Romansa Buku

Bagiku, buku itu punya romansa. Membawa kisah panjang. Kadang indah, kadang menyakitkan. 



Aku pernah bertemu dengan sebuah buku saat dikenalkan teman. Saat mendengarnya begitu jatuh cinta pada sebuah buku, caranya bercerita membuatku penasaran dan ingin membacanya juga. 

Kadang sebuah buku lewat di linimasa media sosial. Seseorang yang tak kukenal membahasanya. Entah memuji, mengkritik, kadang bercerita dengan penuh cinta.

Kadang aku memandang buku murni dari sampulnya. Sangat memandang fisik. Sebuah buku bisa terlihat sangat menawan di tengah jajaran buku lainnya. Judul, warna, atau desainnya membuatku tertarik dan ingin mengenalnya lebih jauh. 

Ada juga pertemuan yang tak terduga. Melihat orang membacanya di transportasi umum, tergeletak di meja rekan, atau di tumpukan buku lusuh yang akan diloakkan. Rasanya seperti kisah klasik dua mata yang beradu pandang tak sengaja di jalan. 

Saat membaca, aku bisa merasa tertampar. Buku bisa sangat keras menegur dan menghakimi. Membangunkanku dari kesalahan yang selama ini tak kusadari. Meski kadang aku justru defensif dan merasa ia terlalu jauh mencampuri. Entah, ia tak betul mengenalku, namun sindirannya sangat personal. 

Di lain waktu, buku sangat pandai menghibur. Tak jarang aku terkikik saat bercengkrama dengannya, membuat orang-orang di sekitarku bertanya-tanya, mengapa orang yang tadi menangis beberapa saat kemudian tiba-tiba tertawa. 

Ia bisa menjadi layaknya seorang sahabat. Menasehati tanpa menggurui. Memberikan validasi yang kubutuhkan tanpa menghakimi. Membuatku lebih banyak merenung dan merasa dihargai.

Tak selalu menyenangkan, buku kadang begitu membosankan. Isinya hambar dan monoton, tak seperti ekspektasi yang telah kubangun. Aku yang awalnya mencoba bertahan, lambat laun mundur saat sadar bahwa kesan tak bisa dipaksakan. 

Membaca buku rasanya seperti kopdar (kopi darat). Perrmuan pertama dengan seseorang yang hanya kita kenal dari cover dan cerita orang-orang. Saat sudah benar-benar bertatapan, barulah kita bisa menilai apakah penampilan dan pemikirannya selaras. Kalaupun tidak, apakah kita siap untuk mendengarkan lebih jauh atau tidak?

Ada buku yang mentereng, membawa nama besar penulisnya, tapi bagi sebagian orang, buku itu biasa. 

Ada buku yang tampilannya sederhana, nama penulisnya tak banyak dikenal, tapi isinya menghilangkan dahaga.

Ada buku yang covernya sama persis dengan isinya. Sangat mudah ditebak, tidak punya kejutan.  

Buku itu seperti kawan. Baik buruknya subjektif, tergantung apakah kita sefrekuensi atau tidak. Buku yang membuatmu bosan bisa saja merupakan cinta pertama seseorang. Sebaliknya, buku yang bagimu istimewa bisa saja tak punya nilai di mata pembaca lainnya. 

Wajar pembaca menilai buku dari covernya. Hanya saja tak semua yang indah disampul dengan baik. Dan tak semua yang terlihat biasa kehilangan pesona. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

15 Kata-Kata Bahasa Arab Sedih dan Artinya [+Gambar]

35 Quotes About Love dan Artinya

Review: All Creatures Great and Small by James Herriot