Kembang Api, Mengukir Kenangan dengan Batasan
Kembang api dan petasan adalah hiburan ringan yang mungkin menjadi core memory bagi banyak orang. Percikan bunga api yang indah membuat siapa pun yang melihatnya terkesima.
Bagiku, kembang api adalah bagian dari kenangan masa kecil yang tak terlupakan. Ia identik dengan keramaian, tawa, dan kebersamaan. Biasanya, aku memainkan kembang api saat tahun baru bersama keluarga.
Namun, seiring bertambahnya usia dan bertambahnya pemahaman tentang agama, aku mulai melihat kembang api dengan cara yang berbeda. Aku tidak lagi merayakan tahun baru dengan hingar-bingar.
Sejujurnya, aku baru benar-benar menyadari sisi lain dari perayaan ini setelah menikah. Waktu itu, aku pernah mengajak suamiku pergi ke Monas pada malam tahun baru, sekadar ingin menikmati pemandangan kembang api bersamanya.
Suamiku, yang hampir tidak pernah menolak permintaanku, menolak saat itu. Ia mengatakan bahwa ia khawatir jika kami berada di tengah keramaian orang-orang yang sedang bermaksiat, lalu Allah menurunkan azab, dan kami ikut terkena dampaknya.
Dari situ aku mulai tersadar, yang perlu dihindari bukan semata-mata kembang api, tapi suasana dan perayaannya.
Petasan, khususnya, membuatku sangat tidak nyaman. Ia adalah combo kebisingan, polusi udara, dan bahaya. Belum lagi jika dikaitkan dengan perayaan yang tidak syar’i, rasanya semakin tidak tepat.
Di dalam keluarga kecilku kini, aku memegang sebuah value. Kita tidak perlu merayakan sesuatu dengan membakar uang, seperti membeli petasan atau kembang api secara berlebihan. Jika ingin merayakan sesuatu, kita bisa memilih hal yang lebih bermanfaat seperti makan bersama, berkumpul dan berbincang, berbagi THR, atau bersedekah kepada yang membutuhkan.
Di sisi lain, aku juga ingin anak-anakku memiliki kenangan masa kecil yang indah. Aku tidak ingin mereka hanya mengenal larangan, tanpa pernah merasakan pengalaman itu sendiri. Aku ingin jika harus memasukkan kembang api dalam core memory mereka, pengalamannya tidak dalam perayaan yang non syar'i.
Aku tahu anak-anak memiliki rasa penasaran. Melihat kembang api dan petasan dijual berjejer di pinggir jalan, wajar jika mereka ingin mencoba. Aku memahami perasaan itu.
Karena itu, bagiku tidak sepenuhnya salah jika anak-anak sesekali diizinkan untuk mencoba. Namun, tentu dengan batasan.
Pertama, tidak berlebihan. Satu atau dua bungkus yang dinyalakan bersama masih bisa dianggap sebagai bentuk kesenangan yang wajar, bukan pemborosan.
Kedua, tidak mengganggu orang lain. Petasan berukuran besar biasanya memiliki suara yang sangat keras dan aroma yang menyengat. Meskipun menarik di mata, mudaratnya jauh lebih besar. Selain itu, harganya pun tidak murah. Karena itu, aku tidak mengizinkan anak-anak untuk membeli jenis ini.
Ketiga, harus memperhatikan keamanan. Bermain kembang api tidak boleh dilakukan sembarangan. Harus dalam standar keamanan dan wajib dalam pengawasan orang dewasa.
Yang keempat, momen yang dirayakan haruslah momen yang tepat, seperti Idulfitri atau Iduladha. Aku tidak pernah mengizinkan anak-anakku menyalakan, bahkan mengagumi, petasan dalam perayaan tahun baru.
Terakhir, tidak merutinkan. Meski perayaan Idulfitri hanya sekali dalam setahun, aku tidak menjadikannya rutinitas. Bagiku, menjadikan hal seperti ini sebagai rutinitas dikhawatirkan bisa menjadi semacam tradisi, sehingga akan cenderung "dipaksakan" ke depannya.
Dari situlah, aku mulai menentukan bagaimana kembang api boleh hadir dalam keluarga kecilku dengan batasan yang jelas.
Jika dulu masa kecilku lekat dengan kembang api dan terompet di malam tahun baru, aku berharap anak-anakku tetap memiliki kenangan yang indah, namun dengan makna yang lebih tepat.
Komentar
Posting Komentar