Postingan

Menampilkan postingan dari 2025

Review: All Creatures Great and Small by James Herriot

Gambar
Judul: All Creatures Great and Small Judul terjemahan: Segala Makhluk Besar dan Kecil Pengarang: James Herriot Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama Bahasa: Indonesia (terjemahan) Genre: Memoar / Fiksi autobiografis Pertama kali membaca nama James Herriot adalah saat aku membaca buku Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Bahasa Andrea dalam buku-bukunya begitu indah dan memesona. Aku seperti tersedot ke dalam lembaran kertas, terhipnotis oleh diksi dan narasi yang diciptakannya. Mendengar nama Herriot sebagai penulis yang menginspirasinya, aku jadi mengira-ngira, pasti sang inspirator punya bahasa tulisan yang sama romantisnya. Apalagi saat membaca buku Edensor karya Andrea, rasa penasaranku pada buku-buku Herriot semakin besar. Saat aku telah memiliki dua anak, barulah aku benar-benar punya waktu untuk membaca buku Herriot. Dan sesuai ekspektasiku, ia memang mampu membawaku berpindah dari padatnya kesibukan sehari-hari ke dunia lain yang begitu tenang dan indah. Aku sendiri bukan pecinta ...

Privilege

Privilege , kata yang tidak asing bagi kebanyakan dari kita. Sekilas, privilege terdengar seperti hidup mewah tanpa kesulitan. Orang dengan privilege seakan jalannya selalu mulus dan semua kebutuhannya terpenuhi tanpa kerja keras. Setidaknya, itu gambaran awal yang dulu aku pahami.  Ternyata, privilege jauh lebih luas dari sekadar harta dan kemewahan. Privilege adalah keistimewaan atau kemudahan bawaan yang tidak dipilih seseorang sejak lahir. Tak ada yang bisa memilih lahir di lingkungan seperti apa, dalam kondisi apa, dengan watak seperti apa, dan modal alamiah apa yang diwarisi dari orangtuanya. Aku belakangan belajar, privilege bentuknya sangat umum. Kecerdasan adalah modal bawaan yang membuat seseorang lebih cepat belajar. Tidak heran anak yang punya privilege ini cenderung mencatat prestasi di sekolah, dikagumi dan dipuji. Betapa banyak murid yang sebetulnya belajar keras, namun hasilnya tidak sebaik si cerdas. Kecantikan juga privilege . Kita pun tahu istilah beauty ...

Membangun Negeri Dari Rumah Bag.2

Sebagai lanjutan dari tulisan kemarin tentang membangun negri dari rumah, hari ini aku ingin membahas nilai-nilai lain yang rasanya makin relevan untuk ditanamkan pada anak-anak kita. Nilai-nilai sederhana yang berasal dari keresahan hati seorang anak bangsa, anak yang sudah menjadi ibu dan merasa punya tanggung jawab besar.  3. Berwawasan dan Berpikir Kritis Mendengar seorang pemimpin berkata di hadapan publik, “sawit kan juga pohon, ada daunnya, bisa menyaring karbon dioksida,” atau “sawit adalah karunia, bisa dijadikan bahan bakar bla bla bla,” "kota akan mencabut ozin tambang-tambang ilegal," tawaku sering terpancing. Tawa pahit, tentu saja. Rasanya seperti menonton stand up comedy , hanya saja yang ditertawakan adalah akal sehat kita bersama. Yang lebih membuat miris adalah para audiens yang konon cerdas, hanya mengangguk mengiyakan pernyataan yang jelas-jelas keliru. Seperti kerbau dicucuk hidungnya.  Dari situ aku makin sadar bahwa anak-anak perlu dibesarkan dengan wa...

Membangun Negeri Dari Rumah

Akhir-akhir ini, media sosial dipenuhi kritik terhadap para pemangku kebijakan yang dinilai kurang peka dan minim empati terkait musibah banjir bandang di Aceh dan Sumatera. Ucapan-ucapan publik yang terdengar meremehkan justru melukai hati rakyat. Yang tak terdampak saja bisa ikut tersinggung, apalagi mereka yang sedang berjuang menyelamatkan hidup. Mulai dari komentar bahwa “situasinya hanya mencekam di media sosial,” pernyataan bahwa penanganan akan dilakukan “nanti setelah kering,” hingga pembelaan terhadap deforestasi dan kayu hanyut, semuanya terasa jauh dari realitas penderitaan korban. Sementara warga, influencer dan relawan bergerak cepat, aksi mereka malah diremehkan. Dianggap pesaing dan "si paling-paling". Di tengah bencana seperti ini, rakyat butuh kepemimpinan yang hadir, bukan narasi yang menyakitkan dan pernyataan yang seolah keluar tanpa disaring.  Tiap melihat hal-hal seperti itu, aku sebagai masyarakat biasa sering merasa kecil, tidak punya peran besar untu...

