Uang Lebaran
Idul Fitri selalu menjadi momen menyenangkan bagi semua orang. Setelah berpuasa selama sebulan, hari terakhir ditutup dengan gema takbir. Esoknya berkumpul di tanah lapang untuk salat berjamaah, dan berlanjut silaturahmi ke rumah saudara dan kerabat.
Hangat suasana idul fitri selalu menjadi memori indah bagi setiap orang sejak kanak-kanak, hingga dewasa dan memiliki anak.
Suatu hal yang hampir selalu ada di setiap momen lebaran adalah THR atau uang lebaran. Tuan rumah biasanya membagikan uang untuk anak-anak yang datang berkunjung.
Aku masih ingat rasanya, dahulu tiap lebaran, aku seperti cosplay menjadi orang kaya, menerima amplop dan nominal yang banyak bagi anak sekecil itu. Meskipun ujung-ujungnya uang itu bukan aku yang memakainya. Uang lebaranku hampir seluruhnya selalu kuserahkan ke Mama. Lucunya, aku tak merasa keberatan saat itu. Aku paham meski tak terlihat mata, uang itu pasti digunakan sebaik-baiknya untuk kebutuhanku di masa depan.
Beda generasi, beda pula prinsip dan cara mendidik. Anak-anakku nampaknya lebih cepat "melek uang" dibandingkan aku dulu. Saat bulan puasa, mereka sudah punya daftar apa saja yang akan mereka beli ketika menerima uang lebaran. Jika aku memaksa ambil dan tidak transparan dalam membelanjakannya, bisa-bisa aku dituduh oknum penjahat "investasi bodong" 😁.
Di sisi lain, tidak mungkin aku biarkan mereka berfoya-foya dengan uang yang tidak sedikit, karena bagaimanapun juga mereka belum mencapai usia rusyd, belum matang finansial.
“Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (rusyd) dalam mengelola harta, maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya.” (QS. An-Nisa: 6)
Dalam Islam, anak-anak perlu dilatih mengelola uang sebelum betul-betul diberikan akses lenuh pada harta yang besar. Aku percaya momen tahunan ini bisa menjadi kesempatan belajar mereka untuk mengelola uang dan pendidikan finansial.
Berikut ini beberapa cara aku mengajarkan anak-anak memanfaatkan uang lebaran mereka.
1. Ditabung di dompet atau celengan
Anak-anak menyukai tampilan fisik uang. Generasi millenial pasti tau tokoh Paman Gober--konglomerat dari kartun Donal Bebek yang suka menghitung dan memandangi uangnya.
Mungkin seperti itu rasanya bagi anak-anak saat mereka bisa mengakses "harta" mereka dengan bebas.
Tentu saja aturan ini memiliki modifikasi sesuai usia.
Jihan sudah boleh menyimpan dan menjaga uangnya sendiri. Umar menyimpan dompetnya di lemari orangtua, untuk menghindari godaan menggunakan uang secara impulsif. Sedangkan Romi masih sepenuhnya di bawah kendaliku. Ia hanya boleh melihat dan menghitung uang saat aku dampingi.
2. Investasi emas
Mengingat harga emas belakangan melonjak tajam, tidak ada salahnya mulai mengenalkan investasi emas pada anak-anak.
Beberapa tahun lalu, aku pernah menggunakan uang lebaran anak untuk membeli emas. Tidak besar karena aku membelinya terpisah sesuai nominal uang masing-masing anak--tidak digabung.
Emas itu kusimpan dan sesekali boleh dilihat jika mereka mau. Suatu saat aku berharap bisa mengajak mereka menjualnya dan membandingkan harga saat dibeli dengan harga jualnya.
Mungkin ini unpopular opinion. Menurutku, visual dari harta itu cukup penting. Dengan melihat bentuknya secara langsung, anak-anak melihat perubahan bentuk uang. Bertambah, berkurang, dan berubah bentuk menjadi benda lain --emas atau barang yang mereka inginkan.
Berbeda dengan menyimpan uang di bank, yang mana uang berubah menjadi angka di buku tabungan, atau masuk ke kartu ATM. Konsep seperti itu mungkin masih agak sulit dimengerti anak-anak.
Bersambung.

Komentar
Posting Komentar