Postingan

Menampilkan postingan dari 2026

Kembang Api, Mengukir Kenangan dengan Batasan

Kembang api dan petasan adalah hiburan ringan yang mungkin menjadi core memory bagi banyak orang. Percikan bunga api yang indah membuat siapa pun yang melihatnya terkesima. Bagiku, kembang api adalah bagian dari kenangan masa kecil yang tak terlupakan. Ia identik dengan keramaian, tawa, dan kebersamaan. Biasanya, aku memainkan kembang api saat tahun baru bersama keluarga.  Namun, seiring bertambahnya usia dan bertambahnya pemahaman tentang agama, aku mulai melihat kembang api dengan cara yang berbeda. Aku tidak lagi merayakan tahun baru dengan hingar-bingar.  Sejujurnya, aku baru benar-benar menyadari sisi lain dari perayaan ini setelah menikah. Waktu itu, aku pernah mengajak suamiku pergi ke Monas pada malam tahun baru, sekadar ingin menikmati pemandangan kembang api bersamanya. Suamiku, yang hampir tidak pernah menolak permintaanku, menolak saat itu. Ia mengatakan bahwa ia khawatir jika kami berada di tengah keramaian orang-orang yang sedang bermaksiat, lalu Allah menurunka...

Dari "Aku" Untuk Siapapun yang Mau Membaca

Jika ditanya, mengapa aku selalu menulis tentang “aku”? Mengapa tidak menulis secara umum, sehingga bisa dibaca oleh semua kalangan tanpa perlu mendengar ceritaku? Jawabannya karena aku hanya benar-benar mengenal diriku sendiri. Aku sering memikirkan kejadian yang kualami seharian. Mengintrospeksi dan menilai sikapku. Dari situ aku belajar memahami tingkah lakuku, hal-hal yang secara alamiah kusukai, dan sebaliknya. Ketika menulis secara umum, aku perlu membuat banyak pernyataan besar tentang orang lain. Aku juga perlu berusaha memahami sudut pandang orang lain, problem, dan situasi yang tidak selalu bisa kubayangkan. Tapi saat menulis tentang diriku sendiri, latar ceritanya nyata, based on my own experience, ceunah! Karena itu, aku merasa cerita yang kuhadirkan dari pengalaman pribadi terasa lebih mengalir. Lebih hidup karena lahir dari kejujuran. Bukan sekadar teori atau bayangan, tapi perasaan yang benar-benar pernah dirasakan. Aku juga merasa, membuka tulisan dengan ceritaku sendir...

Menulis; Dulu Hingga Nanti Bag.2

Perjalananku menulis di blog dimulai dengan cara yang agak konyol. Setelah membuat alamat blog, aku justru meng- copy paste artikel dari website lain dan memuatnya di blogku. Memalukan, tapi itulah postingan pertamaku. Saat itu aku belum paham bahwa hal tersebut termasuk plagiarisme. Yang kupikirkan hanya bagaimana caranya agar blogku punya isi dulu. Bukan untuk membenarkan, tapi bagiku itu adalah titik awal belajar lebih memahami dunia kepenulisan. Perlahan, aku mulai menulis hal-hal yang benar-benar ingin kutulis. Aku punya beberapa tabungan tulisan di file laptop, dan sebagian yang layak tayang mulai kuposting di blogku. Menuliskan cerita-cerita “seru” versiku sendiri di blog ternyata menyenangkan. Aku tidak peduli pada SEO atau hal-hal teknis seperti adsense . Bagiku, bisa menulis saja sudah membuatku bahagia. Aku yang dulu menulis di kertas secara manual--yang kalau salah harus dihapus dengan tip-ex, atau ditulis ulang demi hasil yang layak dipajang di binder atau dikirim ke maja...

