Rezeki yang Tidak di Dompet

Banyak orang mengukur kebahagiaan berdasarkan uang. Katanya, kalo disuruh menyebutkan hal dalam pernikahan yang paling disukai istri, jawabannya uang, banyak uang, dan uang tak terbatas.

Ya nggak salah juga, sih. Siapa coba yang nggak doyan uang? Sekilas memang uang itu bisa menuntaskan segala permasalahan. Bahkan ada yang bilang kalau uang itu obat segala penyakit. Waduh!

Sebagai ibu rumah tangga yang tidak punya penghasilan tetap, aku merasa bahwa uang memiliki manfaat yang banyak. Gimana enggak, bahan masak, sandang, papan, pangan, biaya pendidikan anak, biaya upgrade skill, semuanya menggunakan uang. Belum lagi jatah jajan, skincare, dan hiburan.

Namun sebetulnya, uang bukan satu-satunya sumber kebahagiaan. Punya uang itu bagus, tapi apakah jika tidak banyak uang, lantas hidup harus nelangsa dan murung?

Bagi ibu-ibu yang sekarang uangnya masih terbatas, belum sesultan orang-orang yang flexing sana-sini, yang ketika belanja masih harus membandingkan pricetag, bolak-balik marketplace... Coba yuk, kita bahagia dengan mengingat bentuk lain dari rezeki yang Allah berikan pada kita.

Bagi yang sudah memiliki anak, pastilah melihat anak tumbuh dari dekat adalah sebuah rezeki dan kebahagiaan yang besar. Menyaksikan momen kecil yang sering terlewat oleh orang yang sibuk di luar rumah juga merupakan privilege yang tidak bisa dirasakan oleh semua orang. Ditambah lagi, ibu rumah tangga bisa mendengar cerita anak-anak secara langsung setiap hari meskipun kadang-kadang terasa terlalu ramai dan tak ada hentinya.

Ibu rumah tangga juga punya ruang untuk mengatur ritme rumah. Iya bisa menentukan kebiasaan yang ingin dilakukan bersama seperti makan, berdoa, dan menjaga kebersihan rumah. Seorang ibu juga selalu menjadi tempat bertanya, berdiskusi, dan tempat pulang yang paling nyaman bagi keluarganya.

Rezeki yang mungkin tidak disadari ketika menjadi seorang istri dan ibu yang bekerja di dalam rumah adalah bahwa rumah adalah sekolah tempat kita belajar sabar. Rutinitas di rumah seringlah terasa berulang. Setiap hari hal yang dilakukan selalu sama dan monoton. Dari situlah kita belajar sabar, ikhlas dan meniatkan segala amalan yang kita lakukan dari dalam rumah itu sebagai ibadah.

Rezeki yang lain adalah memiliki suami yang menjalankan perannya dengan baik. Tidak hanya sekedar memberi nafkah, tapi juga hadir sebagai teman berbagi cerita, turut serta dalam mendidik anak, tidak gengsi mengerjakan pekerjaan rumah, dan bisa menyumbang pendapat saat berdiskusi. Ketika suami dapat menjadi tempat bersandar, hari yang sangat melelahkan terasa tidak begitu berat lagi. Rasanya kita akan mampu melakukan hal-hal yang lebih hebat keesokan harinya.

Hidup dalam rasa aman, fisik yang sehat, dan memiliki cukup makanan pada hari itu adalah sebuah rezeki yang besar dan patut disyukuri.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ، فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

Artinya:

“Barang siapa di antara kalian yang pada pagi hari merasa aman di tempat tinggalnya, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan seluruh dunia telah dikumpulkan untuknya.”

(HR. Tirmidzi)


Hal berikutnya yang merupakan rezeki adalah suami yang memikul tanggung jawab keluarga dengan baik. Memiliki seseorang di sisi kita yang menjadi provider; bekerja dan memberikan seluruh pikirannya demi membahagiakan keluarga. Kadang luput kita syukuri bahwa ada seseorang yang memikirkan kebutuhan rumah lebih daripada kita, meskipun tidak selalu diucapkan.

Setidaknya ketika mengetahui itu kita jadi tidak merasa sendirian dalam menjalani hari-hari sebagai ibu.

Mungkin benar, uang memang memudahkan banyak hal. Namun kebahagiaan tidak selalu datang dari angka di rekening. Ia hadir dalam bentuk yang sederhana. Anak-anak yang sehat, rumah yang tentram, suami yang saleh, dan hati yang masih mampu bersyukur.

Semakin sering kita menghitung nikmat yang sudah ada, semakin terasa bahwa sebenarnya Allah telah memberikan banyak sekali rezeki dalam kehidupan kita.

“Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepada kalian. Tetapi jika kalian kufur, maka sesungguhnya azab-Ku sangatlah pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

Alih-alih uang, yang perlu kita perbanyak adalah rasa syukur atas rezeki yang sudah Allah berikan.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

15 Kata-Kata Bahasa Arab Sedih dan Artinya [+Gambar]

35 Quotes About Love dan Artinya

Review: All Creatures Great and Small by James Herriot