Menulis; Dulu Hingga Nanti
Menulis selalu hadir di berbagai fase hidupku. Aku bukan orang yang mudah terbuka atau melekat pada orang-orang tertentu. Bahkan saat dekat dengan teman, aku tidak mampu menceritakan seluruh rahasia hidupku. Itu sebelum aku bertemu suamiku.
Aku bukan orang yang memiliki keahlian berbicara. Bukan pula orang bersuara keras yang terdengar sepenjuru ruang. Aku juga bukan orang dengan visual atau kepribadian yang begitu menarik hingga diperhatikan banyak orang. Kadang aku ingin bercerita, tapi terlalu banyak pertimbangan. Apakah hal yang kuceritakan ini penting bagi pendengar? Apakah lawan bicaraku siap mendengar sampai tuntas? Apakah ini termasuk hal yang terlalu pribadi?
Menulis terasa seperti memiliki seorang teman yang mendengarkan dengan baik, dan mampu menjaga rahasia. Tanpa rasa takut dihakimi atau dianggap berlebihan.
Saat butuh validasi, aku menulis untuk menemukannya. Saat butuh solusi, aku menulis dan merapikan langkah penyelesaianku. Jika dulu dengan pena, sekarang aku menulis dengan gawaiku.
Saat masih menjadi murid sekolah dasar, aku menulis di diary. Ya, hampir semua orang pada masa itu memilikinya. Aku menuliskan perasaanku, rasa kesal pada teman, kesenangan kecil yang sederhana dan gratis, dan kesedihan yang sulit kuungkapkan.
Di awal masa remaja, aku bahkan menulis sebuah buku puisi. Aku tidak ingat lagi isinya. Tapi ya, itu adalah kumpulan puisi karyaku sendiri. Mungkin sebagian besar bercerita tentang rasa sepi. Aku ingat, saat itu aku hidup di dunia yang ramai, tapi hatiku tidak benar-benar memercayai siapa pun. Aku merasa terkekang dalam rasa serbasalah yang tak berujung. Pada masa itu, kau tahu, seperti menulis opini politik di sebuah surat kabar, tidak boleh salah tulis jika tidak ingin kena audit.
Saat masuk sekolah berasrama, aku merasa memiliki duniaku sendiri. Aku bebas menulis tanpa takut dihakimi. Paling-paling yang ditakutkan hanya disita guru saat razia. Itupun jika bukuku tidak terlihat mencurigakan, tidak akan diambil. Dibaca pun paling hanya ditertawakan karena tulisanku yang kadang absurd di luar nalar. Aku ingat oernah menulia kisah lucu yang diperdengarkan di asrama dan mengunsang tawa kawan-kawan.
Saat itu, kadang aku merasa sangat antusias sendirian dengan buku yang kubaca. Teman-temanku membaca buku yang sama, tapi dengan kesan yang berbeda. Aku sering menuliskan hal-hal menarik dari buku dan majalah yang kubaca. Dari situ, aku mulai terasah untuk menulis. Tidak lagi puisi, tapi lebih ke tulisan motivasi. Celetukan sederhana yang kutulis dalam baris-baris di buku binderku. Kadang temanku membacanya.
Kata sebagian mereka, tulisanku renyah dan enak dibaca. Sesekali aku mengirimkan cerita-cerita pendek dan lucu ke majalah --kadang juga opini sok bijak--. Beberapa dimuat dan aku mendapat hadiah bingkisan berupa notes atau alat tulis. Itu pertama kalinya aku mendapatkan “penghasilan” dari menulis.
Di akhir masa SMA di asrama, aku mulai mengenal internet dan media sosial. Setiap Papah datang menjenguk, aku meminjam HPnya untuk kembali menuliskan--lagi-lagi--kutipan yang kusukai dari buku dan majalah, kadang hadis atau ayat. Meski pertemanan media sosial saat itu sangat terbatas pada orang-orang yang kukenal, aku tetap suka melakukannya. Rasanya bahagia ketika tulisanku dibaca orang lain dan mendapat satu-dua like. Menulis terasa seperti sebuah kebanggaan bagiku.
Memasuki masa kuliah, aku hidup jauh dari orang tua. Menjalani kehidupan yang benar-benar berbeda. Aku tidak lagi di asrama, melainkan tinggal di kost. Namun aku merasa lebih dewasa, mulai memiliki batasan-batasanku yang kuyakini dan kujaga sendiri. Aku bertemu dengan berbagai jenis manusia, dengan kepribadian yang beragam. Mengenal satu dua perspektif baru yang sebelumnya tidak pernah kupikirkan, dan ternyata terasa masuk akal juga bagiku.
Hidup sebagai mahasiswa yang dipenuhi aktivitas belajar, aku merasa butuh tempat pelampiasan yang lebih luas. Aku ingin tulisanku bisa diakses lebih banyak orang. Aku ingin lebih bebas beropini, tanpa harus selalu berhadapan dengan komentar dari teman yang kukenal atau keluarga—circle kecilku di media sosial saat itu.
Mulailah aku mempelajari blog. Ternyata tidak serumit yang kubayangkan. Dengan kemampuan komputer yang terbatas, aku tetap bisa menjalaninya.
Komentar
Posting Komentar