Uang Lebaran (bag. 2)
3. Membeli Sesuatu yang Diinginkan
Sebagai orangtua dari golongan "kaum mendang-mending" yang penuh perhitungan, kadang kami berpikir daripada uangnya digunakan untuk membeli barang yang kurang berguna, mending ditabung.
Kadang kita lupa bahwa sanak saudara memberikan uang lebaran untuk anak-anak kita. Sudah sewajarnya jika sebagian uang itu benar-benar dinikmati. Apalagi momen lebaran itu seperti momen hangat setelah sebulan menahan diri. Wajar jika mereka ingin merayakan kemenangan dengan cara mereka.
Karenanya, aku menerapkan sistem budget pada anak-anakku. Misalnya, aku membawa mereka ke toko mainan dengan memegang uang sebesar 150 ribu rupiah. Mereka bebas memilih apa saja yang harganya sesuai. Bagaimanapun juga, toko mainan memang berisi barang untuk dimainkan.
Kadang mereka meminta barang yang lebih spesifik, misal sepatu roda, sepeda, jam, atau lainnya. Intinya bagaimana agar anak-anak merasa memiliki otoritas untuk membelanjakan hak mereka tanpa bersikap hedon dan impulsif.
Aku dan suamiku juga menentukan kriteria barang yang tidak boleh dibeli. Misalnya alat musik, membayar game online, atau permainan yang mengandung hal-hal yang dilarang oleh syariat.
Aku ingin menanamkan pada anak-anak bahwa kebahagiaan tidak selalu didapatkan dari berbelanja. Berbelanja pun ada aturannya. Kendati bulan puasa usai, kita tak lantas menjadi bebas sepenuhnya. Sebetulnya bulan puasa adalah waktu untuk berlatih mematangkan jiwa intuk bisa lebih dekat kepada-Nya.
4. Investasi Saham
Berbeda dengan tabungan fisik dan emas yang bisa dilihat langsung, investasi saham total berada di bawah kendali orangtua. Anak-anak belum memahami dinamika pasar saham dan sistemnya.
Dalam hal ini, suamiku membangu mengatur investasi. Saham apa yang dibeli dan memutar kembali dividennya. Alhamdulillah dalam beberapa tahun, uang anak-anak yang diinvestasikan bertambah.
-----
Intinya, orangtua perlu hadir untuk mengarahkan anak-anak dalam mengelola harta. Anak-anak bisa merasakan momen dan mengecap "manis"nya uang lebaran. Sementara orangtua membantu memberi makna oada rezeki tersebut.
Harapannya anak-anak bisa bijak mengelola uang dan tidak terbiasa berfoya-foya. Nilai yang ditanamkan sejak kecil akan menjadi nilai yang mereka pegang saat dewasa nanti, bahkan saat mendidik anak-anaknya kelak.
Karena itu, aku juga mengajarkan anak-anak perencanaan. Apa yang mereka inginkan, berapa harganya, dan apakah memungkinkan untuk dibeli.
Seperti tahun ini, Romi ingin sekali membeli sepeda. Ia memilih sendiri sepeda yang ia inginkan di marketplace, mengetahui harganya, dan tahu berapa uang yang ia miliki dari tabungannya. Jika uang lebaran tahun ini mencukupi, insya Allah sepeda itu akan menjadi miliknya. Namun jika belum, ia harus menunggu dan menabung lebih banyak.
Beberapa waktu lalu aku mendapat insight baru dari utas seorang warga Threads. Disebutkan bahwa uang lebaran anak itu sejatinya adalah hak mereka. Anak tidak pernah berkewajiban "menafkahi" orangtuanya. Karenanya , agak kurang pantas jika orangtua menggunakan uang lebaran anak sebagai uang tambahan untuk biaya dan gaya hidup orangtua yang tidak mendesak.
Meskipun ada hadis yang menyebutkan bahwa harta anak adalah milik ayahnya, namun jika tidak benar-benar dalam kondisi sulit, mestinya orangtua justru membantu menjaga harta anak dan mengarahkan penggunaannya, bukan aji mumpung.
Biarkan anak-anak merasakan bahwa harta milik mereka dikelola dengan baik. Dengan demikian tidak terjadi kesalahpahaman di hati anak bahwa orangtua menggunakan uang mereka untuk bersenang-senang.
Komentar
Posting Komentar