Anak-anak dan Algoritma

"Mah, tadi pas sholat si A sujud freestyle loh. Mama tahu? Dia sujud trus kakinya diangkat ke atas." Umar pulang dari solat tarawih membawa cerita yang menggebu-gebu.

Aku bertanya apa yang terjadi setelahnya. Katanya, si A kemudian ditegur oleh jamaah salat dan langsung pulang.

Aku jadi teringat beberapa hari yang lalu sempat lewat video serupa di FYP media sosialku. Sontak aku menasehati Umar, "lagi ngetrend ya 'sujud freestyle' itu? jangan ikut-ikutan ya, Mar."

"Iya, Mah. Aku pernah coba tapi pas lagi nggak salat," jawabnya.

"Nggak papa kalau lagi nggak solat, asal hati-hati ya," pesanku.

Aku mengakui bahwa mendidik anak di era digital ini, subhanallah, tantangannya luar biasa. Konten kreator mencari cara bagaimana agar bisa viral, anak-anak yang belum cukup umur mengakses internet tanpa batas, dan formula kombinasinya adalah orangtua membiarkan anaknya mengonsumsi segala hal di luar pengawasan. Jujur, aku pun kerap terjebak dalam dinamika itu.

Aku jadi bertanya-tanya, sejak kapan manusia begitu haus validasi. Mengapa banyak orang ngebet untuk dikenal, viral bahkan tanpa memikirkan efek baik dan buruknya bagi masyarakat luas. Bahkan tanpa memikirkan untuk menjaga marwah dirinya sendiri.

Melihat influencer --begitu mereka menyebutnya-- in a good or bad way, begitu getol mendokumentasikan segala hal demi konten. Bahkan tanpa mempertimbangkan situasi dan kondisi, tanpa melihat apakah  beretika atau tidak.

Aku jadi berfikir, haruskah sopan santun, undah-unduh, dan batas kepantasan bergeser dari kearifan lokal yang selama ini kita pegang? Dulu Indonesia dikenal dengan adat ketimuran, dan perlahan bergeser menjadi budaya bebas nyaris tanpa batas.

Di masa kini, anak-anak dan orang dewasa mendapat peluang menonton tontonan yang sama. Jarang sekali orang dewasa yang memiliki concern pada tontonan anak-anak di sekitarnya. Seolah karena anak-anak fitrahnya suci, algoritma internet juga ikut menjadi suci. Padahal algoritma justru berpotensi mencemari fitrah anak-anak ini.

Orangtua menasehati, membekali, mengunci anak diam di dalam rumah. Namun di genggaman anak ada layar, bak jendela tanpa batas. Lalu orangtua masih bertanya, "kamu tahu ini itu dari mana?".

Konten adalah silent teacher yang membentuk cara mereka bersikap. Begitu halus, menggunakan cara yang menyenangkan, perlahan membawa anak menjauh dari nilai yang ditanam orangtuanya. Membuat mereka pergi dengan sukarela. Tanpa ceramah, omelan, dan dalil-dalil panjang.

Orangtua tak bisa mengontrol semua yang masuk ke dalam otak anak. Taruhlah tontonan di rumah sudah terfilter, akan ada pengaruh dari teman-teman yang tontonannya tidak terfilter. seperti virus yang menular, tak disengaja, tak disadari.

Lalu orangtua bisa apa?

Bisa mendengarkan dan memperhatikan anak. Membuka lebar mata, telinga, dan menajamkan kepekaan. 

Jika ada perilaku yang berbeda--you name it yang terasa nyeleneh--yang mungkin dibawa dari luar, orangtua perlu peka. Tidak perlu menunggu sampai perilaku itu mengakar kuat baru sadar. Jika disadari sejak dini, lebih mudah memperbaiki. Golden hour, ceunah.

Orangtua perlu menjelaskan mengapa hal itu tidak baik, memberi pencerahan, membuka ruang diskusi dan membuat kesepakatan nersama. Orangtua harus percaya diri pada ilmu yang dimiliki, orangtua memang harus berilmu, setidaknya lebih banyak tahu dibanding anak-anak. Jangan sampai kalah argumen, jangan sampai kena skak mat.

Viralitas mungkin hanya sebentar. Hingar bibgar dan tren silih berganti. Namun banyak di antaranya membawa ke arah yang sama. Selesai babak belur di kandang singa, dilempar ke kubangan buaya.

Disadari atau tidak, dari tontonan sehari-hari, anak-anak membangun cara pandang tentang dunia. Apa yang kita anggap sekadar tontonan hari ini, bisa menjadi standar perilaku mereka nanti.

Orangtua dengan para perusak seperti sedang tarik tambang. Bagaimana agar anak-anak saat dihipnotis menjauh bisa kembali ke koridor sebelum terjerembab makin dalam. Bagaimana cara orangtua menanamkan nilai, prinsip, dan aturan pada anak sangat berpengaruh dalam pemenangan lomba ini. Tarik tambang ini bukan berhadiah piring cantik, tapi surga.

Orangtua adalah adalah jangkar. Tempat anak kembali ketika arus luar mencoba menyeretnya pergi. Menjadi suara yang tetap mereka ingat ketika dunia di luar sana berbicara terlalu keras. Menjadi mercusuar yang cahayanya menunjuki arah di gelap lautan. 

Sebab yang kita jaga bukan hanya perilaku mereka hari ini, namun arah langkah mereka menuju akhirat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

15 Kata-Kata Bahasa Arab Sedih dan Artinya [+Gambar]

35 Quotes About Love dan Artinya

Review: All Creatures Great and Small by James Herriot