Perjalanan Panjang Bag. 16

Ruang bersalin itu mirip seperti IGD. Ada beberapa ranjang yang dipisahkan oleh gorden, dengan satu meja untuk para petugas di tengah. Saat itu kira-kira ada tiga orang pasien, termasuk aku.

Sesampainya di sana aku kembali berbaring. Lagi-lagi aku diperiksa dalam, masih pembukaan dua, dan lagi-lagi ditanyai pertanyaan yang sama persis dengan yang baru saja ditanyakan kepadaku sekitar lima belas menit sebelumnya di IGD.

Padahal menurut suamiku, catatan dari IGD tadi dipegang oleh bidan yang bertugas di ruang bersalin ini.

Agak aneh, bukan?

Sempat terlintas di pikiranku, apakah mereka ingin mengetes batas kesadaranku atau bagaimana sebenarnya? Aku hanya berpindah dari IGD ke ruang bersalin, tapi rasanya seperti berpindah rumah sakit. Tentu saja ini hanya pertanyaan di kepalaku. Tidak perlu dianggap terlalu serius. Aku tidak sedang menghujat atau mencela tenaga kesehatan. Aku hanya mempertanyakan sebuah kejadian yang terasa di luar nalarku saat itu.

Tidak lama kemudian seorang bidan masuk dan bertanya,

“Ibu, ini kehamilan kelima ya? Tidak ingin steril sekalian?”

Di dalam hati aku langsung berpikir, what? Tiba-tiba sekali pertanyaannya tentang steril.

Aku menjawab dengan penuh keheranan,

“Tidak, Bu. Kan saya mau melahirkan normal. Bagaimana caranya steril?”

“Oh iya, maksudnya kalau nanti harus sesar.”

Yang kurasakan saat itu adalah rasa jengkel.

Maksudku, jika masih mungkin melahirkan normal, untuk apa aku memilih sesar? Bahkan pembicaraan sudah sampai pada perkara steril.

Sejak kapan seorang bidan yang bahkan bukan dokter yang memeriksaku setiap bulan perlu menanyakan preferensi KB yang kupegang? Bukankah itu urusan dan privasiku?

Aku kembali dipasangi alat pemantau detak jantung bayi di perutku. Suamiku kembali ke IGD untuk mengambil tas dan koper yang masih tertinggal di sana.

Tidak lama kemudian bidan lain masuk dan memasangkan selang oksigen ke hidungku. Aku tidak diberi tahu alasannya. Lalu ia bertanya, jika nanti dokter S memutuskan bahwa aku harus menjalani sesar, apakah aku bersedia.

Tentu saja aku menjawab,

“Iya, jika memang dibutuhkan. Saya akan mengikuti apa yang terbaik menurut dokter.”

Oksigen dari selang itu terasa sangat tidak nyaman bagiku. Rasanya berbeda dengan oksigen yang kuhirup secara alami. Oksigen dari tabung ini seperti memiliki aroma obat yang cukup kuat. Hembusannya juga dingin.

Hidungku cukup sensitif terhadap udara dingin, jadi justru terasa mampet. Alih-alih menghirup oksigen lewat hidung, aku malah refleks bernapas lewat mulut.

Saat itu waktu sudah hampir Subuh. Aku mulai ketiduran karena rasa kantuk yang kutahan semalaman. Baru saja memejamkan mata, seorang bidan datang lagi dan agak memarahiku karena melihat aku tidak menghirup oksigen dari selang.

“Ibu, ayo dihirup oksigennya. Kasihan bayinya, detak jantungnya lemah. Apa nggak kasihan sama anaknya? Untuk sementara kita bantu dulu dengan oksigen agar kondisinya membaik. Semoga nanti bayinya bisa langsung menangis saat lahir.”

What?

Sejak aku datang malam ini, baru pertama kali aku mendengar bahwa detak jantung bayiku lemah. Sebelumnya yang dibahas para bidan justru soal kemungkinan sesar dan bahkan steril. Dari beberapa bidan sudah bolak-balik masuk, kenapa tidak ada satu pun yang menjelaskan kondisi janinku kepada kami?

Sejak saat itu perasaanku mulai tidak enak. Aku mulai cemas.

Namun aku tetap berusaha menghirup oksigen sebisaku, meskipun beberapa kali bersin karena hembusan dinginnya. Aku tahan dan kupaksakan, demi kebaikan janinku.

Tak lama kemudian suamiku meminta izin keluar untuk salat Subuh. Aku hanya berpesan agar ia tidak terlalu lama.

Sepulang dari masjid, suamiku membantuku ke kamar mandi untuk buang air kecil sekaligus berwudhu. Setelah itu aku menunaikan salat dengan duduk di lantai, sementara kantong infus dipegang oleh suamiku.

Masya Allah, rasanya romantis diperhatikan seperti ini.

Di tengah kondisi yang melelahkan dan menegangkan, aku bersyukur. Dalam banyak keadaan yang tidak mudah, suamiku tetap hadir dan dengan sabar mendampingiku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

15 Kata-Kata Bahasa Arab Sedih dan Artinya [+Gambar]

35 Quotes About Love dan Artinya

Review: All Creatures Great and Small by James Herriot