Dari "Aku" Untuk Siapapun yang Mau Membaca

Jika ditanya, mengapa aku selalu menulis tentang “aku”? Mengapa tidak menulis secara umum, sehingga bisa dibaca oleh semua kalangan tanpa perlu mendengar ceritaku?

Jawabannya karena aku hanya benar-benar mengenal diriku sendiri.

Aku sering memikirkan kejadian yang kualami seharian. Mengintrospeksi dan menilai sikapku. Dari situ aku belajar memahami tingkah lakuku, hal-hal yang secara alamiah kusukai, dan sebaliknya.

Ketika menulis secara umum, aku perlu membuat banyak pernyataan besar tentang orang lain. Aku juga perlu berusaha memahami sudut pandang orang lain, problem, dan situasi yang tidak selalu bisa kubayangkan. Tapi saat menulis tentang diriku sendiri, latar ceritanya nyata, based on my own experience, ceunah!

Karena itu, aku merasa cerita yang kuhadirkan dari pengalaman pribadi terasa lebih mengalir. Lebih hidup karena lahir dari kejujuran. Bukan sekadar teori atau bayangan, tapi perasaan yang benar-benar pernah dirasakan.

Aku juga merasa, membuka tulisan dengan ceritaku sendiri membuat sebagian orang bisa relate. Misalnya saat aku menuliskan dialog dengan anak, lalu melengkapinya dengan pemikiranku, atau tips dan trik parenting sederhana yang sudah kuterapkan dalam keseharian keluarga.

Bagiku, menulis kisahku sendiri adalah cara memahami hidup. Mengurai masalah dan solusi yang bertaut di kepala, lalu memindahkannya ke halaman nyata, membuat semuanya terasa lebih terpetakan. Penyelesaiannya pun tercatat dengan jelas. Jika suatu saat aku menghadapi masalah serupa, aku bisa kembali pada tulisan lamaku. Atau jika ternyata solusi itu kurang tepat, aku punya jejak untuk memperbaikinya.

Menulis refleksi tentang diri sendiri terasa lebih ringan. Saat menulis, aku tidak berniat menggurui siapa pun. Aku hanya ingin menceritakan apa yang kupelajari dari hidupku sendiri.

Dari POV seorang pembaca buku, aku juga menyukai penulis  fiksi maupun nonfiksi yang menggunakan sudut pandang “aku”. Aku merasa lebih dirangkul, bisa melihat perspektif penulis dengan jelas. Rasanya seperti diajak berbincang dan dinasihati secara lembut oleh teman di samping kita, bukan seperti mendengarkan ceramah dari seseorang di atas podium.

Karena itu, aku merasa jika aku menuliskan ide-ideku dengan latar cerita keseharianku, dengan cara yang santai, pembaca pun bisa merasakan hal yang sama.

Bagiku, pesan yang datang dari hati akan lebih mudah sampai ke hati.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

15 Kata-Kata Bahasa Arab Sedih dan Artinya [+Gambar]

35 Quotes About Love dan Artinya

Review: All Creatures Great and Small by James Herriot