Nol Ekspektasi

Umur bertambah, hidup makin sibuk, dan hati yang sedang sensitif mengajariku untuk mengosongkan ekspektasi. Manusia dewasa memiliki ekspektasi yang tertanam dalam hati. Mungkin karena ia punya pengalaman, standar tertentu, usaha, dan beban tanggung jawab. Karena itulah ia berharap apa yang ia lakukan mendapat hal yang sepadan. Itulah ekspektasi. Dan orang-orang seperti diriku, yang sedikit perfeksionis, pemikir, dan perencana, hampir mustahil tidak berekspektasi pada apa pun. Pola pikirku terbiasa membayangkan alur, menyiapkan solusi, menata rencana. Secara otomatis, batinku ikut menaruh harapan pada cara sesuatu seharusnya berjalan. Ekspektasi membuat seseorang merasa aman, merasa dipahami, dan merasa bahwa skenario pribadinya akan berjalan seperti yang ia bayangkan, dari hal sederhana hingga hal yang levelnya tinggi. Aku pernah membuat sebuah komunitas baca dengan target membaca setiap hari selama 100 hari. Tidak memaksa siapapun untuk bergabung, namun banyak yang mendaftar. Melihat ...

Perjalanan Panjang Bag 8

Hamil dengan anak-anak yang sudah mulai sekolah membuat pilihanku sangat terbatas soal tempat melahirkan. Targetku sederhana saja: mencari rumah sakit yang paling dekat, proses lahiran yang paling mudah, dan menginap di rumah sakit sesingkat mungkin. Pulang ke Semarang sama sekali gak bisa menjadi pilihan saat ini, mengingat anak-anak harus bersekolah, sementara suamiku dengan kegiatannya yang war wer wor , tidak memungkinkan mengurus dua anak sendirian sambil bekerja.  Sebagai ikhtiarku agar semuanya aman, aku banyak belajar teknik. Mulai dari cara menurunkan bayi ke panggul, teknik napas untuk menghadapi kontraksi... Baik dari podcast dan mendaftar kelas hypnobirthing. Aku paham dirimu mudah overthinking , jadi perlu sedikit belajar untuk rileks. Rasanya seperti mempersenjatai diri pelan-pelan, supaya ketika waktunya tiba, aku lebih siap. Kebetulan HPL-ku kali ini jatuh di momen yang super rame: antara akhir Desember sampai awal Januari. Anak-anak masih ujian dan class meeti...

Mengasihani Diri

Pernahkah pembaca suatu hari memikirkan, “malangnya aku, kasihannya aku”? Mungkin saat tubuh lelah, pikiran penuh, merasa sendirian, banyak beban, butuh pertolongan, atau ketika perasaan terlalu lama tidak tervalidasi. Kadang aku mengalaminya. Kemarahan dan kekecewaan yang kutahu bisa memicu semuanya. Kadang aku berpikir, rasanya aku sudah berusaha sekuat mungkin--bersabar, berjuang, mencoba memahami-- tapi tetap saja seperti gagal. Ada kalanya aku ingin rehat sejenak, menjauh dari hiruk-pikuk rumah, meletakkan beban, dan membiarkan tubuh ini rileks. Menyendiri dan membiarkan diriku berdamai dengan amarahku.  Tapi aku tahu itu hampir mustahil. Anak-anak datang dengan cerita remeh yang dibawakan seolah dunia runtuh, meributkan hal-hal kecil yang bagiku tak begitu penting. Namun saat aku ingin menyingkir, aku sadar mereka tak punya tempat lain untuk bercerita, berekspresi, dan diterima, selain oleh ibunya. Meski enggan, aku tahu mereka membutuhkan tanggapan. Dan entah bagaimana, lagi...