Menulis; Dulu Hingga Nanti

Menulis selalu hadir di berbagai fase hidupku. Aku bukan orang yang mudah terbuka atau melekat pada orang-orang tertentu. Bahkan saat dekat dengan teman, aku tidak mampu menceritakan seluruh rahasia hidupku. Itu sebelum aku bertemu suamiku. Aku bukan orang yang memiliki keahlian berbicara. Bukan pula orang bersuara keras yang terdengar sepenjuru ruang. Aku juga bukan orang dengan visual atau kepribadian yang begitu menarik hingga diperhatikan banyak orang. Kadang aku ingin bercerita, tapi terlalu banyak pertimbangan. Apakah hal yang kuceritakan ini penting bagi pendengar? Apakah lawan bicaraku siap mendengar sampai tuntas? Apakah ini termasuk hal yang terlalu pribadi? Menulis terasa seperti memiliki seorang teman yang mendengarkan dengan baik, dan mampu menjaga rahasia. Tanpa rasa takut dihakimi atau dianggap berlebihan. Saat butuh validasi, aku menulis untuk menemukannya. Saat butuh solusi, aku menulis dan merapikan langkah penyelesaianku. Jika dulu dengan pena, sekarang aku menulis d...

Perjalanan Panjang Bag. 16

Ruang bersalin itu mirip seperti IGD. Ada beberapa ranjang yang dipisahkan oleh gorden, dengan satu meja untuk para petugas di tengah. Saat itu kira-kira ada tiga orang pasien, termasuk aku. Sesampainya di sana aku kembali berbaring. Lagi-lagi aku diperiksa dalam, masih pembukaan dua, dan lagi-lagi ditanyai pertanyaan yang sama persis dengan yang baru saja ditanyakan kepadaku sekitar lima belas menit sebelumnya di IGD. Padahal menurut suamiku, catatan dari IGD tadi dipegang oleh bidan yang bertugas di ruang bersalin ini. Agak aneh, bukan? Sempat terlintas di pikiranku, apakah mereka ingin mengetes batas kesadaranku atau bagaimana sebenarnya? Aku hanya berpindah dari IGD ke ruang bersalin, tapi rasanya seperti berpindah rumah sakit. Tentu saja ini hanya pertanyaan di kepalaku. Tidak perlu dianggap terlalu serius. Aku tidak sedang menghujat atau mencela tenaga kesehatan. Aku hanya mempertanyakan sebuah kejadian yang terasa di luar nalarku saat itu. Tidak lama kemudian seorang bidan masuk...

Perjalanan Panjang Bag.15

Aku mengecek jam. Ternyata sudah pukul 01.45. Sudah dini hari, rupanya hari sudah berganti. Dengan langkah terpincang-pincang dipapah suami, aku berjalan menuju parkiran mobil. Jalan menuju rumahku hanya setapak, jadi mobil tidak bisa dibawa sampai ke depan rumah. Meski kontraksinya masih terasa lemah, aku dan suamiku sepakat untuk langsung menuju rumah sakit. Kami tidak mampir ke klinik bidan terdekat. Di kehamilan ini, aku banyak berhusnuzan kepada Allah. Itu semacam afirmasi positif yang kutanamkan kepada diriku sendiri. Aku berharap rasa kontraksi yang masih ringan ini karena toleransiku terhadap rasa sakit sudah meningkat. Karena kontraksinya sudah teratur, aku juga berharap pembukaannya sudah cukup banyak. Ditambah lagi jalanan di sekitar rumahku yang rusak parah, alih-alih membahayakan, aku berharap justru membantu memperlancar proses kelahiranku. Aku meminta suamiku untuk tidak terlalu terburu-buru. Kontraksinya masih bisa kutahan. Aku hanya tidak ingin kesakitan karena guncang...

