Perjalanan Panjang Bag. 14

Sambil menunggu suamiku mengangkut koper dan kebutuhan melahirkan ke mobil, aku bersiap-siap memakai baju, kerudung, dan kaos kaki. Saat itu pukul sembilan lewat, entah kenapa kontraksi tiba-tiba berhenti. Aku menunggu selama setengah jam, tetapi masih belum ada susulan. Aku meminta suamiku mematikan mesin mobil dan menyuruhnya tidur terlebih dahulu agar nanti siap begadang.

Anak-anak juga kuminta untuk tidur. Aku memberi tahu mereka aku mungkin akan segera melahirkan. Jadi jika nanti pagi aku tidak ada di rumah, kami akan berkomunikasi lewat ponsel. Mungkin agak siang sedikit, tante mereka--adik kandungku--akan datang ke rumah.

Anak-anak memasang alarm pukul lima pagi agar bisa bangun untuk salat Subuh.

Anak-anak sempat bertanya apakah mereka harus masuk sekolah besok. Aku menjawab lebih baik tidak, agar mereka tidak keteteran. Tapi malam itu Umar dan Romi justru bilang ingin tetap sekolah.

Its ok. Seragam sekolah sudah kusiapkan, dan mereka juga berangkat dengan berjalan kaki. Jadi kami sepakat yang ingin sekolah boleh berangkat, yang tidak ingin sekolah juga mama izinkan untuk tinggal di rumah.

Sementara suami dan anak-anak tertidur, aku berjalan cepat mondar-mandir di dalam rumah selama sekitar tiga puluh menit. Kontraksi kembali datang, tetapi tidak teratur dan sangat ringan.

Karena lelah, aku akhirnya merebahkan diri di kasur dan tertidur. Saat itu sudah pukul sebelas malam.

Aku terbangun sekitar pukul dua belas malam. Bukan semata karena kontraksi, tetapi karena terkejut menyadari bahwa aku luput mencatat durasi kontraksiku di aplikasi.

FYI, sejak beberapa hari sebelumnya aku memang mencatat semua kontraksi yang kurasakan di sebuah aplikasi.

Berkali-kali aplikasi itu menyarankan agar aku segera pergi ke rumah sakit, karena jarak antar kontraksi sudah lima menit sekali. Namun aku masih bertahan, menunggu sampai lendir darah keluar.

Sambil berbaring, kadang tertidur sebentar, aku terus mencatat kontraksi yang datang. Dan setiap kali itu juga aplikasi kembali menyarankan agar aku pergi ke fasilitas kesehatan.

Aku juga beberapa kali mondar-mandir ke kamar mandi untuk buang air kecil, meskipun yang keluar tidak banyak.

Saat sedang berbaring, tiba-tiba aku mendengar suara dari dalam rahim. Bunyi kecil yang sangat jelas, seperti “klik”. Pada saat yang sama aku merasakan sesuatu seperti mendorong ke bawah. Saat berdiri aku merasakan ada cairan yang rembes mengalir ke kakiku. Sedikit dan terasa dingin.

Aku mengambil kertas lakmus untuk memastikan apakah itu lendir atau ketuban. Warnanya menjadi merah, berarti lendir. 

Aku membangunkan suamiku. Setelah itu aku mengenakan pakaian, kerudung, dan kaus kaki. 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

15 Kata-Kata Bahasa Arab Sedih dan Artinya [+Gambar]

35 Quotes About Love dan Artinya

Review: All Creatures Great and Small by James Herriot