Perjalanan Panjang Bag.7

Gambar
Makin ke sini, Alhamdulillah aku merasa semakin prima. Aku mulai bisa masak lagi, menikmati menu favoritku, dan berolahraga seperti biasa. Olahraga yang paling sering kulakukan sejak sebelum hamil adalah berjalan. Kali ini aku mencoba menambah kecepatan langkah, karena menurut video podcast yang kutonton, berjalan cepat dapat menggerakkan panggul dan membuat ototnya lebih fleksibel. Podcast? Iya, kemajuan teknologi membuatku bisa belajar banyak hal. Menyimak ilmu dari bidan ternama dan dokter spesialis yang kompeten secara gratis, tanpa perlu mendatangi mereka satu per satu. Di channel podcast Nikitta Willy, saat mengundang Bidan Mila, di situlah pertama kali aku mendengar tentang hypnobirthing. Aku makin penasaran dan mencari tahu lebih banyak tentang metode itu. Di kehamilan kelimaku ini, sejak awal aku sudah merencanakan untuk melahirkan pervaginam, jadi rasanya aku jauh lebih siap untuk belajar. Berbeda dengan ketika aku akan melahirkan Romi. Awalnya aku pasrah saja dengan keputusa...

Perjalanan Panjang Bag.6

Gambar
Mungkin pembaca penasaran dengan lanjutan cerita tentang kondisi Umar. Jadi menurut dokter ortopedi saat itu, berdasarkan hasil rontgen, tidak ada masalah—iya, tidak ada masalah apapun pada kakinya. Bahkan tanpa memeriksa lutut Umar yang sangat jelas terlihat panjang sebelah, dan cara berjalannya yang jelas sekali pincang itu!! Kami diminta mencari rumah sakit yang peralatannya lebih lengkap. Jujur saja, tanpa bermaksud merendahkan profesi dan keahlian sang dokter, kami agak trust issue dengan beliau, karena memberikan diagnosa yang sama persis pada 2023 dan 2025, padahal kondisi Umar saat ini sudah jauh terlihat lebih parah. Tapi bagaimana lagi, itu rumah sakit terdekat dari rumah. Wajar jika awal kali periksa, rumah sakit itu yang dituju lebih dahulu.  Setelah mencari masukan dari teman kantor, suami ingin membawa Umar ke terapis pijat, aku setuju selagi itu dinilai terbaik. Suamiku ditemani temannya yang dulu pernah memeriksakan anaknya di klinik pijat itu dan Alhamdulillah sem...

Perjalanan Panjang Bag.5

Kurang lebih satu bulan setelah berjuang dengan kondisi mabokku, tibalah waktunya anak-anak kembali ke sekolah setelah libur panjang. Saat itu aku berada di transisi trimester pertama ke kedua.  Jihan naik kelas lima, Umar kelas tiga, dan Romi resmi masuk TK A. Aku menyadari bahwa sudah saatnya aku bangkit. Agak memaksakan diri memang, tapi aku tahu anak-anak membutuhkanku untuk menyiapkan bekal serta mengurus pakaian sekolah mereka. Setiap pagi aku memasak bekal sederhana: nasi goreng memakai bumbu siap pakai, goreng-gorengan, atau sekadar roti, pokoknya segala masih bisa kuhandle. Membangunkan anak juga berubah. Yang biasanya dua, sekarang tiga. Menyiapkan air panas untuk mandi, mengurus menu sarapan, dan mengkomandoi mereka memakai baju, minyak telon, deodoran (untuk yang besar), sampai menyiapkan uang saku. Sebenarnya aku excited melihat Romi akhirnya mulai sekolah. Melihatnya mengenakan seragam, baju koko rapi, tas dan sepatu kecilnya, rasanya seperti tanda bahwa memang sudah ...

Cerita

Setiap orang berhak membagikan cerita. Yang berolahraga menceritakan progresnya. Penulis membagikan tulisannya. Seorang ibu dan istri menceritakan keluarganya. Pelajar menuturkan ilmu yang ia dapatkan. Pedagang menunjukkan apa yang ia jual dan omzet penjualannya. Musafir memaparkan keseruan perjalanannya Yang punya hobi menceritakan kesenangannya... Begitulah manusia Hidup dalam sebuah cerita, yang kadang indah, namun tidak selalu begitu.  Kadang seseorang hidup dalam sorak-sorai, kadang dengan bisik-bisik kecil dari sudut yang sunyi. Jika kamu belum bisa berbahagia menyaksikannya, atau malah merasa panas di dada, atau merasa minder dan dikalahkan... mungkin kamu harus mundur sebentar. Melihat kembali ke dalam hatimu, mengingatkannya, bahwa kebahagiaan tidak melulu soal pencapaian, materi, atau hal yang kasat mata. Menarik napas pelan. Menyentuh dada sendiri. Mengajak hati duduk tenang, supaya ia tak terseret oleh hiruk pikuk yang bukan miliknya. Sebab tidak semua yang tampak adala...