Perjalanan Panjang Bag. 14

Gambar
Sambil menunggu suamiku mengangkut koper dan kebutuhan melahirkan ke mobil, aku bersiap-siap memakai baju, kerudung, dan kaos kaki. Saat itu pukul sembilan lewat, entah kenapa kontraksi tiba-tiba berhenti. Aku menunggu selama setengah jam, tetapi masih belum ada susulan. Aku meminta suamiku mematikan mesin mobil dan menyuruhnya tidur terlebih dahulu agar nanti siap begadang. Anak-anak juga kuminta untuk tidur. Aku memberi tahu mereka aku mungkin akan segera melahirkan. Jadi jika nanti pagi aku tidak ada di rumah, kami akan berkomunikasi lewat ponsel. Mungkin agak siang sedikit, tante mereka--adik kandungku--akan datang ke rumah. Anak-anak memasang alarm pukul lima pagi agar bisa bangun untuk salat Subuh. Anak-anak sempat bertanya apakah mereka harus masuk sekolah besok. Aku menjawab lebih baik tidak, agar mereka tidak keteteran. Tapi malam itu Umar dan Romi justru bilang ingin tetap sekolah. Its ok. Seragam sekolah sudah kusiapkan, dan mereka juga berangkat dengan berjalan kaki. Jadi k...

Perjalanan Panjang Bag.13

Tanggal 29 Desember, anak-anakku mulai kembali masuk sekolah. Sudah sekitar sebulan aku tidak menjemput Romi ke sekolah. Rasanya badanku semakin berat saja, ditambah sakit yang sangat mengganggu di tulang selangkanganku. Berjalan biasa pun terasa payah, apalagi harus melalui jalan menanjak dengan tangga menuju sekolah Romi. Aku bilang padanya untuk pulang sendiri, toh sekolah Romi dan rumahku masih berada dalam kompleks pesantren yang dijaga oleh security. Jaraknya juga hanya dua menit berjalan. Saat Romi bertanya kapan aku bisa kembali menjemputnya, aku hanya bisa memberi harapan. Insya Allah nanti setelah adiknya lahir.  Tugas belanja pekanan kembali dihandle oleh suamiku. Aspal jalan di sekitar rumah rusak sangat parah karena ada proyek pembangunan bendungan di dekat sini. Truk besar lalu lalang setiap hari. Ditambah air hujan yang menggerusnya, jalanan menjadi hancur tak karuan. Melewati jalan dengan kondisi seperti itu membuat perutku kencang. Kadang sampai sakitnya benar-bena...

Rezeki yang Tidak di Dompet

Gambar
Banyak orang mengukur kebahagiaan berdasarkan uang. Katanya, kalo disuruh menyebutkan hal dalam pernikahan yang paling disukai istri, jawabannya uang, banyak uang, dan uang tak terbatas. Ya nggak salah juga, sih. Siapa coba yang nggak doyan uang? Sekilas memang uang itu bisa menuntaskan segala permasalahan. Bahkan ada yang bilang kalau uang itu obat segala penyakit. Waduh! Sebagai ibu rumah tangga yang tidak punya penghasilan tetap, aku merasa bahwa uang memiliki manfaat yang banyak. Gimana enggak, bahan masak, sandang, papan, pangan, biaya pendidikan anak, biaya upgrade skill, semuanya menggunakan uang. Belum lagi jatah jajan, skincare, dan hiburan. Namun sebetulnya, uang bukan satu-satunya sumber kebahagiaan. Punya uang itu bagus, tapi apakah jika tidak banyak uang, lantas hidup harus nelangsa dan murung? Bagi ibu-ibu yang sekarang uangnya masih terbatas, belum sesultan orang-orang yang flexing sana-sini, yang ketika belanja masih harus membandingkan pricetag , bolak-balik marketpla...

Uang Lebaran (bag. 2)

3. Membeli Sesuatu yang Diinginkan Sebagai orangtua dari golongan "kaum mendang-mending" yang penuh perhitungan, kadang kami berpikir daripada uangnya digunakan untuk membeli barang yang kurang berguna, mending ditabung. Kadang kita lupa bahwa sanak saudara memberikan uang lebaran untuk anak-anak kita. Sudah sewajarnya jika sebagian uang itu benar-benar dinikmati. Apalagi momen lebaran itu seperti momen hangat setelah sebulan menahan diri. Wajar jika mereka ingin merayakan kemenangan dengan cara mereka.  Karenanya, aku menerapkan sistem budget pada anak-anakku. Misalnya, aku membawa mereka ke toko mainan dengan memegang uang sebesar 150 ribu rupiah. Mereka bebas memilih apa saja yang harganya sesuai. Bagaimanapun juga, toko mainan memang berisi barang untuk dimainkan. Kadang mereka meminta barang yang lebih spesifik, misal sepatu roda, sepeda, jam, atau lainnya. Intinya bagaimana agar anak-anak merasa memiliki otoritas untuk membelanjakan hak mereka tanpa bersikap hedon dan i...

