Perjalanan Panjang Bag.15

Aku mengecek jam. Ternyata sudah pukul 01.45. Sudah dini hari, rupanya hari sudah berganti.

Dengan langkah terpincang-pincang dipapah suami, aku berjalan menuju parkiran mobil. Jalan menuju rumahku hanya setapak, jadi mobil tidak bisa dibawa sampai ke depan rumah.

Meski kontraksinya masih terasa lemah, aku dan suamiku sepakat untuk langsung menuju rumah sakit. Kami tidak mampir ke klinik bidan terdekat.

Di kehamilan ini, aku banyak berhusnuzan kepada Allah. Itu semacam afirmasi positif yang kutanamkan kepada diriku sendiri. Aku berharap rasa kontraksi yang masih ringan ini karena toleransiku terhadap rasa sakit sudah meningkat.

Karena kontraksinya sudah teratur, aku juga berharap pembukaannya sudah cukup banyak. Ditambah lagi jalanan di sekitar rumahku yang rusak parah, alih-alih membahayakan, aku berharap justru membantu memperlancar proses kelahiranku.

Aku meminta suamiku untuk tidak terlalu terburu-buru. Kontraksinya masih bisa kutahan. Aku hanya tidak ingin kesakitan karena guncangan jalan yang rusak.

Saat jalan sudah mulai mulus, aku justru meminta kami mengambil rute yang lebih jauh. Jalan pintas yang biasa kami lewati terlalu banyak polisi tidur. Pokoknya sebisa mungkin aku menghindari "turbulensi" apapun sebabnya. 

Kami sampai di rumah sakit sekitar pukul dua lewat. Aku berjalan menuju IGD dan langsung diarahkan naik ke ranjang pemeriksaan.

Di sana aku ditanya berbagai hal:

data diriku, tanggal menikah, tempat dan tanggal lahir anak-anak, berat badan mereka saat lahir, serta apakah proses kelahirannya sesar atau normal. Belum lagi berat badanku saat terakhir periksa, HPL berdasarkan pemeriksaan terakhir, kondisi janin terakhir, kondisi EKG janin di pemeriksaan terakhir... 

Menyebutkan sendiri data empat anakku dalam keadaan mules rasanya cukup menyebalkan. Apalagi pertanyaannya dilontarkan dengan cepat layaknya kuis jawab cepat. Aku seperti orang yang telmi, berusaha mengimbangi kecepatan bidan jaga yang menanyaiku.

Kadang muncul rasa penasaran dengan hal-hal teknis semacam ini. Kenapa harus aku yang ditanya? Kenapa bukan suami atau orang yang mendampingi? Terutama suami. Bagaimanapun dia bapaknya anak-anak. Harusnya dia juga tahu detail tentang anak-anaknya sendiri.

Untuk berjaga-jaga, aku sudah menyiapkan catatan lengkap tentang data kelahiran semua anakku di grup WhatsApp keluarga, agar suamiku bisa membantu menjawab pertanyaan.

Ditambah lagi, mengenai data pemeriksaan oleh dokter. Sangat menyebalkan karena, hey, aku kontrol di RS ini selama sembilan bulan, dengan dokter yang sama, tidakkah ada data tentang itu minimal di komputer? Mengapa harus pasien yang ditanya? 

Saat diperiksa, ternyata aku baru pembukaan dua.

Bidan kemudian memasangkan alat pemantau detak jantung bayi di perutku, lalu meninggalkanku sendiri. Sementara itu suamiku pergi mengurus administrasi.

Perasaanku saat itu masih sangat optimis.

Aku merasa bisa bertahan. Sebentar lagi kontraksi pasti akan semakin kuat, pembukaan akan bertambah, dan aku akan melahirkan bayi yang sehat secara pervaginam.

Setelah itu aku dipasangi infus, lalu dinaikkan ke kursi roda dan dibawa menuju ruang bersalin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

15 Kata-Kata Bahasa Arab Sedih dan Artinya [+Gambar]

35 Quotes About Love dan Artinya

Review: All Creatures Great and Small by James Herriot