Perjalanan Panjang Bag.4

Hari-hari trimester pertama lumayan berat bagiku. Setiap bangun tidur, kepala terasa keliyengan dan tubuh lemas. Badanku seperti slime lembek yang perlahan tenggelam ke dalam kasur. Boro-boro minum vitamin dari dokter, sekadar minum air putih saja rasanya perjuangan. Aku mencukupkan energi harianku dengan susu kedelai kemasan—aku tahu mengandung banyak gula dan pengawet, tapi itulah salah satu yang masih bisa kutelan sebagai penyambung hidup. Selain itu, bubur ayam tanpa taburan daun bawang (kuahnya pun hanya sedikit karena lidahku sangat sensitif terhadap rasa asin), roti tawar tanpa apa-apa, serta beberapa jenis biskuit kering dan buah-buahan. Aku ingat nasi pertama yang bisa kunikmati adalah pada hari-hari Idul Adha. Suami, adik ipar, dan anak-anak membakar sate di depan rumah. Aku tetap diam di dalam kamar dengan pintu dan jendela tertutup—ikhtiar agar aroma asap atau daging tidak memicu mual. Setelah selesai dibakar, mereka masuk ke rumah dan makan sate dengan sambal kecap. Aku me...

Mengajar Anak Menabung

Meskipun uang saku anak-anakku pas-pasan, aku berusaha memotivasi mereka untuk berusaha menabung. Terutama Jihan dan Umar, yang sudah mulai paham nilai uang dan harga barang. Tanpa target dan paksaan.  Uang saku mereka hanya 5.000 rupiah per hari. Tidak banyak, tapi menurutku cukup untuk sekadar jajan di sekolah, apalagi setiap hari mereka sudah kubawakan bekal dari rumah. Di era digital seperti sekarang, anak-anak sangat rentan terpapar gaya hidup hedon dari influencer, iklan, dan berbagai endorsement. Ada saja keinginan mereka untuk membeli ini dan itu. Tentu aku tidak serta-merta memenuhi semuanya. Selain mengajarkan membedakan kebutuhan dan keinginan, aku juga ingin mereka belajar menunda gratifikasi. Karena di usia mereka yang masih dini, belum memiliki penghasilan, menabung adalah salah satu metode paling aman untuk memenuhi keinginan (ada solusi lain yang insya Allah akan aku bahas di tulisan terpisah). Kadang, sisi hedon mereka muncul cukup dominan. Misalnya Umar, yang pern...

Jurnal Qur'an 1

Surat Al-Maidah  Tema: Loyalitas, Identitas Umat, dan Ketaatan kepada Allah Ayat: 51–70 Ayat yang berkesan: 54. Wahai orang-orang yang beriman, siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin dan bersikap tegas terhadap orang-orang kafir. Mereka berjihad di jalan Allah dan tidak takut pada celaan orang yang mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. Refleksi:  Allah tidak membutuhkan hamba. Hamba yang membutuhkan Allah. Bahkan Allah mampu menggantikan kaum kafir dengan kaum yang beriman dan berakhlak mulia. Kita manusia tidak memiliki secuil pun kuasa dibanding kuasa Allah. Jadi jika ingin meminta, mintalah kepada Allah. Hanya Ia yang mampu memberikan hal yang tidak bisa diberikan seorang pun dari makhluk-Nya jika Ia telah berkehandak....

Antara T dan F

Gambar
Ada konten seru-seruan di media sosial tentang perbedaan MBTI T dan F. Yaitu kita disuruh mengirim pesan ke pasangan dan melihat jawabannya. "Aku lagi sedih, trus aku beli roti" Jika pasangan menjawab, "kenapa sedih?" Itu artinya dia F . Jika jawabannya, "roti apa/beli di mana?" , fix dia tipe T . Sebetulnya perbedaan sikap antara T dan F nggak sesederhana itu, ya. Tapi aku agak tersentil saat muncul komentar-komentar di sana--yang aku harap itu sekedar canda--, "wah, tipe T itu ternyata nirempati, nggak punya perasaan, nggak peka". Sebagai tipe T yang pasti akan menjawab dengan "roti apa/beli di mana?", aku merasa perlu klarifikasi, bahwa sebetulnya aku (kami) juga melakukannya berdasarkan empati. Aku memilih menjawab itu sebagai rekasi pertama karena aku ingin memvalidasi kesedihan seseorang. Aku tahu dia sedih, oke. Itu jelas. Namun sebab sedihnya tidak harus langsung dibahas, bukan? Aku lebih memilih untuk membiarkannya menyelesai...