Uang Lebaran

Gambar
Idul Fitri selalu menjadi momen menyenangkan bagi semua orang. Setelah berpuasa selama sebulan, hari terakhir ditutup dengan gema takbir. Esoknya berkumpul di tanah lapang untuk salat berjamaah, dan berlanjut silaturahmi ke rumah saudara dan kerabat. Hangat suasana idul fitri selalu menjadi memori indah bagi setiap orang sejak kanak-kanak, hingga dewasa dan memiliki anak. Suatu hal yang hampir selalu ada di setiap momen lebaran adalah THR atau uang lebaran. Tuan rumah biasanya membagikan uang untuk anak-anak yang datang berkunjung. Aku masih ingat rasanya, dahulu tiap lebaran, aku seperti cosplay menjadi orang kaya, menerima amplop dan nominal yang banyak bagi anak sekecil itu. Meskipun ujung-ujungnya uang itu bukan aku yang memakainya. Uang lebaranku hampir seluruhnya selalu kuserahkan ke Mama. Lucunya, aku tak merasa keberatan saat itu. Aku paham meski tak terlihat mata, uang itu pasti digunakan sebaik-baiknya untuk kebutuhanku di masa depan. Beda generasi, beda pula prinsip dan ca...

Anak-anak dan Algoritma

"Mah, tadi pas sholat si A sujud freestyle loh. Mama tahu? Dia sujud trus kakinya diangkat ke atas." Umar pulang dari solat tarawih membawa cerita yang menggebu-gebu. Aku bertanya apa yang terjadi setelahnya. Katanya, si A kemudian ditegur oleh salah satu jamaah salat dan langsung pulang. Aku jadi teringat beberapa hari yang lalu sempat lewat video serupa di FYP media sosialku. Sontak aku menasehati Umar, "lagi ngetren ya 'sujud freestyle' itu? jangan ikut-ikutan ya, Mar." "Iya, Mah. Aku pernah coba tapi pas lagi nggak salat," jawabnya. "Nggak papa kalau lagi nggak solat, asal hati-hati ya," pesanku. Aku mengakui bahwa mendidik anak di era digital ini, subhanallah, tantangannya luar biasa. Konten kreator mencari cara bagaimana agar bisa viral, anak-anak yang belum cukup umur mengakses internet tanpa batas, dan formula kombinasinya adalah orangtua membiarkan anaknya mengonsumsi segala hal di luar pengawasan. Jujur, aku pun kerap terjebak ...

Review: Meraih Hidup Bahagia

Gambar
Identitas Buku Judul buku: Meraih Hidup Bahagia Judul asli (jika ada): الوسائل المفيدة للحياة السعيدة Penulis: Abdurrahman Bin Nashir As-Sa'di Penerjemah: Abdullah Haidir Penerbit: www.rajhiawqaf.com  Al-Rajhi Endowment Tahun terbit: 2002 Jumlah halaman: 49 Genre / tema: Nonfiksi Ulasan Buku ini membahas tentang tips-tips ringkas untuk hidup lebih bahagia. Penulis merangkum 21 poin penting yang perlu diketahui seorang muslim agar bisa lebih tenang menjalani hidup dan jauh dari kegelisahan. Tentunya di sini penulis memberikan dalil-dalil syar'i yang shahih dan dapat dipertanggungjawabkan. Sekitar belasan tahun lalu, saya sudah pernah menyimak pembahasan buku ini (versi bahasa Arab) melalui kajian di sekolah. Membaca ulang buku versi terjemahan menjadi upaya memurojaah dan berharap mendapat insight tambahan yang mungkin terlupa atau terlewat. Salah satu gagasan penting dalam buku ini adalah bagaimana regulasi emosi dapat memengaruhi kesehatan mental seseorang. Sikap t...

