Nomor Satu-ku
Dari gadis - menikah - menjadi ibu, bagiku merupakan perubahan identitas yang mendadak. Seperti lonjakan level yang tiba-tiba. Begitu cepat sampai aku nyaris tak menyadarinya.
Aku dulu yang hanya peduli pada diriku, titik. All the time, my self is my priority. Bahkan akun Instagram-ku bernama @justnimitta. Aku hanya memikirkan project, target, dan keinginanku hari ini dan esok. Kini berubah menjadi "apa yang suami dan anak-anakku... hari ini dan esok".
Aku yang dahulu tak pernah memikirkan akan hidup dan bersinergi dengan seorang pria, kini menikah. Menjadi teman diskusi, cerita, yang bahkan memberiku uang dengan sukarela, namun sangat kuhormati. Lucu juga ya jika dipikir-pikir, sahabat yang tadinya orang asing, namun kini begitu terikat. Sekarang selain dipanggil dengan namaku, aku juga dipanggil sebagai “istri”-nya suamiku.
Aku yang dulu dipanggil hanya dengan namaku, kini ada tambahan “mamanya” anak-anakku. Ajaib, bukan? Sebelumnya bahkan tak pernah terlintas bahwa namaku akan melekat dengan nama-nama lain selain nama ayahku.
Aku yang dahulu tidak peduli pada anak kecil mana pun, mendadak menjadi begitu protektif dan menempel dengan bocil-bocil yang kulahirkan ini. Aku mengandung mereka sembilan bulan, mempertaruhkan nyawa, menahan segala rasa sakit saat melahirkan. Jika tidak Allah yang membuatku mampu bertahan dan ikhlas, aku tak akan sanggup.
Kadang aku takjub bagaimana Allah menumbuhkan cinta dalam hatiku kepada anak-anakku. Merawat mereka, mengharapkan kehidupan yang baik untuk mereka, mengerahkan segala yang kubisa, mendoakan masa depan mereka, semuanya terasa begitu alami, padahal dulu tak pernah terbayangkan.
Kadang bahkan aku tak sadar, bahwa suami dan anak-anak adalah alasan aku untuk terus bertahan dalam naik turun kehidupan. Untuk terus menjadi sosok yang lebih baik, teladan, menjadi versi terbaik diriku, untuk mencari ridha Allah. Berharap kelak dapat dipersatukan lagi setelah kematian, karena kebersamaan di dunia saja rasanya masih kurang.
Aku jadi sadar bahwa sekarang aku bukan lagi nomor satu dalam hidupku. Keluargaku yang menjadi poros duniaku. Menyadari bahwa anak-anak terlahir dari diriku, Allah menciptakan mereka dari tidak ada hingga berwujud manusia di dalam rahimku, rasanya begitu ajaib.
Meski demikian, aku sadar bahwa anak-anak bukan milikku. Allah hanya menitipkannya padaku. Aku punya tanggung jawab untuk mendidik mereka agar berakhlak mulia. Aku paham bahwa kelak mereka akan memiliki prioritas yang lebih utama dalam kehidupan mereka masing-masing, dan saat itu aku akan berusaha memahami. Aku akan berusaha mengingatkan diriku bahwa amanah itu untuk dijaga, bukan diklaim. Bahwa anak selamanya milik Allah, tidak pernah benar-benar menjadi hak milikku.
Bertemu satu per satu dengan “orang-orang asing” ini, mempelajari dan mengenali mereka, menerima kekurangan dan menghargai kelebihan mereka adalah proses yang masih dan akan terus berjalan. Tidak salah, orang asing, karena semua orang terdekatku berawal dari asing selain diriku sendiri.
Hidup bersama suami dan anak-anak ternyata sama sekali berbeda dengan hidup sendiri. Namun jika ditanya, menyesalkah? Kujawab tidak. Jika ditanya apakah ada hal yang perlu direvisi, jawabannya tetap tidak.
Jika ditanya apakah aku terkekang dengan kehidupan yang penuh kejutan? Jawabannya tidak. Percaya atau tidak, menikah adalah salah satu keputusan paling tepat yang pernah kuambil. Takdir terindah yang Allah beri padaku. Menikah justru menjadi awal kebebasan bagiku. Bebas menjadi diri dan membuang topeng yang selama ini menempel erat di wajahku.
Aku berharap, di masa depan anak-anakku juga bisa mendapatkan kebahagiaan yang mereka harapkan di keluarga kecil mereka. Kenaikan level dan kejutan hidup yang membuat mereka makin bernilai dan berharga di hadapan Sang Pencipta.

Komentar
Posting Komentar