Perjalanan Panjang Bag. 1

Ada satu masa dalam hidup yang membuat kita berhenti, menunduk, dan menarik napas pelan. Masa menjelang kelahiran. Meskipun ini bukan kehamilan pertama, rasanya tetap saja ada degup khusus yang sulit dijelaskan. Tubuhku berubah begitu cepat: lebih mudah lelah, lebih hangat, lebih sering butuh rebahan.

Kadang aku heran sendiri. Kok bisa ya waktu berjalan secepat ini? Baru kemarin rasanya aku memaksa diri kuat menghadapi hari-hari pertama trimester awal, dengan segala mual dan lemasnya, sekarang tinggal menghitung minggu sebelum bertemu seseorang yang selama ini hanya kurasakan geraknya dari dalam.

Sepertinya menarik juga menceritakan kehamilan kelimaku ini. Ya, kelima. Kehamilan ketigaku berakhir keguguran dan kuretase. Dan di kehamilan kelima ini, aku lebih aware dan berhati-hati, lebih berjuang untuk dapat melahirkan pervaginam, hasil belajar dari pengalamanku sebelumnya.

Awalnya, aku ingin mencukupkan diri dengan tiga anak saja. Tiga saja rasanya sudah begitu berat tanggung jawab yang harus kupikul. Banyak kesalahan yang kubuat, yang membuatku merasa kurang mampu untuk menambah momongan lagi.

Namun, di usia menjelang 34 tahun, aku dan suamiku sepakat, nampaknya kami masih mampu mengusahakan jika diberi momongan satu lagi. Usiaku masih ideal untuk melahirkan, semoga masih minim risiko, dan masih ada tenaga untuk mengasuh serta membiayai tiga plus satu anak.

Sebelum deal, aku mengingatkan pada suamiku bahwa trimester pertama tak pernah mudah. Aku kemungkinan besar akan mual parah dan lemas tak berdaya. Aku akan makin sensitif pada segala bau dan beragam jenis makanan.

Aku mungkin tidak akan bisa melakukan banyak pekerjaan rumah, terutama memasak dan mencuci pakaian. Karena nafsu makanku di kehamilan sebelumnya turun ekstrem, di kehamilan berikutnya bisa jadi sama. Aku akan selalu lemas dan lebih banyak di tempat tidur, berat badanku turun, dan akan sulit untuk berdiri lama.

Jadi intinya, aku akan meminta —lebih tepatnya menuntut— suamiku untuk mengambil alih sebagian besar pekerjaan rumah, hampir seluruhnya. Dan ia mengiyakan.

Dan benar, hari-hari trimester pertama rasanya seperti déjà vu. Aku merasakan mual di pagi, siang, sore, malam… tidak nafsu makan, tidak bertenaga, dan tidak mampu masuk ke dapur untuk memasak. Ditambah lagi, aku jadi sering meludah. Aku menghabiskan satu kotak tisu setiap hari. Karena itu, bahkan aku sulit berbicara.




Alhamdulillah, suamiku memenuhi janjinya. Meski menu masakannya tidak banyak dan aku selalu senewen tiap mencium aroma bawang dari masakannya, aku sangat berterima kasih padanya. Ia belanja, memasak, mencuci piring, pakaian, menjemur, melipat, membersihkan kamar mandi, dan mengurus kebutuhan Romi si bungsu.

Syukur alhamdulillah, sebulan saat puncak masa ngidamku itu, Jihan dan Umar sedang libur sekolah, Romi juga belum mulai masuk TK. Jadi rutinitas pagi menjelang sekolah yang dar-der-dor tidak perlu dialami suamiku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

15 Kata-Kata Bahasa Arab Sedih dan Artinya [+Gambar]

35 Quotes About Love dan Artinya

Renungan Anak Santri