Ringkasan: Tips Hidup Bahagia (3)

13. Pandai Bergaul Dalam berinteraksi dengan manusia, kita pasti menemui kekurangan orang lain, sebagaimana kita juga melihat kelebihannya. Dalam pergaulan, penting untuk lebih mengingat kebaikan seseorang daripada terus memusatkan perhatian pada kekurangannya. Dengan demikian, hubungan pertemanan dapat tetap terjalin dan komunikasi berjalan dengan baik. Rasulullah ﷺ bersabda: لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً، إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا خُلُقًا آخَرَ Artinya: “Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika ia tidak menyukai satu sifat darinya, maka ia akan ridha dengan sifatnya yang lain." HR. Muslim. 14. Tidak Tenggelam dalam Kesedihan Dasar kehidupan yang baik adalah hati yang tenang dan tenteram. Jika suatu saat ditimpa kesedihan, seorang muslim sebaiknya tidak larut terlalu lama dalam kegundahan, tetapi berusaha bangkit dan kembali menjalani kehidupannya dengan sabar dan berharap kepada Allah. 15. Membandingkan Kesulitan dan Kemudahan yang Didapat Jik...

Ringkasan: Tips Hidup Bahagia (2)

7. Melihat Orang yang Berada di Bawah, Bukan di Atas Ada sebuah hadis yang menjelaskan hikmah dari sikap ini. اُنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَلَّا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ “Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian (dalam urusan dunia), dan jangan melihat kepada orang yang berada di atas kalian. Hal itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepada kalian.” HR. Bukhari-Muslim  Seorang yang lebih banyak melihat ke "bawah" akan lebih mudah mensyukuri yang ia miliki dan terhindar dari rasa iri dan dengki.  8. Melupakan Penderitaan Masa Lalu yang Tidak Dapat Dihindari Manusia tidak memiliki kuasa untuk mengubah masa lalu. Karena itu, seorang muslim tidak perlu terus memusatkan pikirannya pada keburukan atau kegagalan yang telah terjadi. Yang perlu dilakukan adalah berikhtiar melakukan yang terbaik untuk masa depan, dan menyerahkan hasil akhirnya d...

Ringkasan: Tips Hidup Bahagia

Buku الوسائل المفيدة للحياة السعيدة karya Syaikh Abdur Rahman ibn Nasir al-Sa'di merupakan salah satu risalah ringkas yang membahas tentang kebahagiaan dalam kehidupan seorang hamba. Di dalamnya, penulis menyampaikan sejumlah nasihat dan tips yang sederhana namun sarat makna, yang dapat menjadi renungan bagi siapa saja yang menginginkan hati yang lebih tenang. Berikut adalah ringkasan poin 1-6 yang beliau tulis di buku.  1. Iman dan Amal Saleh Seseorang yang memiliki iman dan melakukan amal saleh akan lebih mudah mendapatkan kebahagiaan. Hal ini karena iman memberi arah dan nilai dalam hidupnya. Ketika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur dan mengisinya dengan amal saleh. Dengan begitu, kebaikan tersebut terus bertambah dan menjadi keberkahan baginya. Ketika menghadapi kesulitan, seorang mukmin bersabar. Ia tidak melakukan atau mengucapkan sesuatu kecuali yang diridhai Allah. Berbeda dengan orang yang tidak memiliki keimanan di dalam hatinya. Ketika senang, ia cenderung melakukan k...

