Perjalanan Panjang Bag.13
Tanggal 29 Desember, anak-anakku mulai kembali masuk sekolah. Sudah sekitar sebulan aku tidak menjemput Romi ke sekolah. Rasanya badanku semakin berat saja, ditambah sakit yang sangat mengganggu di tulang selangkanganku. Berjalan biasa pun terasa payah, apalagi harus melalui jalan menanjak dengan tangga menuju sekolah Romi. Aku bilang padanya untuk pulang sendiri, toh sekolah Romi dan rumahku masih berada dalam kompleks pesantren yang dijaga oleh security. Jaraknya juga hanya dua menit berjalan.
Saat Romi bertanya kapan aku bisa kembali menjemputnya, aku hanya bisa memberi harapan. Insya Allah nanti setelah adiknya lahir.
Tugas belanja pekanan kembali dihandle oleh suamiku. Aspal jalan di sekitar rumah rusak sangat parah karena ada proyek pembangunan bendungan di dekat sini. Truk besar lalu lalang setiap hari. Ditambah air hujan yang menggerusnya, jalanan menjadi hancur tak karuan.
Melewati jalan dengan kondisi seperti itu membuat perutku kencang. Kadang sampai sakitnya benar-benar terasa mengganggu.
Setelah tanggal 29 gagal bertemu dokter, rasanya terlalu melelahkan bagiku untuk datang lagi keesokan harinya. Secara mental dan fisik aku sudah cukup terkuras. Jaraknya jauh, ditambah kondisi jalan yang hancur.
Akhirnya pada tanggal 30, kupersilakan suamiku tetap berangkat menghadiri seminar di Bogor Kota. Jaraknya sekitar dua jam dari rumah kami.
Sebelum berangkat, ia memastikan lagi apakah aku benar-benar aman untuk ditinggal. Aku menjawab saja, sepertinya masih aman karena belum ada tanda-tanda kontraksi.
Ya, semoga saja benar-benar aman.
-----
Tanggal 31 Desember dan 1 Januari, anak-anakku ada jadwal berjualan di market day. Sejak jauh-jauh hari aku sudah berjanji pada mereka akan membuatkan bubur ketan hitam sebagai menu yang akan dijual.
Namun qadarullah, jadwal market day yang seharusnya pertengahan Desember diundur. Aku khawatir di antara tanggal 31 Desember dan 1 Januari bayiku lahir. Jadi untuk berjaga-jaga, beberapa hari sebelumnya aku memesan makanan dari salah satu ummahat pesantren. Menu yang kupesan adalah sate donat dan Macaroni Schotel.
Tentu saja aku meminta maaf kepada anak-anak, karena tidak bisa membuatkan sendiri menu yang sudah kujanjikan.
Alhamdulillah di hari H, barang jualan mereka laku tak bersisa. Setidaknya meski aku tidak menepati janji, mereka tetap gembira karena mendapat uang tambahan untuk ditabung.
-----
Malam 1 Januari, sekitar pukul delapan, aku mulai merasakan kontraksi yang cukup intens. Namun rasanya masih sangat lemah. Aku meminta suamiku segera menyiapkan barang-barang yang ia butuhkan.
Sebenarnya sejak lama aku sudah menanyakan apa saja yang kira-kira perlu dibawa ke rumah sakit. Kaos yang mana, celana yang mana yang menurutnya paling nyaman. Namun ia selalu menjawab, “nanti,” dan mengatakan santai saja. Kalau ada barang tertinggal, katanya, banyak temannya yang bisa dimintai tolong.
Padahal jika kontraksi sudah datang, tentu aku akan kewalahan jika masih harus mempersiapkan barang-barangnya. Karena itu aku memintanya menyiapkan sendiri saja.
Pukul sembilan malam, aku mengajak suamiku segera berangkat. Selagi aku bersiap, ia keluar rumah untuk menyiapkan mobil kantor yang akan kami pinjam malam itu.
Alhamdulillah, aku sangat bersyukur kepada Allah. Pada saat darurat seperti ini, ada mobil yang bisa dipinjam.
Aku dan suami sempat berunding. Sebaiknya aku langsung ke rumah sakit atau ke bidan terdekat dulu? Mengingat kontraksinya masih sangat lemah, meskipun sudah lima menit sekali. Lendir darah pun belum keluar.
Jarak rumah ke rumah sakit sekitar 45 menit. Akan sangat melelahkan jika aku harus kembali lagi ke rumah karena ternyata belum ada pembukaan sama sekali.
Komentar
Posting Komentar