Lirik, Arti, dan Sejarah Syair "Tob Tobi Tob"

Gambar
Sebuah syair kadang bermakna berat dan sarat pesan moral, ada pula yang menggambarkan mabuk cinta yang mendalam, ada yang berisi puja-puja, ada yang mengejek dan mencela. Namun uniknya, ada syair yang berfokus pada permainan kata yang menantang dan mengagumkan. Dimaksudkan untuk hal apapun, bait-bait syair Arab selalu menarik dan indah untuk dipelajari. Ingatkah pembaca, Ramadhan tahun lalu, berseliweran di media sosial sound Arab yang bunyinya "tob tobi tob, tob tobi tob...". Ya, itu adalah penggalan dari syair yang terkenal di kalangan pelajar Bahasa Arab, “Shout Shaffir al-Bulbul”. Syair ini tercipta bukan karena pesan mendalam, tetapi karena permainan bunyinya yang lincah dan unik. Sehingga banyak kalangan pelajar Bahasa Arab yang berlomba menghafalkannya sebagai tantangan di antara mereka. Pada masa Khalifah Abu Ja‘far al-Manshur, sang khalifah terkenal sangat hafal dan teliti dalam menilai syair. Setiap penyair yang datang membawa syair baru, ...

Ketika Tantangan Kecil Mengubah Banyak Hal

Sebagai orangtua dari anak yang sudah mulai memasuki usia sekolah, masa-masa ujian selalu menjadi masa paling menegangkan bagiku. Aku tidak menuntut anak untuk harus juara satu, harus dapat nilai sempurna, atau apapun itu. Aku hanya ingin mereka totalitas. Mengusahakan yang terbaik, belajar dengan sungguh-sungguh, agar setidaknya tidak ada penyesalan di akhir. Menjelang waktu ujian, biasanya aku membahas soal-soal di buku anak, mengajari mereka teknik belajar yang biasa aku gunakan; menandai dan meringkas kalimat yang panjang, kadang juga kami merancang "jembatan keledai" untuk merumuskan sesuatu. Pola ini sudah menjadi bagian dari ritme belajar kami di rumah. Dan alhamdulillah, dengan cara belajar dan disiplin yang aku terapkan, anak-anak hampir selalu mendapatkan nilai yang mereka inginkan. Aku memang sangat tegas dalam hal belajar mempersiapkan ujian. Karena belajar adalah bagian dari kewajiban mereka sebagai siswa. Dan mereka perlu bersungguh-sunggah melakukannya. Meski d...

Lego, Mengasah Kreatifitas dan Belajar Letting Go

Gambar
Di rumah kami, lego adalah permainan yang sulit ditolak anak-anak. Mereka bisa duduk berjam-jam merealisasikan imajinasi mereka tanpa gawai ataupun TV. Kadang dimainkan di rumah, kadang dibawa ke luar untuk dimainkan bersama teman-teman. Sebagai orang tua, aku sangat suka melihat mereka tenggelam dalam dunia lego. Aku sering membelikan lego baru untuk merefill stok, agar mereka makin puas bermain. Saat mereka bangga dengan hasilnya, mereka akan datang mempresentasikannya padaku. Sebagai orang dewasa, kadang bentuknya terlihat abstrak dan tidak mirip dengan cerita yang mereka sampaikan. Tapi sering juga terlihat rapi, detail, bahkan menakjubkan. Apa pun bentuknya, aku selalu menghargai dan memuji karya mereka. Kadang menanggapinya dengan pertanyaan kritis, kadang dengan candaan. Masalah muncul ketika rasa sayang membuat mereka ingin memajang karya itu lama-lama. Tidak boleh dibongkar, tidak boleh diganggu, dan akan marah kalau ada yang menyentuh. Biasanya ini dilakukan oleh anak yang le...