Aku Tidak Sendirian

Gimana ya ..? Sebagai orang tua aku sering merasa beban mendidik anak itu sangat berat. Apalagi di masa kemajuan teknologi dan komunikasi seperti sekarang, ketika fitnah syahwat dan syubhat menyambar-nyambar hebat. Kadang aku lupa bahwa aku tidak memikul beban itu sendirian. Ada Allah yang menopangku. Allah yang memberikan hidayah dan taufik hingga aku bisa menjadi aku yang sekarang. Dia Maha Pengasih, Maha Memberi petunjuk kepada hamba yang Dia kehendaki. Aku sering lupa, bahwa anak bukan sepenuhnya milikku. Anak adalah milik-Nya. Hati mereka berada di antara dua jari Ar-Rahman, Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati. Jika dipikir-pikir, Allah telah menjaga anak-anak sejak mereka masih berupa embrio hingga menjadi manusia yang sempurna. Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya salah seorang di antara kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya selama empat puluh hari dalam bentuk nutfah, kemudian menjadi segumpal darah selama itu pula, kemudian menjadi segumpal daging selama itu...

Nomor Satu-ku

Gambar
Dari gadis - menikah - menjadi ibu, bagiku merupakan perubahan identitas yang mendadak. Seperti lonjakan level yang tiba-tiba. Begitu cepat sampai aku nyaris tak menyadarinya. Aku dulu yang hanya peduli pada diriku, titik. All the time, my self is my priority. Bahkan akun Instagram-ku bernama @justnimitta . Aku hanya memikirkan project, target, dan keinginanku hari ini dan esok. Kini berubah menjadi "apa yang suami dan anak-anakku...  hari ini dan esok". Aku yang dahulu tak pernah memikirkan akan hidup dan bersinergi dengan seorang pria, kini menikah. Menjadi teman diskusi, cerita, yang bahkan memberiku uang dengan sukarela, namun sangat kuhormati. Lucu juga ya jika dipikir-pikir, sahabat yang tadinya orang asing, namun kini begitu terikat. Sekarang selain dipanggil dengan namaku, aku juga dipanggil sebagai “istri”-nya suamiku. Aku yang dulu dipanggil hanya dengan namaku, kini ada tambahan “mamanya” anak-anakku. Ajaib, bukan? Sebelumnya bahkan tak pernah terlintas bahwa namak...

10 Pelajaran Tauhid dari Juz 30

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa seseorang mendengar orang lain membaca Qul huwallahu ahad berulang-ulang. Ketika pagi hari, ia datang kepada Rasulullah ﷺ dan menyebutkan hal itu, seakan-akan ia menganggap surat tersebut kecil (kurang istimewa). Maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh surat itu sebanding dengan sepertiga Al-Qur’an.” (HR. Bukhari-Muslim) Berangkat dari hadis ini, para ulama menjelaskan bahwa kandungan Al-Qur’an secara umum terbagi menjadi tiga bagian besar: tauhid , ahkam (hukum syariat) , dan kisah untuk diambil pelajaran . Pembagian ini bukan pembagian berdasarkan surat dan juz, melainkan pembagian berdasarkan tema besar yang mencakup keseluruhan isi Al-Qur’an. Dalam surat Al-Ikhlas sendiri, seluruh kandungannya berkenaan dengan tauhid: pengesaan Allah dan penetapan keagungan serta ketunggalan Dzat-Nya. Jika tauhid merupakan sepertiga kandungan Al-Qur’an, maka mempelajari tauhid berarti sedang ...

Romansa Buku

Gambar
Bagiku, buku itu punya romansa. Membawa kisah panjang. Kadang indah, kadang menyakitkan.  Aku pernah bertemu dengan sebuah buku saat dikenalkan teman. Saat mendengarnya begitu jatuh cinta pada sebuah buku, caranya bercerita membuatku penasaran dan ingin membacanya juga.  Kadang sebuah buku lewat di linimasa media sosial. Seseorang yang tak kukenal membahasanya. Entah memuji, mengkritik, kadang bercerita dengan penuh cinta. Kadang aku memandang buku murni dari sampulnya. Sangat memandang fisik. Sebuah buku bisa terlihat sangat menawan di tengah jajaran buku lainnya. Judul, warna, atau desainnya membuatku tertarik dan ingin mengenalnya lebih jauh.  Ada juga pertemuan yang tak terduga. Melihat orang membacanya di transportasi umum, tergeletak di meja rekan, atau di tumpukan buku lusuh yang akan diloakkan. Rasanya seperti kisah klasik dua mata yang beradu pandang tak sengaja di jalan.  Saat membaca, aku bisa merasa tertampar. Buku bisa sangat keras menegur dan menghakimi...

