Menulis; Dulu Hingga Nanti Bag.2
Perjalananku menulis di blog dimulai dengan cara yang agak konyol. Setelah membuat alamat blog, aku justru meng-copy paste artikel dari website lain dan memuatnya di blogku. Memalukan, tapi itulah postingan pertamaku. Saat itu aku belum paham bahwa hal tersebut termasuk plagiarisme. Yang kupikirkan hanya bagaimana caranya agar blogku punya isi dulu. Bukan untuk membenarkan, tapi bagiku itu adalah titik awal belajar lebih memahami dunia kepenulisan.
Perlahan, aku mulai menulis hal-hal yang benar-benar ingin kutulis. Aku punya beberapa tabungan tulisan di file laptop, dan sebagian yang layak tayang mulai kuposting di blogku.
Menuliskan cerita-cerita “seru” versiku sendiri di blog ternyata menyenangkan. Aku tidak peduli pada SEO atau hal-hal teknis seperti adsense. Bagiku, bisa menulis saja sudah membuatku bahagia.
Aku yang dulu menulis di kertas secara manual--yang kalau salah harus dihapus dengan tip-ex, atau ditulis ulang demi hasil yang layak dipajang di binder atau dikirim ke majalah, merasa sangat excited dengan praktisnya mengedit tulisan di blog.
Sampai akhirnya aku bertemu dengan suamiku. Menariknya, ia juga suka menulis. Gaya tulisannya sangat berbeda denganku, dan jelas lebih berisi. Ia tipe blogger yang cukup idealis. Apa pun yang ia tulis selalu mempertimbangkan SEO. Topiknya pun sesuai dengan keahliannya. Antara bahasa Arab, penulisan surat resmi, pidato, dan sejenisnya.
Sangat berbeda denganku yang isinya lebih banyak tulisan reflektif, semacam curhat random, tidak membutuhkan dalil atau pengetahuan yang luas. Jika aku menulis untuk merilis perasaan, suamiku menulis untuk membagikan ilmu. Bonusnya menghasilkan adsense.
Sebagai sesama blogger, kami sering membicarakan tulisan masing-masing. Kadang aku menjadi editor untuk tulisannya, dan ia pun sesekali mengomentari tulisanku. Katanya, gaya yang paling cocok untukku memang tulisan reflektif seperti ini. Meski tidak “menghasilkan” dalam bentuk materi, ia senang aku punya ruang untuk menyalurkan hobiku.
Saat kami memiliki anak pertama, kedua, dan seterusnya, akuembiat blog baru. Seperti gerbang dari kehidupan baru yang kujalani. Aku tidak menulis setiap hari, aku biasanya menulis saat ada hal yang terasa layak untuk dituliskan.
Tidak hanya di blog, aku juga menulis di Facebook dan Instagram. Aku menyesuaikan gaya tulisan di tiap platform, karena merasa setiap tempat punya pembaca dengan selera yang berbeda.
Untuk tulisan yang agak puitis, aku memilih Instagram. Untuk tulisan yang lebih aman dan tidak memancing banyak komentar, aku memilih Facebook karena warga Facebook cukup vokal. Sedangkan untuk tulisan yang ingin benar-benar bebas, aku menjadikan blog sebagai ruangku. Tidak banyak yang membaca atau berkomentar, tapi tulisanku tetap bisa ditemukan oleh siapa saja.
Menjadi ibu terasa seperti lautan ide yang tak habis kuselami. Setiap detik dan menit menghadirkan pengalaman sekaligus pelajaran baru. Kini aku belajar menulis dengan cara yang lebih dewasa. Tidak lagi sekadar pengalaman mentah, tapi pengalaman yang mencoba kupahami dan kupetik hikmahnya.
Aku menulis untuk merekam pandangan dan opiniku hari ini. Opini yang sangat subjektif. Bisa jadi, seiring bertambahnya usia, semuanya akan berubah dan semakin matang.
Tulisan-tulisanku kini seperti catatan perjalanan panjang dalam mematangkan diri. Mungkin tidak banyak dibaca orang. Tapi aku berharap, suatu saat nanti, anak-anakku akan membacanya sebagai napak tilas jatuh bangun ibunya dalam menjalani peran.
Aku ingin mereka mengambil pelajaran dari apa yang kupelajari, menangkap perspektif yang kuyakini, dan merasakan nilai yang selama ini kupegang.
Aku pernah bercita-cita menerbitkan buku. Dipajang di rak toko buku, dibaca oleh banyak orang. Namun sekarang aku menyadari, tetap menulis sudah termasuk pencapaian. Menerbitkan buku mungkin sebuah tujuan, tapi menulis adalah kewajiban, sebuah pondasi yang tidak boleh luput.
Mungkin sampai aku menjadi nenek nanti, aku akan tetap menulis. Merekam ide-ide sederhana yang datang dan pergi. Tidak harus besar atau hebat, cukup menjadi catatan kehidupan yang terus berjalan.
Suatu hari, ketika aku sudah menjadi nenek, aku ingin membuka kembali tulisan-tulisan ini. Membaca kisah anak-anakku saat mereka masih kecil dan tak berdaya. Menyimak kembali pertanyaan mereka yang lucu. Merasakan kembali keriuhan hidup bersama empat anak yang hingar-bingar.engingat kembali diskusi-diskusi kecil antara aku dan suami. Lalu tersenyum, mengenang semua yang pernah terjadi.
Tanpa penyesalan. Tanpa rasa bersalah.
Komentar
Posting Komentar