Perjalanan Panjang Bag. 3

Saat mengobrol dengan dr. S, beliau tampak menyetujui untuk membantuku melahirkan normal kali ini. Agak menarik karena saat aku hamil Romi di 2020 dulu, beliau tidak bersedia membantu VBAC2-ku saat itu. Namun karena alhamdulillah Romi berhasil lahir VBAC di Semarang, beliau merasa nggak ada salahnya untuk mencoba.  Beliau juga mengingatkanku untuk memperhatikan beberapa hal; menjaga pola makan, mengurangi gula dan karbohidrat berlebihan, memperbanyak protein dan serat, serta tetap beraktivitas aktif secukupnya. Lucunya, saat beliau menjelaskan itu semua, aku sedang mengunyah permen karet ketigaku hari itu. Ingat kan, aku sedang dalam fase banyak meludah. Salah satu cara biar tetap nyaman dan bisa bicara normal saat di luar rumah adalah terus mengunyah permen karet. Rasanya cepat hilang karena air liurku berlimpah, tapi tetap kuunyah supaya tidak menambah konsumsi gula. Hasilnya, tiap pulang dari luar rumah aku hampir selalu kembung, berbeda kalau air liurnya aku ludahkan saja. Sete...

Perjalanan Panjang Bag.2

Gambar
Di tengah ngidam yang berat pada trimester pertama, aku mulai mencari dokter yang kira-kira cocok untuk mendampingiku melahirkan nanti. Baru kusadari, jumlah dokter obgyn perempuan di rumah sakit sekitar sini sangat sedikit. Rumah Sakit Islam pun tidak ada yang dekat dengan rumahku. Berbeda sekali dengan di Semarang, jarak dari rumah orang tuaku ke RSI R hanya sekitar setengah jam, dan pilihan dokternya banyak. Aku sempat mencoba periksa ke salah satu rumah sakit swasta terdekat, sebut saja RS P. Ini adalah pertama kalinya aku periksa ke RS ini dan bertemu dengan dr. W. Beliau dokter yang baik, pembawaannya mengingatkanku pada dr. P di RS R Semarang--dokter yang membantuku melahirkan Romi. Tipe dokter yang tidak banyak bicara kalau tidak ditanya, tapi akan menjawab dengan sabar dan menunggu pertanyaan pasien sampai tuntas. Yang bikin aku lumayan takjub, dr. W bahkan mencatat satu per satu nama dokter yang menangani persalinanku sebelumnya. Selama empat kehamilan sebelumnya, belum ada d...

Perjalanan Panjang Bag. 1

Gambar
Ada satu masa dalam hidup yang membuat kita berhenti, menunduk, dan menarik napas pelan. Masa menjelang kelahiran. Meskipun ini bukan kehamilan pertama, rasanya tetap saja ada degup khusus yang sulit dijelaskan. Tubuhku berubah begitu cepat: lebih mudah lelah, lebih hangat, lebih sering butuh rebahan. Kadang aku heran sendiri. Kok bisa ya waktu berjalan secepat ini? Baru kemarin rasanya aku memaksa diri kuat menghadapi hari-hari pertama trimester awal, dengan segala mual dan lemasnya, sekarang tinggal menghitung minggu sebelum bertemu seseorang yang selama ini hanya kurasakan geraknya dari dalam. Sepertinya menarik juga menceritakan kehamilan kelimaku ini. Ya, kelima. Kehamilan ketigaku berakhir keguguran dan kuretase. Dan di kehamilan kelima ini, aku lebih aware dan berhati-hati, lebih berjuang untuk dapat melahirkan pervaginam, hasil belajar dari pengalamanku sebelumnya. Awalnya, aku ingin mencukupkan diri dengan tiga anak saja. Tiga saja rasanya sudah begitu berat tanggung jawab yan...

Melihat 'Siapa' di Balik Kenyamanan

Gambar
Anak-anak sering mengira rumah berjalan sendiri. Saat mereka bermain, piring tiba-tiba bersih, baju rapi muncul di lemari, dan kasur selalu kembali tertata. Bahkan bukan hanya anak-anak, anggota keluarga yang tidak mengerjakan pekerjaan rumah sangat mungkin merasa demikian. Belum pernah melakukan, belum pernah merasakan, belum pernah belajar bahwa setiap hal baik dan kenyamanan yang mereka nikmati dilakukan oleh seseorang. Kenyataannya, mengajari lewat video, buku, atau media dua dimensi sering kali kurang memberi dampak. Sifatnya tidak praktis, tidak dirasakan langsung. Itulah mengapa, sebagai ibu yang kini memegang peran sebagai “napas rumah tunggal” (orang yang mengerjakan sebagian besar tugas rumah tangga tanpa asisten), aku memilih untuk melibatkan anak-anakku. Bagiku, empati tumbuh dari rasa peduli. Dan rasa peduli tumbuh ketika seseorang pernah merasakan apa yang dirasakan orang lain. Aku menormalkan memberi anak tanggung jawab sesuai usianya. Agar mereka tahu bahwa rumah tak bi...