Review: 567 Fakta tentang MPASI – Meta Hanindita

Gambar
Identitas Buku Judul: 567 Fakta tentang MPASI Penulis: dr. Meta Hanindita, Sp.A(K) Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama Tahun terbit: 2019 Jumlah halaman: 160 halaman Genre: Nonfiksi / Kesehatan Anak Ulasan Buku ini membahas berbagai pertanyaan seputar MPASI (Makanan Pendamping ASI), mulai dari waktu yang tepat untuk memulai, komposisi gizi yang ideal, hingga kesalahan-kesalahan umum yang sering terjadi dalam praktik pemberian makan bayi. Disusun dalam format ringkas berupa ratusan fakta, buku ini terasa praktis sekaligus padat informasi. Sebagai orang tua, saya merasakan sendiri bagaimana fase MPASI sering kali dipenuhi kebingungan. Informasi begitu banyak beredar, tetapi tidak semuanya jelas sumbernya. Di sinilah buku ini terasa membantu. Dr. Meta menyampaikan penjelasan dengan sudut pandang medis dan berbasis evidence-based practice. Rekomendasi yang diberikan merujuk pada pedoman WHO dan jurnal ilmiah, sehingga pembaca tidak hanya menerima anjuran, tetapi juga memahami dasar ilmiahn...

Ramadhan di Rumahku

Gambar
Ramadhan buatku bukan hanya menahan lapar dan haus. Ia seperti madrasah yang buka setahun sekali. Di sinilah anak-anakku belajar menghormati, empati, dan menjalankan aturan Allah tanpa perlu merasa lebih tinggi dari orang lain. Semua dimulai dari rumah, dari hal-hal yang kelihatannya kecil. Di rumah ini, Romi belajar puasa setengah hari. Umar sudah memilih puasa full meski belum baligh. Jihan, sejak beberapa tahun sebelum baligh pun sudah terbiasa full, dan sekarang tentu sudah menjadi kewajiban baginya. Aku tidak menyamaratakan mereka. Karena aku percaya, ibadah itu berhubungan dengan kesiapan dan proses. Anak yang puasa setengah hari bukan berarti setengah taat. Ia sedang berlatih. Yang biasanya bebas makan dan minum, kini harus menunda dan bersabar. Harus menerima bahwa tidak semua keinginan bisa langsung dipenuhi. Ketika dzuhur tiba dan Romi berbuka, aku tidak menyebutnya gagal. Itu bagian dari latihannya. Aku juga tidak mengatakan "yey, kamu berhasil puasa setengah hari"...

Perlahan Menemukan (Kembali) Ritmeku

Gambar
Setiap menjalani peran tambahan dalam hidup, hampir semua orang akan mengalami gangguan pada ritme hariannya. Contohnya orang yang semula bekerja di rumah lalu harus ke kantor. Atau seseorang yang naik pangkat atau mendapat jobdesk baru. Bisa juga ketika ikut program baru, memulai membangun kebiasaan baik, atau pindah ke lingkungan yang asing. Semua itu ujian penyesuaian. Normal dan sering terjadi.  Aku pun merasakannya sebagai seorang ibu yang baru melahirkan bayi. Meski ini anak keempatku, tetap saja ada rasa yang berbeda. Sebab hadirnya satu anggota keluarga baru selalu mengubah banyak hal. Hamil besar, melahirkan, dan pemulihan pasca operasi sesar adalah rangkaian peristiwa yang membuat jadwal harianku harus disesuaikan dengan kondisi yang ada. Satu bulan berlalu setelah melahirkan, alhamdulillah perlahan ritme hidupku mulai lebih teratur. Berikut ini adalah cara-cara yang kulakukan dalam proses OTW mengembalikan ritmeku. Bukan ke ritme lama, tapi ritme yang membuatku nyaman....