalankan peran kami, saling menutupi, saling membantu.
Bagiku, rumah adalah sekolah pertama untuk rasa empati. Aku ingin anak-anak tumbuh menjadi sosok yang memiliki rasa peduli--kini, hingga dewasa nanti. Aku ingin mereka membangun keluarga yang tidak patriarkis: saling membantu, saling menghargai, tanpa mengkotak-kotakkan pekerjaan “si ini” dan “si itu”.
Karena bagiku, romantisme bukan sekadar pelukan, ciuman, atau kata-kata puitis.
Romantisme adalah saling memahami, berbicara dari hati ke hati, dan menghargai usaha satu sama lain.

Komentar
Posting Komentar