Aku Tidak Sendirian
Gimana ya ..? Sebagai orang tua aku sering merasa beban mendidik anak itu sangat berat. Apalagi di masa kemajuan teknologi dan komunikasi seperti sekarang, ketika fitnah syahwat dan syubhat menyambar-nyambar hebat.
Kadang aku lupa bahwa aku tidak memikul beban itu sendirian. Ada Allah yang menopangku. Allah yang memberikan hidayah dan taufik hingga aku bisa menjadi aku yang sekarang. Dia Maha Pengasih, Maha Memberi petunjuk kepada hamba yang Dia kehendaki.
Aku sering lupa, bahwa anak bukan sepenuhnya milikku. Anak adalah milik-Nya. Hati mereka berada di antara dua jari Ar-Rahman, Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati.
Jika dipikir-pikir, Allah telah menjaga anak-anak sejak mereka masih berupa embrio hingga menjadi manusia yang sempurna. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya salah seorang di antara kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya selama empat puluh hari dalam bentuk nutfah, kemudian menjadi segumpal darah selama itu pula, kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat, lalu ditiupkan ruh ke dalamnya dan diperintahkan untuk menuliskan empat perkara: rezekinya, ajalnya, amalnya, dan apakah ia celaka atau bahagia…”
Allah juga berfirman dalam Al-Qur'an:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِن سُلَالَةٍ مِّن طِينٍ ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَّكِينٍ ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ
Artinya:
“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami menjadikannya air mani dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, lalu segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang-belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik.” Q.S Al-Mukminun: 12-14
Dan firman-Nya:
وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
Artinya:
“Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Masa mengandung sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan. Hingga apabila dia telah dewasa dan mencapai usia empat puluh tahun, dia berdoa: ‘Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku dapat beramal saleh yang Engkau ridhai; dan perbaikilah untukku (keadaan) keturunanku. Sungguh, aku bertobat kepada-Mu dan sungguh, aku termasuk orang-orang yang berserah diri.’” Q.S Al-Ahqaf:15
Jika kuingat kembali, hampir setiap kehamilan aku mengalami mabuk berat di trimester pertama. Jangankan makanan bergizi, minum pun harus pilih-pilih. Syukur-syukur ada yang bisa masuk dan bertaham sampai dicerna. Aku bisa berhari-hari tidak makan nasi. Bukan tidak mau, tapi tidak mampu. Hampir semua yang kutelan keluar kembali. Jika bukan karena penjagaan-Nya, bagaimana mungkin janin-janinku bertahan?
Allah berikan kelapangan dada yang luas pada suamiku, hingga mampu bersabar menyikapi egoku yang meledak-ledak di masa kehamilan. Allah berikan rezeki yang cukup hingga mampu menuruti banyak kemauanku dan memberiku fasilitas terbaik yang ia bisa.
Lalu Allah perlihatkan kebaikan-Nya saat proses melahirkan--dengan segala rasa yang nano-nano dan berbeda tiap kalinya--aku bersyukur bayi-bayiku lahir sehat, fisik sempurna, dan tumbuh dengan baik.
Aku nyaris tidak pernah memiliki me time sendirian sejak punya anak. Ke mana pun aku pergi bersenang-senang, rasanya perlu membawa mereka. Keluarga adalah sumber kebahagiaan yang jika tidak ada, rasanya kurang. Dan Allah Maha Memberi taufik, anak-anakku bukan tipe yang suka tantrum dan mengganggu di tempat publik. Mereka cenderung menurut dan bersikap baik. Seolah-olah rumah adalah tempat paling aman bagi mereka untuk meluapkan emosi negatifnya. Aku dan suami bisa merasa tenang berlibur, makan di luar, dan pergi ke tempat umum tanpa merasa khawatir orang lain akan terganggu.
Jika bukan Allah yang memberi mereka kesehatan dan hidayah, aku tak bisa mengubah apapun. Allah sungguh Maha Baik, Maha Pengasih pada kami.
Bagaimanapun, setiap anak memiliki watak masing-masing. Ada yang perasa, ada yang pemikir, ada yang kritis, ada yang suaranya lantang. Aku tidak bisa mendikte mereka menjadi versi yang sepenuhnya sesuai keinginanku. Aku hanya bisa berikhtiar mendidik semampuku. Mengajarkan adab, tata krama, melatih sikap dan perilaku, lalu berserah pada hal-hal yang berada di luar kendaliku.
Anak-anak akan terus berproses--demikian juga aku dan suamiku. Mereka belajar dari peristiwa hidupnya, dan aku percaya semua itu adalah cara Allah mendewasakan kami.
Menyimak kajian parenting, membaca buku, bertanya, ikut kelas sana-sini--ternyata tetap saja mendidik tidak sesederhana teori. Aku harus mendidik diriku terlebih dahulu sebelum mendidik anak-anak. Dan sampai hari ini, aku belum merasa benar-benar selesai terdidik. Masih dalam proses.
Jika bukan atas karunia Allah, bagaimana mungkin seseorang yang membawa trauma masa kecil bisa membesarkan anak-anak tanpa trauma? Bukan berarti tanpa usaha. Aku berusaha. Tetapi usahaku tak berarti tanpa kemudahan dari-Nya.
Bagiku, tawakal adalah rumus mutlak dalam pendidikan. Tawakkal = ikhtiar maksimal + berserah sepenuhnya. Tidak cukup salah satunya saja.
Aku merasa Allah mendidikku dan suami melalui anak-anak kami. Berkeluarga adalah proses lembut yang menuntunku menuju kematangan fisik maupun mental. Perlahan namun pasti.
Aku belum menjadi ibu yang ideal. Tapi mungkin justru inilah ideal yang Allah kehendaki. Orang tua yang terus berproses, anak-anak yang bertumbuh, saling belajar dalam satu rumah yang sama. Kami membantu, memfasilitasi, mengawasi. Dan di atas kami, ada Allah, Dzat yang Maha Menguasai.
Barangkali paradigma “aku mendidik” memang kurang tepat. Lebih benar rasanya mengatakan bahwa kami dibimbing Allah untuk mampu mendidik. Dan kesadaran itu membuatku tidak merasa sendirian. Ada pengawasan, ada kasih sayang, ada penjagaan dari Dzat yang menciptakan kami.
Komentar
Posting Komentar